
TRANSINDONESIA.co, KUDUS – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan rentetan bencana hidrometeorologi basah yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya di Jawa Barat dan Jawa Tengah, dalam periode 30-31 Maret 2026. Hujan deras yang disertai angin kencang mengakibatkan ratusan rumah warga rusak, fasilitas umum hancur, hingga memaksa sejumlah warga mengungsi akibat dampak cuaca ekstrem yang signifikan.
“Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghimpun kejadian bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia dalam periode Senin (30/3) hingga Selasa (31/3). Kejadian berdampak signifikan ini didominasi oleh bencana hidrometeorologi basah,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangannya, Selasa (31/3/2026).
Dampak paling parah dilaporkan terjadi di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, di mana 83 rumah rusak ringan dan 2 rumah rusak sedang tersebar di 18 desa di lima kecamatan.
Selain hunian, angin kencang merusak fasilitas pendidikan, tempat ibadah, hingga memutus jaringan listrik dan internet akibat 48 pohon tumbang. Sebanyak 4 jiwa terpaksa mengungsi ke rumah kerabat setelah tempat tinggal mereka terdampak badai tersebut.
“Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Klaten bersama relawan segera turun ke lapangan untuk melakukan asesmen dan pendataan rumah rusak serta kerugian lain yang ditimbulkan bencana angin kencang tersebut,” jelas pernyataan resmi BNPB.
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Kudus, di mana dua unit rumah mengalami rusak berat dan satu warga dilaporkan terluka. BPBD setempat masih terus melakukan pendataan terhadap sekitar 395 unit rumah lainnya yang terdampak di empat desa.
Di Jawa Barat, Kota Tasikmalaya juga mencatat sembilan rumah terdampak di tiga kecamatan, sementara di Kabupaten Wonosobo enam rumah dan sebuah ruko mengalami kerusakan akibat hantaman angin kencang.
“Hingga saat ini, penanganan darurat terus dilakukan tim gabungan. Sebelumnya, Bupati Kudus telah menetapkan Surat Keputusan Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi yang berlaku hingga 31 Mei 2026,” tambah Abdul Muhari.
Berdasarkan prakiraan BMKG, potensi hujan lebat hingga sangat lebat masih mengancam wilayah Sumatera Barat, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Papua hingga 2 April 2026.
Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki masa pancaroba atau peralihan musim yang ditandai dengan perubahan cuaca ekstrem yang cepat, seperti hujan tiba-tiba disertai angin kencang yang berpotensi merobohkan struktur bangunan rapuh maupun pohon.
“BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan. Apabila terjadi hujan intensitas tinggi dengan durasi lama, masyarakat diminta melakukan evakuasi mandiri dan menjauhi pohon atau papan reklame yang berpotensi tumbang,” pungkas Abdul Muhari. [nag]







