Kondisi banjir merendam pemukiman warga di wilayah Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, pada Sabtu (31/1/2026). Transindonesia.co / BPBD Kabupaten Pemalang
TRANSINDONESIA.CO | PEMALANG – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan rentetan bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan tanah longsor mendominasi wilayah Indonesia hingga 2 Februari 2026.
Data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB mencatat wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Sumatera Selatan menjadi titik terdampak paling parah dengan ribuan rumah terendam dan korban jiwa akibat longsor.
“Berdasarkan pemantauan hingga 2 Februari 2026 pukul 07.00 WIB, kejadian bencana yang tercatat didominasi oleh bencana hidrometeorologi basah,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan tertulisnya diterima redaksi, Senin (2/2/2026).
Di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, luapan Sungai Srenseng dan Medana mengakibatkan banjir besar yang merendam 1.147 unit rumah dengan ketinggian air mencapai 130 sentimeter. Sebanyak 13.533 jiwa terdampak dalam peristiwa yang terjadi pada Sabtu malam tersebut, memaksa BPBD setempat melakukan evakuasi besar-besaran dan distribusi logistik darurat.
“BPBD Kabupaten Pemalang bersama BPBD Provinsi Jawa Tengah telah melakukan penanganan darurat berupa evakuasi warga terdampak, pendataan, serta pendistribusian bantuan logistik,” ungkap Muhari.
Tragedi memilukan terjadi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, di mana tanah longsor di Kecamatan Pangalengan merenggut dua nyawa setelah material tanah menimbun sebuah rumah kontrakan.
Sementara itu, di Kabupaten Bekasi, banjir masih melanda 45 desa di 14 kecamatan dengan total warga terdampak mencapai 51.796 KK, di mana BNPB telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menekan intensitas hujan.
“Terdapat dua korban jiwa meninggal dunia akibat epilepsi setelah berenang dan tergelincir di sungai di wilayah Bekasi. Selain banjir, longsor juga terjadi di delapan titik,” tambah pihak BNPB melalui keterangan tertulisnya.
Kondisi kritis juga masih berlangsung di Kabupaten Karawang, di mana banjir akibat jebolnya tanggul di Desa Muara telah bertahan selama delapan hari dan menyebabkan 3.368 jiwa mengungsi.
Di luar Pulau Jawa, banjir setinggi satu meter merendam Kabupaten Sumbawa, NTB, serta bencana longsor di Halmahera Barat, Maluku Utara, yang merusak ratusan rumah sejak awal Januari lalu namun kini akses transportasi mulai pulih.
“Hingga Ahad (1/2), akses transportasi darat menuju Kecamatan Loloda di Halmahera Barat telah dapat dilalui kendaraan roda dua dan roda empat setelah pembersihan lumpur dilakukan,” jelas Abdul Muhari.
Selain bencana air, fenomena kontras terjadi di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, yang melaporkan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas dua hektare sekaligus kekeringan yang melanda 270 KK di Kecamatan Parigi Barat.
BNPB mengimbau masyarakat untuk terus waspada terhadap cuaca ekstrem dan meminta pemerintah daerah memperkuat sistem peringatan dini guna meminimalisir dampak kerugian.
“Masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, khususnya saluran air, serta menyiapkan kebutuhan darurat seperti dokumen penting dan obat-obatan jika terjadi hujan lebat berkepanjangan,” imbau Abdul Muhari. [nag]






