
TRANSINDONESIA.CO – Jimat siji sing dirumat. Kata jimat ini sering diartikan sebagai pusaka untuk memberikan perlindungan dan pengayoman di saat bahaya atau situasi yang genting. Jimat juga bagian dari sifat kandel atau sifat percaya diri untuk menghadapi sesuatu ujian sampai dengan peperangan.
Jimat bisa juga dimaknai sebagai heritage atau karya leluhur, karya para maestro, karya orang orang ternama atau juga para pahlawan kusuma bangsa yang dijadikan ikon atau simbol regenerasi atau kebersinambungan perjuangan di masa sekarang maupun masa akan datang.
Kekuatan spiritual para pendahulu para maestro, para pahlawan atau para leluhur menjadikan motivasi bagi generasi muda untuk menumbuhkembangkan. Memilki religius dari para orang suci atau guru yang telah mendidik kita, inipun dapat menjadi daya penyemangat. Pengingat sebagai kenangan atas perjuangan dan perjalanan panjang di masa lalu. Kekuatan secara spiritual ini sangat luar biasa walaupun secara fisik nampaknya biasa biasa saja.
Sesuatu yang kita jadikan jimat sebenarnya bukan mistis atau tahayul yang ditonjolkan melainkan nilai nilai tak benda atau untangible yang digunakan. Spirit yang dimiliki para leluhur akan menjadi pendorong dan pengingat untuk tetap on the track. Inipun bisa juga dibilang nguri uri atau menjaga dan melestarikan warisan budaya leluluhur senior atau orang orang yang kita hormati.
Dalam hal seni budaya memiliki benda benda yang pernah digunakan semasa hidupnya atau melihat karya karyanya atau mempelajari proses berkaryanya dari para maestro pun akan menjadi inspirasi dan kekuatan tersendiri. Program belajar bersama maestro atau program ngalap berkah dari para tokoh akan menjadi spirit napak tilas agar tetap terjaga semangat dan spirit luhur para pendahulu.**
[Chryshnanda Dwilaksana]







