Ilustrasi AI.
TRANSINDONESIA.co, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi tahunan pada Mei 2026. Secara bulanan (month-to-month/mtm), Indonesia mencatatkan inflasi sebesar 0,28 persen, yang didorong oleh kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026.
“Secara kumulatif, inflasi tahun kalender (y-to-d) hingga Mei 2026 tercatat sebesar 1,35 persen, sedangkan inflasi tahunan mencapai 3,08 persen (y-on-y),” terang Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini saat konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Secara tahunan (y-on-y), laju inflasi Mei 2026 yang berada di angka 3,08 persen ini terpantau lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama pada Mei 2025 yang hanya sebesar 1,60 persen.
Dari segi wilayah, Papua Barat menjadi provinsi dengan inflasi tahunan tertinggi sebesar 5,94 persen, sementara Lampung mencatatkan inflasi terendah sebesar 1,94 persen.
“Inflasi tertinggi (secara bulanan) terjadi di Provinsi Maluku sebesar 0,93 persen, sementara deflasi terdalam terjadi di Provinsi Gorontalo sebesar 0,96 persen,” tambah Pudji.
Dilihat dari kelompok pengeluaran, pendorong utama inflasi tahunan ini adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil 1,43 persen dengan tingkat inflasi 4,94 persen. Komoditas utama yang mendorong kelompok ini meliputi ikan segar, beras, daging ayam ras, minyak goreng, cabai rawit, Sigaret Kretek Mesin (SKM), dan cabai merah.
“Diikuti oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang memberikan andil inflasi 0,70 persen dengan tingkat inflasi mencapai 10,35 persen,” ungkap Pudji.
Untuk kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya tersebut, komoditas emas perhiasan menjadi pemicu utama.
Berdasarkan komponennya, secara tahunan seluruh komponen mengalami inflasi dengan komponen inti memberikan andil terbesar yakni 1,66 persen dan tingkat inflasi 2,59 persen, yang disusul oleh komponen harga bergejolak dengan andil 1,02 persen dan tingkat inflasi 6,24 persen.
“Berdasarkan komponen, secara tahunan seluruh komponen mengalami inflasi. Komponen inti memberikan andil inflasi sebesar 1,66 persen dengan tingkat inflasi 2,59 persen,” kata Pudji, sembari menambahkan bahwa komoditas dominan pada komponen inti adalah emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, biaya kuliah, sewa rumah, hingga mobil.
Sementara itu, untuk inflasi bulanan (Mei 2026), kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penyumbang utama dengan andil 0,12 persen dan tingkat inflasi 0,39 persen. Kelompok transportasi mengekor di belakangnya dengan andil inflasi 0,07 persen dan tingkat inflasi 0,61 persen.
“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau antara lain cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan beras. Cabai merah memberikan andil inflasi terbesar sebesar 0,08 persen,” ujar Pudji.
Lebih lanjut, minyak goreng dan bawang merah masing-masing memberi andil bulanan 0,04 persen, sedangkan tomat dan beras menyumbang 0,03 persen dan 0,02 persen. Di sektor transportasi, bensin dan tarif angkutan udara menjadi komoditas paling dominan dengan andil masing-masing sebesar 0,02 persen.
“BPS turut mencatat sejumlah komoditas yang menjadi peredam inflasi, seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang putih,” lanjut Pudji.
Secara bulanan, komponen inti menyumbang andil tertinggi sebesar 0,14 persen (inflasi 0,22 persen) didorong oleh minyak goreng, ponsel, laptop, oli mesin, dan nasi lauk.
Di sisi lain, komponen harga yang diatur pemerintah memberikan andil bulanan sebesar 0,10 persen (inflasi 0,52 persen) karena kenaikan harga bahan bakar rumah tangga, bensin, tarif angkutan udara, SKM, dan solar. Sementara untuk komponen harga bergejolak, komoditas dominannya adalah cabai merah, bawang merah, tomat, beras, dan sawi hijau. [met]






