Skip to content
27 September 2026
  • TRANSMARITIM
  • Trans Tekno
  • TRANSSPORT
cropped-trans_logo-e1607181917765-1.png

Indonesia Berdakwah

Primary Menu
  • Trans Dakwah
  • Trans Metropolitan
  • Trans Polhukam
  • Trans Dunia
  • Trans Bisnis
  • Trans Sports
  • Trans Tekno
  • Trans Maritim
  • Trans Sumatera
  • Trans Jawa
  • Trans Bali
  • Trans Nusa
  • Trans Kalimantan
  • Trans Sulawesi
  • Trans Maluku
  • Trans Papua
Light/Dark Button
  • Home
  • 2026
  • Mei
  • 6
  • Ketika Air Masih Jadi Halaman Belakang, Kota Air Indonesia Terus Tertinggal

Ketika Air Masih Jadi Halaman Belakang, Kota Air Indonesia Terus Tertinggal

transindonesia.co 6 Mei 2026 4 minutes read
Abdullah Rasyid dkk

Oleh: Abdullah Rasyid, Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN, sedang menjalani studi strategis di Shanghai.

TRANSINDONESIA.co | Di Shanghai, tepatnya di kota air Zhujiajiao, air bukan hanya latar belakang. Ia adalah ”halaman depan“ kota: jernih, teratur, dan dipelihara dengan cermat, dihiasi jembatan kuno, perahu kayu, taman kota, dan jalan pejalan kaki yang lebar.

Di sana, sungai tidak diperlakukan sebagai saluran pembuangan atau batas kampung, tetapi sebagai ruang publik yang menjadi pusat aktivitas wisata, ekonomi, dan identitas kota. Zhujiajiao adalah contoh nyata bagaimana air dijadikan wajah kota, bukan sekadar sisa ruang.

 

Di Indonesia, kenyataannya sangat berbeda. Di banyak kota, air, sungai, pantai, dan danau, masih dianggap “halaman belakang”. Ia diposisikan sebagai kolong, batas kampung, atau area yang boleh diisi dengan parkir, bengkel, dan kafe yang menghadap ke belakang.

Sungai sering dipenuhi sampah, sempadan direbut bangunan liar, dan kawasan pesisir banyak dijadikan tempat pembuangan limbah, bukan ruang terbuka hijau yang dinikmati warga. Secara penataan ruang, ini bukan sekadar kelalaian estetika, melainkan kesalahan paradigma: air dianggap sisa ruang, bukan ruang strategis.

Perbedaan mendasar ini terlihat jelas di Cina dan beberapa kota di Asia Tenggara serta Asia Timur. Di kota‑kota besar, sungai dan danau dirancang sebagai “halaman depan” kota: taman panjang, jalan pejalan kaki, jembatan, dermaga wisata, dan kafe yang menghadap ke air.

Program kota spons (*sponge city*) dan konsep *waterfront* bahkan sengaja menempatkan air sebagai bagian integral dari ruang publik, sekaligus perlindungan terhadap banjir dan manajemen air hujan. Di tempat lain, seperti Hanoi, Bangkok, dan Ho Chi Minh City, sungai kota dirancang untuk menjadi tulang punggung kawasan ekonomi dan wisata, bukan hanya jalur transportasi dan pembuangan.

Di Indonesia, paradigma ini masih terbalik. Sungai, pantai, dan danau banyak diperlakukan sebagai “halaman belakang”: area yang dibuang pandangan, tidak dirancang secara cermat, justru dijajah oleh aktivitas kumuh. Padahal, Indonesia adalah negara dengan 70% wilayah perairan, dengan banyak sungai, danau dan pantai.

Seharusnya, air adalah jiwanya kota-kota pesisir dan sungai, bukan sekadar batas administratif. Di Banjarmasin, Sungai Martapura bisa jadi kawasan waterfront yang menawan, bukan hanya tempat lewat kapal dan pasar terapung yang kumuh. Di kota-kota tepi danau, seperti Maninjau, Toba, atau pantai di Makassar, Padang, dan Ambon, air bisa jadi ruang publik yang terbuka, hijau, dan menghidupkan ekonomi warga, bukan hanya latar belakang industri dan permukiman.

Zhujiajiao mengajarkan satu hal penting: air bukan hanya soal fungsi teknis, tapi juga fungsi sosial, ekonomi, dan identitas kota. Di kota itu, air dipelihara dengan peraturan tegas, pengawasan, dan keterlibatan warga, sehingga kawasan kota air menjadi bersih, estetis, dan nyaman. Di sini, kota air tidak hanya menjual pemandangan, tetapi juga menjual kenyamanan, kebersihan, dan kualitas hidup.

Di Indonesia, paradigma ini masih belum sepenuhnya diadopsi. Kebijakan kota masih lebih banyak berfokus pada bangunan, jalan, dan infrastruktur, sementara ruang air dibiarkan mengalir tanpa penataan strategis.

Sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan, saya melihat: perubahan paradigma penataan ruang adalah kunci. Indonesia perlu berani menata ulang kota-kotanya agar air, sungai, pantai, dan danau, bukan lagi halaman belakang yang kumuh, tetapi jantung kota yang hidup, bersih, dan bernilai tinggi.

Perlu perubahan norma: dari “air sebagai halaman belakang” menjadi “air sebagai halaman depan” kota, melalui peraturan, zonasi, dan insentif yang memaksa bangunan menghadap ke air, bukan membelakanginya. Perlu konsep riverfront – waterfront yang terstruktur di kota-kota sungai dan pesisir, di mana kawasan sempadan sungai dirancang sebagai taman, jalan pejalan kaki, dan aktivitas ekonomi yang memelihara air, bukan mencemarkannya.

Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negeri kota air yang unik. Namun, jika air terus diperlakukan sebagai halaman belakang, kota air Indonesia hanya akan menjadi kumuh, banjir, dan tertinggal.

Di saat kota-kota di Cina dan Asia Timur menjadikan air sebagai wajah kota, Indonesia harus berani berubah: menjadikan air sebagai jantung kota, bukan sekadar batas kampung. Dengan pendekatan seperti Zhujiajiao, air yang bersih, teratur, dan terintegrasi, Indonesia bisa menciptakan kota air yang unik, keren, dan berkelanjutan. **

About the Author

transindonesia.co

Administrator

transindonesia, berita indonesia, indonesia aktual, nusantara, metropolitan

Visit Website View All Posts

Post navigation

Previous: Kapolda Sumsel Buka Kedai ADO ‘Rumah Ojol’ Presisi
Next: Lemdiklat Polri Mengajarkan Soliditas Merawat Kebhinekaan

Trans Stories

serangan-houthi-ke-bandara-riyadh-arab-saudi

Riyadh Diserang Rudal Houthi, Asap Hitam Membumbung Dekat Bandara

transindonesia.co 20 September 2026
World Trade Center 911

Gedung Tertinggi Dunia Terbakar, Ratusan Orang Panik Lompat dari Atas

transindonesia.co 12 September 2026
Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia Sugiono

Indonesia Dukung Inggris Larang Impor dari Pemukiman Ilegal Israel

transindonesia.co 11 September 2026

TransIndonesia

Pixlr_20260926220833019

Kapolri: Keberagaman Harus Jadi Kekuatan untuk Jaga Persatuan Bangsa

transindonesia.co 26 September 2026
Liqo Almarhamah Khairu Ummah

Bahaya Sombong, Angkuh, dan Ujub dalam Islam

transindonesia.co 26 September 2026
Korban banjir Solok

Tim Gabungan Temukan Korban Terakhir Banjir Bandang Kabupaten Solok

transindonesia.co 26 September 2026
Ketua HMI cabang Jakbar Dana Nur Azizah

Strategi Pemkot Jakbar dan HMI Ubah Pola Pengelolaan Sampah dari Sumber

transindonesia.co 26 September 2026
  • Tentang Kami
  • Pedoman Siber
  • Disclaimer
  • TRANSMARITIM
  • Trans Tekno
  • TRANSSPORT
Copyright © 2026 All right Transindonesia.co | ReviewNews by AF themes.