Lokasi terdampak pasang dan abrasi yang terjadi di Desa Aruan Gaur, Kecamatan Siritaun Wida Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku, Senin (25/5/2026). Transindonesia.co / BPBD Provinsi Maluku
TRANSINDONESIA.co, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum perkembangan signifikan terkait penanganan rangkaian bencana hidrometeorologi, berupa banjir, tanah longsor, serta gelombang pasang yang melanda wilayah Kabupaten Sinjai (Sulawesi Selatan) dan Kabupaten Seram Bagian Timur (Maluku) dalam periode pantauan Kamis (4/6/2026) hingga Jumat (5/6/2026) pukul 07.00 WIB.
“Kami terus mengompilasi laporan dampak bencana dari lapangan untuk memastikan akselerasi dukungan logistik dan percepatan penanganan darurat oleh petugas gabungan berjalan optimal di wilayah-wilayah terdampak,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Jumat (5/6/2026).
Di Kabupaten Sinjai, cuaca ekstrem berupa hujan intensitas sedang hingga lebat yang terjadi sejak Rabu (3/6) memicu bencana banjir besar yang menggenangi tiga kecamatan, yakni Sinjai Timur, Sinjai Utara, dan Tellu Limpoe. Selain banjir, kondisi tanah yang labil di wilayah tersebut juga mengakibatkan bencana tanah longsor yang tersebar masif di sejumlah desa dan kelurahan pada lima kecamatan setempat.
“Respons cepat langsung dilakukan oleh BPBD Kabupaten Sinjai berkolaborasi dengan pemerintah daerah, Polsek, dan Babinsa yang langsung turun ke lokasi untuk pemantauan, pendataan, pembersihan material tanah, serta pendistribusian bantuan makanan,” jelas pihak penanganan darurat dalam keterangan resminya.
Dampak kerusakan di Sinjai tercatat cukup luas, meliputi 21 rumah warga, 60 hektar sawah, 11 ruas jalan, enam unit kantor, serta sejumlah fasilitas pendidikan dan umum. Meskipun ketebalan banjir dilaporkan telah surut pada Kamis (4/6) dan tidak ada korban jiwa, akses penghubung antara Desa Sukamaju dan Erabaru masih terputus total. Selain itu, perbaikan jaringan pipa PDAM di Dusun Waetuo yang patah akibat longsor hingga kini masih terus diupayakan guna memulihkan pasokan air bersih warga.
“Beberapa warga yang tempat tinggalnya terdampak langsung terpaksa mengungsi ke rumah kerabat terdekat demi keamanan, sementara pembersihan material longsor jalan terus dilakukan agar kendaraan bisa melintas dengan normal,” lanjut laporan perkembangan penanganan tersebut.
Sementara itu di Provinsi Maluku, gelombang pasang hebat disertai abrasi dilaporkan merusak talud penahan ombak sepanjang 110 meter di Desa Aruan Gaur, Kecamatan Siritaun Wida Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur. Akibat hancurnya infrastruktur pelindung pantai ini sejak Senin (25/5), gelombang air laut secara konstan menghantam dinding pemukiman pesisir dan merusak setidaknya 19 rumah warga, yang dihuni oleh 17 Kepala Keluarga (67 jiwa).
“Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Seram Bagian Timur sudah berada di lokasi melakukan kaji cepat. Karena fenomena gelombang pasang ini masih fluktuatif terjadi hingga Kamis (4/6/2026), warga secara mandiri bahu-bahu membangun penahan ombak darurat,” sebut data mutakhir tim TRC.
Merespons dinamika cuaca yang tidak menentu, BNPB secara tegas meminta seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan penuh menghadapi potensi cuaca ekstrem di masa peralihan musim (pancaroba). Warga di kawasan bantaran sungai disarankan memantau debit air secara berkala, sedangkan penduduk di wilayah lereng perbukitan wajib peka mengenali tanda-tanda awal tanah longsor, seperti kemunculan retakan tanah, tebing rapuh, air sumur yang mendadak keruh, hingga suara gemuruh.
“Kami meminta masyarakat untuk menyiapkan tas siaga bencana dan selalu memantau perkembangan informasi cuaca maupun kebencanaan hanya melalui kanal-kanal digital resmi milik lembaga tepercaya seperti BNPB, BPBD, dan BMKG,” pungkas Abdul Muhari dalam imbauan penutupnya. [sda]






