Banjir merendam tiga desa di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Senin (25/5/2026). Transindonesia.co / BPBD Parigi Moutong
PARINGI MOUTONG, TRANSINDONESIA.co – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir dan tanah longsor, masih mendominasi kejadian bencana di sejumlah wilayah Indonesia selama periode 25–26 Mei 2026. Selain cuaca ekstrem, aktivitas geologi berupa gempabumi berkekuatan di atas magnitudo 5,0 juga mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan Papua Barat, disusul insiden kebakaran lahan di Aceh.
“Bencana hidrometeorologi basah masih mendominasi kejadian bencana di Indonesia hingga pekan terakhir Mei 2026. BNPB mengimbau pemerintah daerah dan juga masyarakat untuk tetap waspada dan siaga terhadap ancaman bahaya bencana ini,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangannya diterima redaksi, Rabu (27/6/2026).
Di Pulau Jawa, cuaca ekstrem memicu banjir dan longsor di Kabupaten Lebak (Banten) dan Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat). Di Lebak, sebanyak 13 desa di 5 kecamatan terendam banjir setinggi 30 hingga 50 cm serta tertutup akses jalannya akibat longsor sejak Minggu (24/5) sore. Sementara di Sukabumi, tercatat 14 desa di 8 kecamatan terdampak, menyebabkan puluhan rumah warga, fasilitas kesehatan, sekolah, dan belasan akses jalan mengalami kerusakan.
“BPBD Kabupaten Lebak bersama Dinas PU dan warga setempat bergotong-royong menurunkan alat berat untuk membuka akses jalan yang tertutup material longsoran. Sementara di Sukabumi, penanganan saat ini diutamakan pada perbaikan tembok penahan tanah dengan kebutuhan mendesak berupa material bangunan, terpal, bronjong, karung, dan alat kebersihan,” jelas Abdul Muhari.
Sementara itu di luar Pulau Jawa, banjir akibat luapan sungai melanda 3 desa di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada Senin (25/5) sore, yang merendam 30 rumah serta area persawahan warga. Di wilayah barat Indonesia, kebakaran lahan seluas satu hektar sempat menghanguskan kawasan di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, sebelum akhirnya berhasil dipadamkan oleh armada pemadam kebakaran setempat.
“Hingga Senin malam, BPBD Kabupaten Parigi Moutong melaporkan banjir di sana belum surut karena hujan masih terus berlangsung di lapangan. Sedangkan untuk kebakaran lahan di Aceh, penyebab pastinya hingga kini masih dalam proses penyelidikan,” tambahnya.
Selain bencana berbasis cuaca, sektor geologi mencatat dua peristiwa gempa bumi signifikan di laut yang dirasakan cukup kuat oleh warga. Gempa pertama berkekuatan M 5,7 mengguncang Kota Bitung, Sulawesi Utara pada Selasa (26/5) dini hari, disusul gempa M 5,1 yang mengguncang Kabupaten Kaimana, Papua Barat beberapa jam setelahnya.
“Kedua gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Hingga Selasa pagi pukul 07.00 WIB, situasi di lapangan terpantau tetap kondusif dan tidak ada laporan mengenai dampak kerusakan maupun korban jiwa akibat kejadian tersebut,” ungkapnya.
Menghadapi potensi cuaca ke depan, BNPB mengingatkan adanya masa transisi cuaca yang bervariasi di berbagai wilayah Indonesia. Selama sepekan ke depan, hujan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi mulai dari Pulau Sumatra hingga Papua, namun di sisi lain, beberapa wilayah siap memasuki musim kemarau pada bulan Juni.
“Memasuki bulan Juni, sebagian wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau yang dapat memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Oleh karena itu, kesiapsiagaan harus ditingkatkan karena ancaman bahaya faktor hidrometeorologi basah maupun kering, serta ancaman geologi berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia,” pungkas Abdul Muhari. [met]





