Ilustrasi
TRANSINDONESIA.CO – Sumber-sumber daya merupakan suatu energi yang dikuasai atau didominasi oleh pemerintah, swasta (company maupun pribadi danindividu).
Sumber daya akan menjadi ajang perebutan penguasaan dan pengelolaannya semestinya secara profesional dan modern.
Namun, pada kenyataanya dikelola ala mafia atau ala preman. Premanisme menjadi model pilihan untuk penguasaan dan pengelolaan sumber daya karena dapat dikuasai secara dominan dan dominasi, sulit di audit, sulit pertanggung jawabannya, tidak transparan, hasilnya bagi pribadi maupun kroninya lebih jelas.
Sumber daya merupakan energi untuk mendukung/menggerakan /menjalankan sesuatu, yang menjadi idaman dan bagai gula yang akan terus dikerubuti semut. Sumber daya akan diperebutkan dan dikuasai baik secara normatif maupun dengan cara-cara pintas yang mengabaikan legal formal.

Tatkala pada cara-cara yang tidak fair terus menerus menjadi bagian dari kekuasaan dan penguasaan sumber daya maka munculah pola dan gaya pendominasian dan adu kekuatan.
Dalam proses adu kekuatan dan pendominasian ini akan memunculkan siapa yang paling kuat, yang paling dominan dan mendominasi akan menjadi patron dan memiliki klien-klien yang menumpang hidup dan sebagai penyangga.
Penguasaan model patron klien akan terus mengembang menjadikan kebiasaan-kebiasaan ambil jalan pintas, bayar dimuka, saling share keuntungan, mark up, laporan fiktif akan menjadi hal biasa, serta penuh seremonial, supervial yang penuh dengan kepura-puraan dan tipu daya.
Gaya preman dan mafia ini akan menjadi pola dan model penguasaan sumber daya secara tidak fair dan adu kekuatan yang terus menerus akan melahirkan dan memincu konflik yang tiada berkesudahan.[CD04102016]
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana






