Anggota Komisi I DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Syahrir, SE, M.I.Pol. Transindonesia.co / Ist
TRANSINDONESIA.co, BANDUNG – Anggota Komisi I DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Syahrir, SE, M.I.Pol, mendesak aparat penegak hukum dan pemerintah daerah untuk menyapu bersih aksi premanisme dan peredaran minuman keras (miras) ilegal di masyarakat. Desakan ini merupakan respons atas tragedi pengeroyokan maut terhadap Dadang (57) oleh oknum preman saat korban menggelar pesta pernikahan putrinya di Desa Kertamukti, Kabupaten Purwakarta, pada Sabtu (4/4/2026).
“Kehadiran negara adalah kepolisian dan pemerintah daerah harus memberikan standar pengamanan untuk melindungi hajatan warganya. Bentuk pengamanan tersebut perlu dilakukan secara teknis dan substantif untuk mencegah aksi premanisme,” kata Syahrir dalam keterangannya, Selasa (7/4/2026).
Anggota Komisi I yang membidangi soal kemanan, kenyamanan dan ketertiban masyarakat Jabar, Syahrir menilai peristiwa memilukan tersebut harus menjadi perhatian khusus, di mana peran Bhabinkamtibmas dan Satpol PP harus lebih aktif dalam mengawal kegiatan warga.
Syharir menyoroti keberadaan miras ilegal yang hampir selalu menjadi pemicu utama kekerasan dan gangguan ketertiban umum pada acara-acara hajatan di lingkungan warga.
“Hampir setiap kasus premanisme dan kekerasan di hajatan warga melibatkan miras. Padahal, peredarannya sudah diatur ketat dan tidak boleh dijual sembarangan. Nyatanya, sampai kini masih banyak dijual dan dikonsumsi masyarakat,” ungkapnya.
Syahrir memperingatkan bahwa pembiaran terhadap praktik premanisme seperti ini akan merusak stabilitas sosial dan ekonomi daerah.
“Jika tidak ditindak tegas, premanisme akan tumbuh subur di lingkungan masyarakat dan mengganggu ketertiban, bahkan merusak iklim investasi di daerah. Ini akan merugikan semua pihak,” tegas Syahrir.
Lebih lanjut Syahrir mengutuk dan mengecam tindakan premanisme tersebut dapat dihukum seberat-beratnya karena sudah melakukan tindakan tidak berperikemanusiaan.
“Hukuman 7 tahun dirasakan kurang adil untuk keluarga korban. Saya merekomendasikan kepada Kapolres Purwakarta dan Kejaksaan Purwakarta menghukum seberat-beratnya atau seumur hidup. Untuk pelaku dapat mempelajari arti kehidupan dan berprikemanusiaan,” ucap Syahrir.
Polisi Ringkus Pelaku
Tim gabungan Satreskrim Polres Purwakarta bersama Jatanras Polda Jabar berhasil dua pelaku, salah satunya pelaku utama berinisial YI (36) di wilayah Subang pada Senin (6/4/2026). Pelaku sempat melawan saat ditangkap tersebut merupakan residivis kasus pencurian yang beraksi di bawah pengaruh alkohol.
“Kami berhasil mengamankan pelaku utama yang melakukan pemukulan terhadap korban hingga meninggal dunia. Karena melakukan perlawanan, kami terpaksa melakukan tindakan tegas terukur,” ujar Kapolres Purwakarta, AKBP I Dewa Putu Gede Anom Danujaya, saat konferensi pers di Mapolres Purwakarta, Selasa (7/4/2026).
Berdasarkan kronologi kepolisian, pelaku mendatangi acara pernikahan tersebut dalam kondisi mabuk dan memalak uang Rp500 ribu kepada tuan rumah untuk membeli miras.
Karena permintaannya tidak dituruti sepenuhnya, pelaku mengamuk dan menganiaya korban menggunakan bambu hingga tewas.
Selain YI, polisi turut mengamankan seorang terduga lain berinisial K (35) yang diduga terlibat dalam penganiayaan terhadap korban lainnya dan kini masih dalam pemeriksaan. Atas perbuatannya, tersangka dijerat pasal penganiayaan yang mengakibatkan kematian dengan ancaman hukuman hingga tujuh tahun penjara.
“Pelaku dijerat Pasal 466 Ayat (1) JO Pasal 466 Ayat (3) KUHPIDANA dengan ancaman tujuh tahun penjara,” jelas Kapolres. [arh]







