Foto: Ilustrasi AI
TRANSINDONESIA.CO | JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Januari 2026 mencapai **3,55 persen**. Angka ini cukup mengejutkan karena telah melampaui sasaran yang ditetapkan pemerintah, yakni di kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
“Inflasi Januari 2026 secara year on year 3,55 persen. Lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan Januari 2025 yang sebesar 0,76 persen,” kata Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Senin (2/2/2026).
Lonjakan inflasi ini dipicu oleh faktor low base effect akibat kebijakan diskon tarif listrik pada Januari–Februari 2025. Saat itu, harga rendah yang disebabkan subsidi pemerintah membuat basis perbandingan tahun ini menjadi tampak sangat tinggi, meskipun dinamika harga saat ini sebenarnya masih dalam tren normal.
“Penurunan IHK (Indeks Harga Konsumen) tersebut menyebabkan level harga pada Januari–Februari 2025 berada di bawah pola tren normalnya,” terang Ateng.
Sektor perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan mencapai 11,93 persen. Selain itu, kelompok perawatan pribadi serta komoditas seperti emas perhiasan dan biaya pendidikan juga memberikan andil signifikan terhadap kenaikan harga secara tahunan.
“Pada Januari 2026 terjadi deflasi secara bulanan, berbeda dengan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi (Desember 2025 inflasi 2,92 persen),” tambah Ateng.
Secara bulanan (*month to month*), Indonesia justru mencatatkan **deflasi sebesar 0,15 persen**. Penurunan harga ini didorong oleh komponen harga yang diatur pemerintah, seperti bensin dan tarif angkutan udara, serta komponen harga bergejolak seperti cabai dan telur ayam yang mengalami penurunan harga seiring masa panen.
“Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi komponen bergejolak antara lain cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras,” ungkapnya.
Selain faktor musiman dan kebijakan tahun lalu, BPS mencatat kenaikan harga emas internasional serta penyesuaian harga BBM nonsubsidi turut memengaruhi fluktuasi indeks harga di awal tahun 2026. Pemerintah sendiri memastikan tarif listrik kuartal I 2026 tidak mengalami kenaikan untuk menjaga daya beli masyarakat. [met]







