Skip to content
18 Mei 2026
  • TRANSMARITIM
  • TRANSTEKNO
  • TRANSSPORT
cropped-trans_logo-e1607181917765-1.png

Indonesia Berdakwah

Primary Menu
  • TRANS DAKWAH
  • TRANS METROPOLITAN
  • TRANSPOLHUKAM
  • TRANSDUNIA
  • TRANSBISNIS
  • TRANSSPORTS
  • TRANSTEKNO
  • TRANSMARITIM
  • TRANSSUMATERA
  • TRANSJAWA
  • TRANS BALI
  • TRANSNUSA
  • TRANSKALIMANTAN
  • TRANSSULAWESI
  • TRANSMALUKU
  • TRANSPAPUA
Light/Dark Button
  • Home
  • 2026
  • Mei
  • 18
  • Demokrasi: Anti Preman dan Premanisme

Demokrasi: Anti Preman dan Premanisme

transindonesia.co 18 Mei 2026 7 minutes read 0 comments
Demokrasi: Anti Preman dan Premanisme

 

TRANSINDONESIA.co, JAKARTA – Pilar demokrasi adalah Supremasi Hukum, Jaminan dan Perlindungan HAM, dibangun melalui Civil Society. Tatkala otoritarian merambah, maka akan sulit dialog, kritik dianggap tidak patriotik, yang dibutuhkan loyalitas personal. Preman sering dipahami sebatas sebagai jagoan jalanan yang melakukan kekerasan atau ancaman secara langsung, atau menjadi kepanjangan tangan yang ujung-ujungnya untuk: memaksakan kehendak, memeras, menjadi backing sesuatu yang ilegal, menerima suap.

Cara yang dilakukan preman dari mempersulit, mengancam, mengganggu, hingga merusak dengan berbagai bentuk kekerasan psikis, fisik, maupun simbolik. Para preman ini melakukan aksinya kepada kaum yang dianggap memiliki potensi produktivitas atau menguasai pengeksploitasian maupun pendistribusian sumber daya, namun lemah atau bahkan tidak memiliki kekuatan sosial atau kemampuan melawan secara fisik maupun sosial.

Biasanya kaum minoritas yang paling sering dijadikan sasaran para preman. Para preman ini memanfaatkan primordialisme dan mereka tidak sebatas berdiri sendiri, namun biasanya berkaitan dengan power yang secara bertingkat menyesuaikan tingkatan kekuasaannya. Preman ini memiliki wilayah dan sasaran yang dijadikan arena pemalakannya.

Preman tidak sebatas di jalanan, namun bisa di dalam birokrasi yang mempengaruhi kebijakan dan sistem pelayanan publik. Para preman ini dibantu para broker atau makelar untuk memuluskan pencapaian tujuan dengan berbagai pendekatan personal. Mereka kalau sudah mendapatkan ruang akan mengajukan atau menawarkan berbagai privilege, dengan kata lain mengendalikan kebijakan.

Premanisme birokrasi ini akan memanfaatkan media untuk menyenang-nyenangkan sampai mengancam, memfitnah, dan menyerang. Mereka manfaatkan era post-truth dengan berbagai serangan hoax-nya. Memfitnah dengan berbagai cara untuk memenangkan dan menguasai orang-orang yang memiliki power and authority pengeksploitasian dan pendistribusian sumber daya (bahasa kasarnya mroyek).

Dampaknya, birokrasi akan menjadi pasar, dan preman-preman bersama para broker akan terus tumbuh bagai spora di musim penghujan. Mereka itu pion-pion semata, dan di balik mereka ada godfather yang menjadi aktor intelektualnya. Mereka bagai naga yang siapa saja melawan akan dibunuh hidup dan kehidupannya, yang biasanya dari membunuh karakternya. Dibully sampai semua mengamini. Diadu domba satu sama lain. Pasar memang di tangan mereka karena mereka punya tentakel di semua lini kehidupan. Ada yang menganalogikan beda godfather dengan Tuhan, yaitu kalau mengambil nyawa tidak bisa menghidupkan lagi.

Semakin besar jangkauan dan tingkatan para preman birokrasi akan semakin kompleks dan semakin rumit jejaringnya. Mereka menikmati hasil mulai dari keringat orang lain sampai mengendalikan kebijakan dan aturan atau hukum dan keadilannya. Para preman ini akan mengganggu, mempersulit, membuat ketakutan sampai memabukkan, dan para pemegang kekuasaan kecanduan, sehingga orang-orang yang menjadi sasarannya mau tidak mau mengikuti kehendaknya.

Preman berkembang menjadi premanisme karena ada kekuatan yang secara sistematis terorganisir atau tersistematisir untuk membuat orang lain tidak berdaya dan tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti apa yang menjadi kemauannya, walaupun mereka tahu cara-cara itu tidak legal dan merupakan kejahatan. Sumber daya akan menjadi sumber bagi munculnya preman dan premanisme.

Semakin besar sumber dayanya, maka akan semakin luas dan semakin menggurita premanismenya. Secara nonformal, premanisme ini berkuasa dan menguasai tata kehidupan sosial bertingkat-tingkat lapis kemampuannya maupun wilayah pemalakannya. Semakin besar arena premanisme akan semakin tertata dan terorganisir, bahkan cara didukung teknologi dan diawaki para profesional yang memiliki keahlian, namun mentalitas dan moralitasnya rendah karena mereka rela melacurkan diri.

Preman dan premanisme akan ada, tumbuh, dan berkembang dalam birokrasi yang patrimonial dan otoriter, di mana hukum tidak mampu tebang habis melainkan tebang pilih sesuai keinginan mereka. Premanisme menjadi benalu dalam kehidupan sosial yang merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Para aparaturnya bisa saja kecanduan, masuk angin, dan terbeli oleh mereka. Orientasinya bukan pada orientasi kerja dalam melayani publik, tetapi bagaimana untuk menambah gaji dengan menjadikan profesinya sebagai pasar barter kewenangan.

“Wani piro oleh piro”, secara singkat dikatakan demikian. Core value para aparaturnya antara yang ideal dengan yang aktual berbeda bahkan bertentangan, yaitu bukan pada kinerja atau kompetensinya melainkan pada pendekatan personal. Model “asal ndoro senang” dan pendekatan personal ini mencandui merajalela. “Pikat dekat sikat minggat”, kira-kira begitulah spirit yang menjadikan adanya job basah dan kering. Seakan pelayanan publik menjadi pasar adu kekuatan, no money no honey.

Preman dan premanisme pasti merupakan benalu bagi kehidupan sosial yang merusak dan melumpuhkan daya tahan, daya tangkal, bahkan daya saing suatu bangsa. Para kaum oligarki yang sudah mapan dan nyaman akan mati-matian mempengaruhi pemegang kekuasaan agar mau menggadaikan kewenangannya. Mereka menjadi godfather bagai naga yang tiada tandingnya. Jangankan melawan, siapa saja yang ngrasani saja sudah bisa dibunuh hidup dan kehidupannya; bukan hanya dirinya tetapi juga keluarganya.

Premanisme seakan menawarkan jasa, namun sejatinya mereka mencandui dan memaksa mengambil alih pendominasian sumber daya.

Premanisme nampaknya memberikan kenikmatan, namun itu candu dan fatamorgana bagi segelintir orang saja, namun menjengkelkan dan merusak kehidupan sosial berbangsa dan bernegara.

Rakyat yang dipalak atau jadi korban akan berteriak: “Sakitnya sampai di sini,” sambil menunjuk pantatnya yang bolong karena tidak hanya sampai di hatinya. Bisa dibayangkan jika pantatnya bolong, bagaimana akan duduk, berdiripun tetap terganggu, bahkan untuk tidurpun tak nyaman. Orang yang biasa memalak memang tidak merasa bersalah bahkan merasa benar walau empati dan bela rasanya mati, tak peduli yang dipalak sekarat mau mati.

Premanisme dalam palak-memalak ini tidak selalu kasar, bahkan umpan-umpan janji palsu yang penuh kepura-puraan ini dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi kebanggaan dan dibangga-banggakan.

Aneh bin ajaib, preman dan premanisme yang menjadi benalu menguasai arena dan berpesta di atas penderitaan tanpa merasa dosa.

Hukum dan penegakan hukum serta aparat penegak hukum menjadi harapan melawan preman dan premanisme. Hukum dan aparaturnya adalah simbol peradaban, termasuk penegakan hukumnya. Hukum sebagai kesepakatan yang memiliki kekuatan politik, sosial, ekonomi, dan berbagai gatra kehidupan lainnya menjadi simbol beradabnya suatu bangsa dan negara.

Hukum sebagai simbol peradaban memiliki spirit untuk dapat diberdayakan:

1. Menyelesaikan konflik atau berbagai permasalahan yang kontraprodufik secara beradab atau melalui tatanan atau aturan-aturan yang telah disepakati yang tertuang dalam hukum acara.

2. Mencegah agar tidak terjadi konflik yang lebih luas. Hal ini merupakan suatu upaya bahwa efek atau dampak dari penegakan hukum atau hasil penegakan hukum tidak sebatas pro justitia atau demi keadilan, namun juga dapat dimanfaatkan bagi upaya-upaya:

a. Pencegahan;

b. Perbaikan infrastruktur dan sistem pendukung bagi pelayanan kepada publik;

c. Peningkatan kualitas pelayanan kepada publik yang berstandar prima;

d. Pembangunan atau hal-hal yang bersifat visioner, problem solving, dan penyiapan masa depan yang lebih baik.

3. Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada korban maupun pencari keadilan. Hukum melayani bagi private, corporate, institusi, kelompok masyarakat, maupun bagi negara.

4. Membangun budaya tertib atau budaya patuh hukum.

5. Adanya kepastian karena hukum merupakan panglima.

6. Mencerdaskan kehidupan bangsa karena merupakan bagian dari literasi dan edukasi.

Hukum ini akan berjalan tatkala perangkat hukumnya, aparaturnya, lingkungan masyarakat, dan infrastruktur serta sistem-sistemnya saling mendukung. Tatkala masih ada dan banyak peluang memutarbalikkan dan mempermainkan hukum, maka siapa yang kuat akan melibas dan menjadi pemenangnya. Hukum mandul, bahkan bisa mati.

Hukum sebagai simbol peradaban akan banyak hal yang digerus, terutama yang berkaitan dengan sumber daya. Pendominasian, pengeksploitasian, hingga pendistribusian sumber daya akan menjadi potensi konflik. Tunggangan para preman biasanya pada primordialisme untuk mendapatkan legitimasi dan solidaritas. Premanisme mematikan hukum dengan keroyokan mengatasnamakan rakyat walau merusak keteraturan sosial.

Aparat penegak hukum dengan segala infrastruktur dan segenap sistem pendukungnya memerlukan perlindungan dan backup political will dari para pemimpinnya, dan adanya sistem yang kuat untuk mampu menghalau atau menindak tegas premanisme. Hal-hal sepele saja, tatkala penegak hukum menindak pelanggaran lalu lintas saja, tatkala dilawan, dimaki-maki, atau diabaikan, atau bahkan diserang, ini sudah pelecehan; apa lagi sampai dianiaya, sampai dibakar kantor, atau dirusak kendaraan atau simbol-simbol penegakan hukum lainnya.

Hal ini akan terus berulang tatkala tidak dimintakan pertanggungjawaban secara moral, secara hukum, secara administrasi, bahkan secara sosial. Hukum memerlukan energi untuk dapat tegak berdiri dan ditaati. Inilah yang dikatakan negara harus menang dengan preman, dan hukum tegak sebagai simbol kedaulatan, kesatuan, persatuan, daya tahan, daya tangkal, bahkan sebagai daya saing. [cdl]

About the Author

transindonesia.co

Administrator

transindonesia, berita indonesia, indonesia aktual, nusantara, metropolitan

Visit Website View All Posts

Post navigation

Previous: Preman dan Premanisme: Benalu Kehidupan Sosial
Next: Legislator Jabar: Kirab Milangkala Tatar Sunda tak Sesuai Sejarah

Trans Stories

Preman dan Premanisme: Benalu Kehidupan Sosial
7 minutes read

Preman dan Premanisme: Benalu Kehidupan Sosial

transindonesia.co 18 Mei 2026 0
Lemdiklat Polri Mengajarkan Soliditas Merawat Kebhinekaan
8 minutes read

Lemdiklat Polri Mengajarkan Soliditas Merawat Kebhinekaan

transindonesia.co 18 Mei 2026 0
Paspor
2 minutes read

Isu Jutaan Data Paspor WNI Diretas, Kemenimipas: Sistem Aman, Masyarakat Jangan Panik

transindonesia.co 4 Mei 2026 0

TransIndonesia

Kapolda Sumatera Selatan, Irjen Pol Sandi Nugroho, pada Apel Besar Siaga Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta Sabuk Kamtibmas yang digelar di Lapangan Mapolres Lahat, Ahad (17/5/2026).
3 minutes read

Tinggalkan Cara Lama, Kapolda Sumsel Dorong Petani Lahat Buka Lahan Tanpa Membakar

transindonesia.co 18 Mei 2026 0
BEM UI Nobar Film Pesta Babi
3 minutes read

BEM UI Akan Gelar Nobar Film Pesta Babi

transindonesia.co 18 Mei 2026 0
Tatar Sunda
3 minutes read

Legislator Jabar: Kirab Milangkala Tatar Sunda tak Sesuai Sejarah

transindonesia.co 18 Mei 2026 0
Demokrasi: Anti Preman dan Premanisme
7 minutes read

Demokrasi: Anti Preman dan Premanisme

transindonesia.co 18 Mei 2026 0
  • Tentang Kami
  • Pedoman Siber
  • Disclaimer
  • TRANSMARITIM
  • TRANSTEKNO
  • TRANSSPORT
Copyright © 2026 All right Transindonesia.co | ReviewNews by AF themes.