Skip to content
18 Mei 2026
  • TRANSMARITIM
  • TRANSTEKNO
  • TRANSSPORT
cropped-trans_logo-e1607181917765-1.png

Indonesia Berdakwah

Primary Menu
  • TRANS DAKWAH
  • TRANS METROPOLITAN
  • TRANSPOLHUKAM
  • TRANSDUNIA
  • TRANSBISNIS
  • TRANSSPORTS
  • TRANSTEKNO
  • TRANSMARITIM
  • TRANSSUMATERA
  • TRANSJAWA
  • TRANS BALI
  • TRANSNUSA
  • TRANSKALIMANTAN
  • TRANSSULAWESI
  • TRANSMALUKU
  • TRANSPAPUA
Light/Dark Button
  • Home
  • 2026
  • Mei
  • 18
  • Lemdiklat Polri Mengajarkan Soliditas Merawat Kebhinekaan

Lemdiklat Polri Mengajarkan Soliditas Merawat Kebhinekaan

transindonesia.co 18 Mei 2026 (Last updated: 18 Mei 2026) 8 minutes read 0 comments
Lemdiklat Polri Mengajarkan Soliditas Merawat Kebhinekaan

TRANSINDONESIA.co, JAKARTA – “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah.” Rukun akan menyejahterakan atau mulia hidupnya, sedangkan berkelahi akan menimbulkan kehancuran.

Rukun merupakan konsep penting membangun soliditas untuk merawat dan menumbuhkembangkan kebhinekaan di Indonesia. RT (Rukun Tetangga) sebagai wadah kerukunan antar-tetangga, yang dimulai dari keluarga. Komunitas antar-keluarga yang menjadi tetangga hidup bersama dalam suatu lingkup yang kecil. RW (Rukun Warga) wadah yang lebih luas bagi komunitas RT.

Ketidakrukunan membuat kehancuran atau bubrah, dan tatkala terjadi rukun akan sejahtera atau santosa. Konsep rukun dicederai adanya konflik perebutan sumber daya atau perebutan pendistribusian sumber daya. Konflik komunal maupun konflik sosial memerlukan solidaritas dan legitimasi atas tindakannya. Untuk mendapatkan legitimasi dan solidaritas yang cepat dan mudah adalah memanfaatkan isu-isu yang berkaitan dengan primordial. Rukun akan terabaikan sebagai passion hidup bersama.

Sekarang ini banyak orang menyebutkan RT/RW sebatas petunjuk alamat tempat tinggal atau tempat tertentu, namun tanpa sengaja melupakan atau konteks rukun tidak lagi menjadi keutamaan sebagai basis hidup bermasyarakat. Rukun sering kali dianggap kuno, angin lalu, dan tidak lagi populer.

Rukun merupakan passion kebhinekaan yang menjadi suatu upaya merekatkan perbedaan, mengerem potensi konflik. Rukun juga merupakan filosofi, merupakan kesadaran tanggung jawab dan disiplin atas kesepakatan yang telah dibuat bersama. Rukun menjadi implementasi penerimaan, pengakuan, dan penghargaan antar-sesama dalam keberagaman.

Kerukunan bisa saja karena kebagian. Diam tenang tatkala ada kepastian dalam pembagian sumber daya. Mendukung karena memperoleh bagian. Itu merupakan konteks preman yang bukan patriot. Ala Pak Ogah, “Cepek dulu.” Atau gaya si lumba-lumba, “Makan dulu.” Proses mendapatkan bagian ini semestinya dilihat dari produktivitas atau prestasi kerja. Tatkala ala premanisme, memang sering digebyah-uyah/pukul rata ala atau model karitas atau sedekah. Model preman menjadi parah lagi dengan pemaksaan/pemerasan sebagai wujud “buluh bekti glondong pangareng-areng”/memberi japrem (jatah preman). Asu gede menang kerahe—siapa yang kuat, dia yang terbanyak bagiannya. Keadilan dilecehkan, diganti dengan ketidakadilan. Pelecehan atas keadilan seringkali dijadikan isu untuk merusak kerukunan.

“Asu gedhe menang kerahe.” Akal dikalahkan okol/otak dikalahkan dengkul. Siapa saja yang teriak paling keras dan diikuti kelompoknya dianggap sebagai kebenaran dan dianggap punya hak sebagai pemenang dalam perebutan sumber daya. Keroyokan akan menjadi pilihan untuk mengoyak kerukunan. Siapa saja yang mengingatkan atau mencegah niatnya akan berpikir dua kali setidaknya; apakah berbuat atau memilih diam.

Kekerasan berdampak kejahatan? Pelaku kekerasan adalah penjahat? Orang baik lebih banyak dari orang jahat. Hanya saja para penjahat ini dominan dan mendominasi kekuatan, berani “nggasruh”, dari mengatasnamakan sampai menggeser kebenaran dengan pembenaran. Mayoritas orang baik seringkali memilih diam, ini bukanlah kalah, bisa saja karena banyak pertimbangan atau enggan berurusan dengan kaum dengkul. Logika tidak akan dipakai, sikap dan sifat nggasruh ini yang membuat silent majority. Namun tatkala ada solidaritas, maka kaum orang baik yang dikatakan diam bisa bangkit melawan melalui cara yang bisa dikategorikan sebagai civil disobedience atau pembangkangan sipil.

Rukun, passion untuk merawat kebhinekaan yang semestinya menjadi acuan para aparatur penyelenggara negara yang diberi amanah rakyatnya. Sehingga para aparat memberikan pelayanan, perlindungan, dan pengayoman, bukan sebaliknya menjadi pemalak atau malah rebutan palakan dan saling gepuk-gepukan sendiri di antara mereka. Perebutan sumber daya dan perebutan pendistribusian sumber daya ala preman memang tidak fair, paling banyak dilakukan tak peduli merobek-robek peradaban. Ini isu yang menstimuli konflik. Bagi yang berkonflik, masa bodoh dengan hukum atau aturan, yang penting menang, hati senang, peduli setan semua rusak berantakan. Seakan King Kong yang menepuk-nepuk dadanya sambil teriak-teriak mengamuk di sana-sini.

Kita bisa belajar dari kisah Mahabharata dan perang Bharatayudha, perang saudara yang saling hajar sesama anak bangsa karena ketamakan dan tidak rukun. Kisah Mahabharata sarat dengan keutamaan, walaupun juga dikisahkan atas ketamakan dan keangkaramurkaan. Ketamakan Dewi Setyawati yang terus menginginkan garis keturunannya menguasai Hastinapura, hingga tidak memedulikan Dewabrata atau Bisma yang lebih memiliki hak atas Hastinapura. Namun Bisma dengan penuh kesadaran mampu menunjukkan kualitas terbaik dan tertinggi atas jiwa dan raganya sebagai manusia untuk berkorban merelakan haknya sebagai penguasa Hastinapura. Bisma mampu mengendalikan pikiran dan jiwanya sebagai orang yang memiliki keutamaan hidup.

Kisah Duryudana yang selalu ingin menang sendiri dengan berbagai dalih, merasa paling benar dan terus mengumbar angkaramurkanya. Dampak keserakahannya menjadikan dirinya terus merasa ketakutan dan kekurangan; segala cara ia lakukan demi memenuhi hasrat duniawinya yang tak terkendali. Berbeda dengan Yudistira dan adik-adiknya (Pandawa) yang selalu berupaya untuk menahan ketamakan, amarah, dan angkara murka. Pandawa berupaya menjadikan hidupnya sebagai implementasi atas suatu tanggung jawab bagi hidup dan kehidupan sosial.

Cinta buta dan kelekatan dunia menjerumuskan jiwa ke dalam duka baka. Guru Durna yang begitu mencintai anak semata wayangnya ingin memberinya kemewahan, kehormatan, kekuasaan, hingga lupa memberikan ajaran kebenaran. Aswatama mampu dalam banyak hal, namun ia selalu saja melakukan ketidakbenaran dan menyalahgunakan kemampuan dan kesempatan yang ada. Hingga ia dikutuk Basudewa Krisna merana hidupnya dalam waktu yang sangat lama. Keinginan manusia untuk selalu dipahami sebenarnya merupakan akhir kehancuran dan awal penderitaan.

Kekuasaan dan kekuatan menjadi impian setiap insan, yang merupakan prasyarat untuk memenangkan pendominasian, pemberdayaan, maupun pendistribusian sumber daya. Apa yang juga dialami Karna sang Suryaputra, karena harus hidup sebagai anak kusir, ia berjuang dan belajar demi menaikkan derajatnya dan agar tidak terhina. Hati manusia kadang sebesar butiran gandum, lemah dan mudah patah menghadapi kenyataan yang tak sesuai dengan harapan. Kadang hati yang lemah tadi berubah menjadi dendam yang tak berkesudahan.

Manusia selalu penuh dengan kekhawatiran akan masa depan, melupakan masa kini. Kisah Sangkuni yang begitu mencintai adiknya, Gandari, yang menikah dengan Destarata yang buta. Ia ingin memberikan kebahagiaan dunia di masa depan yang sering kali diimpi-impikannya. Cara apa saja ia lakukan, kepandaiannya dijadikan alat sebagai pemuas dendamnya. Kepuasan dendam sebenarnya hanyalah ilusi yang membutakan, sehingga tiada rasa puas, terus saja kekurangan, dan hidupnya penuh ketakutan dan kekhawatiran.

Ketamakan dari para tokoh dalam kisah Mahabharata merupakan gambaran sifat manusia yang ingin selalu menang sendiri dalam mendominasi dan dominannya dalam perebutan sumber daya. Demikian halnya kisah-kisah dari para tokoh yang berbudi luhur telah memberikan inspirasi atas keutamaan. Dalam hidup dan kehidupan sosial, keutamaan merupakan suatu nyali berkorban sebagai manusia untuk menjalankan hidup dengan rasa syukur dan mengendalikan jiwa sehingga mampu untuk: memahami orang lain, memberikan bantuan, keberadaannya membawa manfaat, membuat suasana aman, nyaman, damai, dan tenteram, agar semakin manusiawinya manusia.

Kelekatan dan keterikatan akan duniawi membuat hidup jauh dari rasa bahagia. Dia membuat manusia jumawa. Merasa paling segalanya. Harga diri seringkali ditonjol-tonjolkan, diutamakan, dan digunakan untuk memaksa sampai meminta belas kasihan. Tatkala tanpa keutamaan hidup, maka pikiran, perkataan, perbuatan, dan jiwanya akan dikuasai dan mudah dikalahkan. Nyalinya terbelenggu dengan hal-hal yang duniawi. Keyakinan maupun nilai-nilai yang dipujanya pun hal-hal dunia saja. Sama sekali akan jauh dari yang Ilahi. Itulah yang membuatnya hidup selalu lepas kendali. Tuhan Maha Kuasa, Ia hanya meminta kita percaya kepada-Nya. Tatkala manusia ingat akan Yang Ilahi, jiwanya memiliki nyali mengobarkan keutamaan; walaupun hati panas, pikiran tetap dingin. Mampu mengalah dan mengendalikan amarah dan angkaramurkanya dalam sikap berdoa atau laku tapa. Mampu memilih jalan tengah yang bijaksana daripada berdebat atau melakukan hal-hal yang memperuncing masalah. Terus melatih hati tetap tenang dan waras dalam menghadapi tantangan hidup dan kehidupan.

Akar masalah dari perang Bharatayudha secara garis besar dapat dikategorikan sebagai berikut:

1. Keserakahan yang terus turun-temurun, dari Dewi Setyawati, Destarata, Gandari, Sangkuni, hingga Duryudana dan para Kurawa.

2. Sikap iri hati terhadap prestasi Pandawa dan ingin merampas hak Pandawa, sehingga ingin mencelakakan sampai ingin membunuhnya.

3. Kejumawaan Duryudana yang menimbulkan rasa dendam mendalam sejak usia kanak-kanak.

4. Cinta buta dari Raja Destarata dan Dewi Gandari serta Sangkuni yang memanjakan dan menghasut para Kurawa.

5. Bisma yang Agung yang bersumpah membela dan menjaga takhta Hastinapura, namun terbelenggu ketamakan Duryudana.

6. Guru Durna yang mengejar materi dan keduniawian demi membahagiakan Aswatama anaknya, sehingga terjebak pada hasutan Sangkuni dan Duryudana.

7. Dendam Karna kepada para Pandawa, terutama kepada Arjuna, yang dimanfaatkan Duryudana sehingga terjebak pada sumpah dan janji persahabatannya.

8. Pembakaran Pandawa dan Ibu Kunti di Istana Warnabrata hanya demi takhta Hastinapura.

9. Kekalahan Pandawa dalam permainan dadu dengan kelicikan Sangkuni yang berdampak pelecehan terhadap Drupadi maupun para Pandawa, yang berdampak pada pengasingan Pandawa selama 12 tahun dan penyamaran selama 1 tahun.

10. Sumpah Drupadi yang mengutuk dan dendam terhadap Kurawa menjadi amarah yang menyulut perang Bharatayudha.

11. Sumpah Bima untuk membalas dendam dan menumpas seluruh Kurawa.

12. Penghinaan terhadap Basudewa Krisna yang menjadi duta perdamaian yang ditolak Kurawa.

13. Karma atas kutukan dari para tokoh-tokoh Kurawa; dari Bisma yang Agung, Guru Durna, Raja Angga Karna, Raja Salya, Jayadrata, Duryudana, Dursasana, hingga para Kurawa.

Masih banyak kisah yang menjadi pembelajaran untuk rukun dalam menjaga, merawat, dan menumbuhkembangkan kebhinekaan. Tatkala peradaban diabaikan dan ala preman diunggulkan serta dibangga-banggakan, maka tinggal menunggu waktu bubrah. Karena tidak mampu lagi melakukan dialog, akal berganti okol, tindakan nggasruh dengan “pokok e” yang mendorong kerah atau crah atau saling gepuk-gepukan sendiri. [cdl]

About the Author

transindonesia.co

Administrator

transindonesia, berita indonesia, indonesia aktual, nusantara, metropolitan

Visit Website View All Posts

Post navigation

Previous: Ketika Air Masih Jadi Halaman Belakang, Kota Air Indonesia Terus Tertinggal
Next: Preman dan Premanisme: Benalu Kehidupan Sosial

Trans Stories

Demokrasi: Anti Preman dan Premanisme
7 minutes read

Demokrasi: Anti Preman dan Premanisme

transindonesia.co 18 Mei 2026 0
Preman dan Premanisme: Benalu Kehidupan Sosial
7 minutes read

Preman dan Premanisme: Benalu Kehidupan Sosial

transindonesia.co 18 Mei 2026 0
Paspor
2 minutes read

Isu Jutaan Data Paspor WNI Diretas, Kemenimipas: Sistem Aman, Masyarakat Jangan Panik

transindonesia.co 4 Mei 2026 0

TransIndonesia

BEM UI Nobar Film Pesta Babi
3 minutes read

BEM UI Akan Gelar Nobar Film Pesta Babi

transindonesia.co 18 Mei 2026 0
Tatar Sunda
3 minutes read

Legislator Jabar: Kirab Milangkala Tatar Sunda tak Sesuai Sejarah

transindonesia.co 18 Mei 2026 0
Demokrasi: Anti Preman dan Premanisme
7 minutes read

Demokrasi: Anti Preman dan Premanisme

transindonesia.co 18 Mei 2026 0
Preman dan Premanisme: Benalu Kehidupan Sosial
7 minutes read

Preman dan Premanisme: Benalu Kehidupan Sosial

transindonesia.co 18 Mei 2026 0
  • Tentang Kami
  • Pedoman Siber
  • Disclaimer
  • TRANSMARITIM
  • TRANSTEKNO
  • TRANSSPORT
Copyright © 2026 All right Transindonesia.co | ReviewNews by AF themes.