Banjir di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur berangsur surut pada Senin (23/2/2026), dengan ketinggian air tersisa 10–50 cm di sejumlah titik terdampak. Transindonesia.co / BPBD Kabupaten Pasuruan
TRANSINDONESIA.co, SUKOHARJO – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan rentetan bencana banjir masih mendominasi wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur dalam periode 23-24 Februari 2026. Cuaca ekstrem yang memicu hujan intensitas tinggi menyebabkan banjir luapan di Kabupaten Sukoharjo, Wonogiri, hingga Pasuruan, bahkan merenggut satu nyawa penderita stroke di Sukoharjo setelah proses evakuasi.
“Langkah pencegahan lingkungan seperti pembersihan saluran air dan drainase secara bergotong royong sangat dianjurkan guna memastikan aliran air tidak tersumbat oleh sampah saat terjadi hujan lebat,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Selasa (24/2/2026).
Di Kabupaten Sukoharjo, tiga kecamatan yakni Polokarto, Mojolaban, dan Grogol terendam luapan air yang berdampak pada 46 rumah dan 7 akses jalan. Sebanyak 13 kepala keluarga kini mengungsi di Desa Bakalan dan tanggul Dukuh Klatak, sementara pemerintah daerah telah menyiagakan tenda pengungsi tambahan di Tanggul Jatiteken untuk mengantisipasi banjir susulan.
“Penting untuk memastikan seluruh instalasi listrik di rumah dalam kondisi aman dan segera mematikan aliran listrik utama jika air mulai masuk ke dalam rumah,” lanjut Abdul Muhari dalam keterangannya.
Situasi serupa melanda Kabupaten Wonogiri akibat jebolnya pagar pembatas sungai di Desa Purworejo yang merendam 17 unit rumah. Meskipun saat ini air dilaporkan telah surut dan warga mulai bergotong royong melakukan pembersihan, BPBD Jawa Tengah tetap memberlakukan Status Siaga Darurat yang berlaku hingga 23 Mei 2026 mendatang.
“Masyarakat diimbau segera melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih tinggi jika hujan lebat terjadi lebih dari satu jam dengan jarak pandang terbatas,” tegas pihak BNPB mengingatkan prosedur keselamatan.
Beralih ke Jawa Timur, pemulihan pascabanjir di Kabupaten Pasuruan menunjukkan progres positif dengan tinggi muka air yang menyusut ke angka 10-50 cm di Kecamatan Winongan dan Kraton. Kendati demikian, dampak banjir akibat luapan DAS Wrati dan DAS Rejoso sejak pertengahan Februari ini telah menyentuh 2.363 kepala keluarga, sehingga status tanggap darurat tetap disiagakan hingga akhir Maret 2026.
“Dinamika atmosfer yang dipicu oleh penguatan Monsun Asia masih berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan di sepanjang jalur selatan dan tengah pulau Jawa,” ungkap Abdul Muhari mengenai analisis cuaca terkini.
Berdasarkan data BMKG, wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur diprediksi masih akan dihantam cuaca ekstrem hingga 26 Februari 2026. Potensi hujan lebat disertai kilat dan angin kencang diprakirakan terjadi pada siang dan sore hari, di mana wilayah Jawa Timur secara khusus masuk dalam kategori siaga bencana meteorologi.
“BNPB menekankan pentingnya bagi masyarakat untuk rutin memantau informasi cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi secara berkala guna meminimalisir dampak risiko,” tutup pernyataan resmi tersebut. [nag]






