Upaya pemadaman api dan pendinginan dilakukan oleh BPBD Kabupaten Cilacap bersama petugas gabungan di TPA Desa Malabar, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (4/8/2026). Transindonesia.co / BPBD Kabupaten Cilacap.
TRANSINDONESIA.co, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum perkembangan situasi darurat akibat bencana hidrometeorologi, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta KLB penyakit di berbagai wilayah Indonesia sepanjang Selasa (4/8/2026) hingga Rabu (5/8/2026).
“BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di wilayah masing-masing, serta tidak membakar sampah atau lahan sembarangan,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (5/8/2026).
Rangkaian bencana ini didominasi oleh karhutla yang meluas di sejumlah daerah seperti Gunung Soputan di Minahasa Tenggara seluas 300 hektare, kawasan Gunung Bromo di Probolinggo seluas 10 hektare, serta beberapa titik di Kalimantan Timur dan Jawa Tengah.
“BPBD Kabupaten Minahasa Tenggara bersama unsur gabungan terus melakukan pemadaman serta asesmen di lokasi kejadian, mengingat luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 300 hektare,” jelas Abdul Muhari.
Selain karhutla, cuaca ekstrem berupa angin kencang dan banjir juga meluas di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, yang mengakibatkan kerusakan rumah hingga satu korban jiwa tertimpa pohon kelapa di Nias Barat.
“BPBD Kabupaten Nias Barat melakukan koordinasi dan pemantauan di lokasi terdampak, di mana satu warga dilaporkan meninggal dunia setelah tertimpa pohon kelapa akibat cuaca ekstrem,” terang Abdul Muhari.
Di sisi lain, kekeringan akibat musim kemarau turut memicu krisis air bersih bagi ribuan warga di Jawa Tengah, yang direspons cepat oleh pemerintah daerah melalui distribusi belasan ribu liter air bersih.
“Hingga Selasa, BPBD Kabupaten Semarang bersama Dinas Sosial telah mendistribusikan air bersih sebanyak 15.000 liter di Desa Kemitir, Kecamatan Sumowono, untuk mengatasi krisis air bersih,” tambah Muhari.
Tidak hanya bencana alam, sektor kesehatan juga mencatat eskalasi status darurat di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat lonjakan kasus DBD.
“Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah menetapkan status KLB DBD menyusul total 454 kasus dan 5 orang meninggal dunia sejak Januari hingga Juli 2026,” ujar Abdul Muhari. [man]




