Oleh : Drs.Muhammad Bardansyah. Ch.Cht.
TRANSINDONESIA.co, JAKARTA – Ada ironi yang begitu sunyi, tetapi terasa nyaring dalam kehidupan kita: negeri ini begitu bangga melahirkan presiden, menteri, jenderal, pengusaha besar, dan tokoh-tokoh hebat, namun sering lupa pada mereka yang pertama kali mengajarkan huruf, angka, dan mimpi kepada para tokoh itu: guru.
Hari ini, 2 Mei 2026, kita kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Kita mengutip nama besar seperti Ki Hajar Dewantara, kita mengulang jargon “pahlawan tanpa tanda jasa,” kita membagikan ucapan di media sosial.
Tetapi di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang tidak pernah benar-benar kita jawab dengan jujur: apakah kita benar-benar menghargai guru?
Mari kita turunkan romantisme itu ke angka yang lebih dingin.
Di berbagai daerah di Indonesia, guru honorer masih menerima gaji yang berkisar antara Rp300.000 hingga Rp 500.000 per bulan. Bahkan ada yang dibayar lebih rendah dari itu. Jumlah yang, jika kita jujur, bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, apalagi untuk hidup layak, apalagi untuk berkembang sebagai seorang pendidik.
Padahal di tangan merekalah masa depan bangsa ini ditempa.
Bayangkan paradoks ini: seorang anak yang kelak menjadi presiden, pertama kali belajar membaca dari seorang guru honorer yang mungkin harus berutang untuk membeli beras.
Seorang jenderal yang memimpin ribuan pasukan, dulu diajarkan disiplin oleh guru yang tidak mampu membeli buku terbaru untuk dirinya sendiri.
Seorang pengusaha besar, yang hari ini mengelola miliaran rupiah, pernah diajari berhitung oleh guru yang bahkan tidak memiliki akses pelatihan digital.
Bukankah ini terasa janggal?
Kita membangun gedung-gedung megah, tetapi lupa memperkuat fondasinya. Kita mengagungkan hasil, tetapi mengabaikan proses. Kita merayakan keberhasilan, tetapi menutup mata pada perjuangan yang melahirkannya.
Lebih jauh lagi, kita sering menuntut guru untuk “berkualitas,” “adaptif,” “melek digital,” dan “inovatif.” Tetapi kita jarang bertanya: dengan sumber daya apa mereka melakukan itu?
Bagaimana mungkin seorang guru bisa terus meningkatkan kompetensinya jika untuk membeli buku saja harus berpikir dua kali?
Bagaimana mereka bisa mengikuti perkembangan teknologi pendidikan jika gajinya tidak cukup untuk membeli perangkat digital yang layak?
Bagaimana mereka bisa menginspirasi generasi muda untuk bermimpi besar, jika hidup mereka sendiri terus ditekan oleh keterbatasan?
Ini bukan sekadar soal kesejahteraan. Ini soal logika pembangunan.
Jika kita ingin generasi muda Indonesia hebat, maka kita harus berani memastikan bahwa mereka diajar oleh orang-orang yang hidupnya layak.
Tidak ada bangsa yang besar dengan cara menekan profesi guru. Tidak ada peradaban maju yang menganggap pendidikan sebagai sektor pinggiran.
Mari kita belajar dari negara lain.
Di Finlandia, profesi guru adalah salah satu profesi paling bergengsi. Untuk menjadi guru, seseorang harus melalui seleksi ketat dan pendidikan yang mendalam. Gaji mereka kompetitif, bahkan bisa disejajarkan dengan profesi profesional lainnya. Hasilnya? Sistem pendidikan yang konsisten menghasilkan siswa dengan kemampuan tinggi, bukan karena tekanan, tetapi karena kualitas pengajaran.
Di Singapura, guru diperlakukan sebagai “nation builders.” Mereka tidak hanya diberi gaji yang layak, tetapi juga jalur karier yang jelas, pelatihan berkelanjutan, dan dukungan penuh dari negara. Pemerintah memahami satu hal sederhana: investasi terbaik bukan pada gedung, tetapi pada manusia yang mengajar di dalamnya.
Pertanyaannya: apakah kita benar-benar tidak tahu ini? Atau kita tahu, tetapi belum cukup berani untuk mengubah prioritas?
Refleksi Hari Guru seharusnya tidak berhenti pada ucapan terima kasih. Ia harus menjadi momen kejujuran nasional.
Kita perlu mengakui bahwa selama ini, ada ketimpangan serius antara harapan kita terhadap guru dan apa yang kita berikan kepada mereka.
Kita ingin guru hebat, tetapi kita membayar mereka dengan murah.
Kita ingin pendidikan maju, tetapi kita memperlakukan pendidiknya sebagai beban anggaran.
Kita ingin generasi emas, tetapi kita membiarkan para pembentuknya berjuang sendiri.
Ini bukan hanya tidak adil—ini berbahaya.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, kita sedang menanam krisis jangka panjang. Generasi muda mungkin tetap belajar, tetapi kualitasnya akan timpang. Talenta terbaik akan enggan menjadi guru. Profesi ini perlahan kehilangan daya tariknya. Dan pada akhirnya, kita akan menuai apa yang kita tanam: sistem pendidikan yang tidak mampu bersaing.
Lalu, apa yang seharusnya dilakukan?
Pertama, pemerintah harus berani menetapkan standar minimum kesejahteraan guru yang benar-benar layak, terutama bagi guru honorer. Bukan sekadar bantuan, tetapi sistem yang adil dan berkelanjutan.
Guru tidak boleh lagi hidup dalam ketidakpastian.
Kedua, investasi pada peningkatan kompetensi harus menjadi prioritas utama. Pelatihan berkualitas, akses terhadap teknologi, dan dukungan untuk pengembangan diri bukanlah “bonus”—itu kebutuhan dasar dalam dunia pendidikan modern.
Ketiga, reformasi status dan jenjang karier guru harus dipercepat. Tidak boleh ada lagi guru yang mengabdi bertahun-tahun tanpa kejelasan masa depan.
Keempat, masyarakat (termasuk para elite ) harus mengubah cara pandangnya. Menghormati guru bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kebijakan, anggaran, dan tindakan nyata.
Dan untuk para “orang-orang besar” di negeri ini, para pejabat, pengusaha, tokoh publik, ini adalah pengingat yang mungkin terasa tidak nyaman, tetapi perlu:
Anda tidak sampai di posisi hari ini sendirian. Ada tangan-tangan sabar yang dulu membimbing Anda, sering kali tanpa pernah meminta imbalan yang setimpal.
Hari ini, mungkin saatnya membalas itu. Bukan dengan nostalgia, tetapi dengan keberpihakan.
Karena pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan di ruang rapat atau podium pidato. Ia ditentukan di ruang kelas sederhana, oleh seorang guru yang berdiri di depan papan tulis sering kali dengan segala keterbatasannya, tetapi tetap memilih untuk mengajar.
Jika kita ingin bangsa ini benar-benar besar, maka satu hal harus kita pastikan:
orang yang membentuk masa depan itu tidak lagi hidup dalam keterbatasan yang mematahkan harapan.
Hari Guru bukan sekadar peringatan. Ia adalah cermin.
Dan pertanyaannya sederhana: beranikah kita melihat wajah kita sendiri di dalamnya?




