Ketua Yayasan Almarhamah Khairu Ummah, Ustadz H. Mohammad Subchansyah, ST, MT, saat menyampaikan Liqo rutin malam Ahad di Masjid Al Muhajirin Blok E BTR, Mustikajaya, Kota Bekasi. Transindonesia.co / Dokumentasi
TRANSINDONESIA.co — Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar, melainkan bulan di mana Al-Qur’an turun sebagai mukjizat terbesar. Membaca Al-Qur’an di bulan suci ini membawa kebaikan yang melimpah atau hasanah (حسنة). Setiap huruf yang terucap dari bibir seorang mukmin tidak akan menguap begitu saja; ia akan menjelma menjadi cahaya yang menuntun dan penolong—syafaat—di akhir masa, saat tak ada lagi perlindungan selain amal ibadah.
Manusia diciptakan sebagai makhluk dengan derajat paling bagus dan mulia—Ahsanu Taqwim. Namun, kemuliaan itu bersifat dinamis; ia bisa meroket melampaui malaikat atau merosot lebih rendah dari binatang.
Melalui tadabbur Al-Qur’an sebagai “ilmu dari segala ilmu”, kita diajak mengambil pelajaran penting melalui empat perumpamaan—amsal—manusia dalam kitab suci:
Pertama: Perumpamaan Anjing
Tafsir Surah Al-A’raf ayat 176 menggambarkan perumpamaan orang yang memiliki ilmu agama (ayat-ayat Allah) namun mencampakkannya demi hawa nafsu dan kesenangan duniawi. Mereka diumpamakan seperti anjing yang menjulurkan lidah, baik dihalau maupun dibiarkan. Hal ini menunjukkan kehinaan, ketamakan, dan kesesatan yang konsisten.
“Ketika agama dilepas, ruang kosong di dalam hati akan segera diisi oleh syaitan sebagai teman setia yang menyesatkan.”
Peringatan keras ini tertuju terutama bagi mereka yang “menjual agama” demi urusan duniawi. Ketahuilah, fitnah yang ditimbulkan oleh seorang alim ulama (orang berilmu) yang melenceng jauh lebih besar dosa dan dampaknya dibandingkan fitnah orang awam. Hanya dengan bersandar pada agama, manusia tetap terjaga kemuliaannya.
Kedua: Perumpamaan Keledai
Manusia juga diibaratkan seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal di punggungnya namun tidak memahami isinya.
“Perumpamaan orang-orang yang dibebani tugas mengamalkan Taurat, kemudian tidak mengamalkannya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab (tebal tanpa mengerti kandungannya). Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al-Jumu’ah: 5).
Keledai hanya merasakan beratnya beban tanpa mendapat manfaat dari ilmu tersebut. Ini adalah teguran bagi kita agar tidak sekadar membaca atau menghafal Al-Qur’an, tetapi juga mengamalkannya dalam perilaku sehari-hari.
Ketiga: Perumpamaan Binatang Ternak
Ada golongan manusia yang memiliki hati tapi tidak digunakan untuk memahami, memiliki mata tapi tidak untuk melihat kebenaran, dan telinga tapi tidak untuk mendengar petunjuk. Mereka dimisalkan seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka hidup hanya untuk memenuhi syahwat jasmani tanpa mempedulikan makanan bagi ruhaninya.
“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf: 179).
Keempat: Perumpamaan Laba-laba
Dalam Surah Al-Ankabut ayat 41, manusia yang mengambil pelindung atau sandaran hidup selain Allah diibaratkan seperti laba-laba yang membangun rumah. Rumah laba-laba adalah struktur yang paling rapuh; tampak rumit namun hancur hanya dengan sekali sentuh. Begitulah nasib manusia yang menyandarkan hidupnya pada jabatan, harta, atau manusia, tanpa berpegang teguh pada tali agama Allah.
“Perumpamaan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai pelindung adalah seperti laba-laba betina yang membuat rumah. Sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahuinya.” (QS. Al-Ankabut: 41).
Kembali ke Fitrah Mulia
Intisari dari pengajian subuh ini adalah sebuah ajakan untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai imam. Agar kita tidak terjerumus ke dalam permisalan-permisalan rendah di atas, maka membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an adalah satu-satunya jalan.
Di sisa Ramadhan ini, mari kita perkuat interaksi dengan kalam-Nya, agar kelak di hari pembalasan, huruf-huruf yang kita baca hadir sebagai pembela yang membawa kita menuju singgasana kemuliaan di sisi Allah SWT.**
Catatan Redaksi: Disarikan dari Pengajian Subuh Ramadhan 1447 H, Masjid Al Muhajirin Blok E BTR, oleh Ketua Yayasan Almarhamah Khairu Ummah, Ustadz H. Mohammad Subchansyah, ST, MT.







