Eka Agus Setiawan.[IST]
TRANSINDONESIA.CO – Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di Banten tinggal beberapa bulan lagi. Akan tetapi, kegaduhannya sudah terasa dan makin menghangat belakangan ini. Tidak saja di level provinsi, di kabupaten atau kota juga sudah terlihat pergerakan politik yang mengarah pada persiapan menyongsong pesta demokrasi itu.
Menyimak konsep yang ditawarkan para elite Banten hari ini, baik para bakal calon gubernur atau wakil gubernur, semuanya masih terkesan menjual mimpi, yang mungkin hanya manis di bibir dan pahit dalam kenyataan yang haqiqi.
Kita melihat penyakit lama masih saja mereka jalankan dalam membangun komunikasi politik. Rakyat kembali disuguhi janji-janji dengan aroma angina surga yang menyejukkan. Padahal, kita semua tahu, janji-janji tersebut hanya retorika politik yang kebanyakan tidak mungkin mampu dipenuhi saat mereka terpilih nanti.
![Eka Agus Setiawan.[IST]](https://transindonesia.co/wp-content/uploads/2016/09/Eka-Agus-Setiawan.jpg)
Kita lihat hari ini, kebanyakan rakyat tetap hidup susah di negeri yang melimpah ruah akan kekayaan nya kaya sumber alam ini. Hanya segelintir orang di lingkaran kekuasaan yang bisa menikmati hasil kekayaan alam tersebut.
Sementara sebagian besar penduduk lainnya, bahkan tak tercukupi kebutuhan sandang pangan walau sudah berupaya dengan susah payah.
Fenomena tersebut tentu buah dari kegagalan para pemimpin Banten selama ini. Umumnya, tujuan mereka maju sebagai calon kepala daerah hanya ingin berkuasa. Soal mampu atau tidak mengurus daerah ini dengan baik, itu soal belakangan.
Mereka berlomba-lomba menjadi penguasa karena menganggap negara ini mampu memberi jaminan hidup dan kebanggaan. Tapi mereka seringkali lupa berapa besar hutang negara atas pembiayaan bagi pengelola negara ini. Dan sakitnya, ketika hutang negara membesar, hanya dibebankan kepada kita, rakyat kecil di negeri yang besar ini.
Inilah negeri kita. Kerja segala sektor selalu amburadul dan sekenanya, mulai pemimpin hingga rakyat jelata. Sementara kehidupan materialistis selalu jadi dambaan, bahkan mengalahkan dambaan kepada tuhan. Kemunafikan telah begitu merajalela di negeri yang konon memegang kuat kaidah hukum (keadilan) dan mayoritas rakyat sangat taat beragama ini. Tidak pernah merasa bersalah, merasa diri selalu lebih layak dari yang lain, malas berintrospeksi dan dirinyalah yang hebat, pintar dan selalu benar, yang lain salah dan bodoh.
Kita percayakan Banten ini dipimpin oleh orang-orang dari kalangan garis perjuangan, pun terbukti tidak membawa perubahan yang berarti bagi kebaikan Banten. Bahkan sebaliknya, nilai-nilai perjuangan sudah tidak lagi mereka pegang ketika diberikan amanah sebagai pemimpin.
Seperti mengulang sejarah dunia saja, Napoleon Bonaparte dari Prusia Prancis yang tadinya adalah pejuang, namun setelah berkuasa berubah jadi diktator. Polpot di Kamboja tadinya juga pejuang, namun akhirnya menjadi diktator sekaligus pembantai di negerinya. Bisa saja, kisah serupa juga sedang terulang di Banten hari ini.
Karenanya, kita jangan lagi mudah percaya dengan janji-janji para calon pemimpin. Kita tidak boleh jatuh ke lobang yang sama. Pada Pilkada serentaksekarang ini, kita harus lebih selektif dalam menjatuhkan pilihan, dan kita sebagai rakyat yang selalu di tindas oleh para kaum elit, sudah saatnya kita mengambil sikap dan mengutuk keras kepada pemimpin yang hanya bisa mengobralkan janji-janji manisnya. Jangan sampai Banten kembali dikelola oleh orang-orang yang bukan ahlinya.
Eka Agus Setiawan [Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta]







