Aksi demo warga Rembang meminta dihentikannya pendirian pabrik Semen Indonesia.[IST]
TRANSINDONESIA.CO – Sumarmiatun,48 tahun, perempuan petani Rembang yang menyemen kedua kakinya di depan Istana Presiden mengaku sudah tidak percaya lagi dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.
Ibu dengan dua cucu itu menjelaskan, ikut menyemen kakinya, karena warga sudah tidak bisa lagi percaya kepada gubernur mereka,
“Kan sudah jelas Mahkamah Agung putusannya bagaimana, presiden perintahnya bagaimana, tapi gubernur kok bikin izin baru,” kata dia, di sela istirahat di tempat penampungannya di Gedung YLBHI, Jakarta.
Sumarmiantun pun mengaku bertekad akan terus melakukan aksinya sampai mendapat kepastian bahwa izin baru pabrik semen itu dibatalkan. Sebab, rumah dan tanahnya, tak lebih dari satu kilometer jauhnya dari lokasi pabrik yang sekarang sudah berdiri.

“Airnya nanti bagaimana, terus debunya, udaranya bagaimana kalau pabrik sudah jalan. Bagaimana anak saya, cucu saya nanti? Kami tidak mau jadi pegawai pabrik semen, kami mau jadi petani,” katanya.
Hal yang sama pun diungkapkan Joko Prianto, salah seorang pemuka masyarakat Kendeng. Menurutnya, ia yang mewakili 110 warganya, tidak bisa mencari hidup jika tidak bertani. “Kami tidak bisa hidup tidak dengan bertani, dan pabrik semen mengancam hidup kami,” katanya.
Masyarakat Kendeng, menurutnya, sudah sangat gembira pernyataan Presiden Joko Widodo saat menerima mereka beberapa waktu lalu, yang disusul dengan putusan MA yang berpihak pada mereka.
“Tapi izin baru dari gubernur membuat kami bingung dan merasa terancam. Karenanya kami datang lagi, kali ini dengan 110 warga dari Kudus, Rembang, dan Pati,” katanya.]BBC]





