Skip to content
7 Oktober 2026
  • TRANSMARITIM
  • Trans Tekno
  • TRANSSPORT
cropped-trans_logo-e1607181917765-1.png

Indonesia Berdakwah

Primary Menu
  • Trans Dakwah
  • Trans Metropolitan
  • Trans Polhukam
  • Trans Dunia
  • Trans Bisnis
  • Trans Sports
  • Trans Tekno
  • Trans Maritim
  • Trans Sumatera
  • Trans Jawa
  • Trans Bali
  • Trans Nusa
  • Trans Kalimantan
  • Trans Sulawesi
  • Trans Maluku
  • Trans Papua
Light/Dark Button
  • Home
  • 2026
  • Agustus
  • 27
  • Indonesia Prioritaskan Pelindungan Pekerja Migran ASEAN Saat Krisis

Indonesia Prioritaskan Pelindungan Pekerja Migran ASEAN Saat Krisis

transindonesia.co 27 Agustus 2026 3 minutes read
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli pafa Pertemuan Menteri Tenaga Kerja ASEAN (ALMM) ke-29 di Bangkok, Thailand.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli pafa Pertemuan Menteri Tenaga Kerja ASEAN (ALMM) ke-29 di Bangkok, Thailand, Rabu (26/8/2026). Transindonesia.co / Kemnaker

TRANSINDONESIA.co, JAKARTA — Indonesia menekankan tiga prioritas untuk memastikan pekerja migran dan keluarganya tetap memperoleh pelindungan ketika krisis terjadi di kawasan ASEAN. Ketiga prioritas itu mencakup kesiapan menghadapi keadaan darurat, koordinasi lintas sektor, serta pemulihan dan reintegrasi setelah pekerja kembali ke negara asal.

“Prioritas saat ini adalah memastikan bahwa kerangka kerja yang telah kami kembangkan dapat memberikan pelindungan nyata ketika krisis benar-benar terjadi,” kata Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dalam Pertemuan Menteri Tenaga Kerja ASEAN (ALMM) ke-29 di Bangkok, Thailand, Rabu (26/8/2026).

Menurut Yassierli, keadaan darurat kesehatan masyarakat, bencana alam, konflik, maupun gangguan lainnya menunjukkan pentingnya kesiapan pelindungan pekerja migran. Kerangka kerja yang sudah dibangun tidak cukup hanya tersedia, tetapi juga harus bisa dijalankan secara cepat dan efektif ketika keadaan darurat terjadi.

Untuk itu, Indonesia melihat ada tiga hal yang perlu diperkuat bersama negara-negara ASEAN. Pertama, membangun sistem pelindungan yang siap dijalankan sejak krisis muncul. Komitmen dalam Program Kerja Menteri Tenaga Kerja ASEAN 2026–2030 serta agenda Komite Pekerja Migran ASEAN perlu diwujudkan dalam mekanisme yang bisa langsung digunakan ketika pekerja migran berada dalam risiko.

“ASEAN harus mampu bertindak sejak dini, dengan cepat, dan secara kolektif ketika pekerja migran berada dalam risiko,” ujar Yassierli.

Kesiapan itu mencakup saluran koordinasi yang jelas, kerja sama konsuler, serta pertukaran informasi secara tepat waktu. Dengan mekanisme yang terhubung, negara-negara ASEAN dapat mengambil langkah lebih cepat dan terarah untuk menjaga keselamatan pekerja migran dalam keadaan darurat.

Kedua, memperkuat koordinasi lintas sektor. Penanganan krisis tidak bisa dilakukan oleh satu bidang saja karena dampaknya dapat berkaitan dengan urusan luar negeri, imigrasi, penanggulangan bencana, kesehatan masyarakat, kesejahteraan sosial, keamanan, hingga bantuan kemanusiaan.

Karena itu, Indonesia melihat perlunya kerja sama yang lebih erat dengan badan-badan sektoral ASEAN yang terkait, antara lain Komite ASEAN untuk Penanggulangan Bencana, Pertemuan Direktur Jenderal Imigrasi ASEAN, serta mekanisme lain yang menangani keadaan darurat. Langkah ini diharapkan membuat respons terhadap krisis lebih terpadu sebelum, selama, dan setelah keadaan darurat.

Ketiga, memastikan pelindungan berlanjut hingga pekerja migran kembali ke negara asal dan dapat menjalani kehidupan secara mandiri. Pekerja yang pulang dari wilayah terdampak krisis dapat menghadapi berbagai persoalan, termasuk kehilangan mata pencaharian dan kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga.

Dalam konteks Indonesia, upaya tersebut antara lain dilakukan melalui Satuan Tugas Pemantauan Krisis Geopolitik untuk mendukung respons tepat waktu, termasuk evakuasi dan repatriasi ketika terjadi keadaan darurat berskala besar. Indonesia juga bekerja sama dengan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dalam mengembangkan kerangka strategis reintegrasi pekerja migran Indonesia untuk mendukung keberlanjutan mata pencaharian mereka.

“Karena itu, kerja sama ASEAN perlu mencakup pelindungan darurat, kepulangan yang aman, pemulihan, rehabilitasi, dan reintegrasi berkelanjutan,” pungkas Yassierli. [sda]

About the Author

transindonesia.co

Administrator

transindonesia, berita indonesia, indonesia aktual, nusantara, metropolitan

Visit Website View All Posts

Post navigation

Previous: Bawa Tuntutan Hukuman Mati Koruptor, Aliansi Warga Pati Kepung DPR
Next: Buka Muktamar ke-35 NU, Prabowo Puji Peran Bersejarah Nahdlatul Ulama

Trans Stories

Medsos

Kuota Internet Hangus, Komisi I DPR Minta Pemerintah Investigasi Provider Bandel

transindonesia.co 2 Oktober 2026
Logo BPS

BPS Catat Ekspor RI Naik 4,74 Persen per Agustus 2026, Nikel dan Aluminium Melonjak

transindonesia.co 1 Oktober 2026
Harga cabai makin pedas

Harga Cabai Makin Pedas, Pemicu Utama Inflasi Indonesia September 2026

transindonesia.co 1 Oktober 2026

TransIndonesia

demonstrasi pelajar Prancis

250 Ribu Siswa-Guru Demo di Prancis, Polisi Tembakan Gas Air Mata

transindonesia.co 7 Oktober 2026
longsor tambang Pekalongan

Dua Penambang Meninggal Akibat Longsor Pekalongan, Karhutla Melanda Sejumlah Daerah

transindonesia.co 7 Oktober 2026
Satu Merah Putih, Satu Indonesia: Belajar dari Sumpah Pemuda dan Suporter Timnas untuk Merajut Kambali Persatuan Bangsa

Satu Merah Putih, Satu Indonesia: Belajar dari Sumpah Pemuda dan Suporter Timnas untuk Merajut Kambali Persatuan Bangsa

transindonesia.co 7 Oktober 2026
World Space Week 2026

Lebih dari Fiksi Ilmiah, Inilah Wajah Baru Teknologi Antariksa Masa Kini

transindonesia.co 7 Oktober 2026
  • Tentang Kami
  • Pedoman Siber
  • Disclaimer
  • TRANSMARITIM
  • Trans Tekno
  • TRANSSPORT
Copyright © 2026 All right Transindonesia.co | ReviewNews by AF themes.