Foto Arsip Irjen Pol Chrysnanda Dwilaksana
TRANSINDONESIA.co | Persahabatan bagi kemanusiaan merupakan bentuk solidaritas sosial. Dalam kehidupan manusia sebagai mahkluk sosial sering kali dicabik cabik adanya konflik sosial, pertikaian bersenjata hingga peperangan dengan berbagai dalih atau atas nama apa saja semua merusak sendi sendi kemanusiaan.
Martabat manusia menjadi terkoyak bahkan dicampakkan dan terus dikorbankan atau yang menjadi korban kepentingan segelintir orang atau sekelompok orang. Anak anak kaum perempuan kaum lanjut usia paling rentan menjadi korban. Mereka harus terpisah dari keluarganya, cacat, menderita kemiskinan, berpenyakit hingga kematian akan dihadapi dan menjadi pemandangan di mana mana. Kerukunan persahabatan solidaritas sosial menjadi kekuatan bagi manusia dan kemanusiaan. Manusia untuk dapat bertahan hidup tumbuh dan berkembang diperlukan adanya produktifitas.
Konflik sosial dan berbagai hal yang tidak rukun berdampak pada sesuatu yang kontraproduktif.
Pepatah jawa mengatakan : ” rukun agawe santosa crah agawe bubrah”. rukun akan menjadikan sejahtera dan konflik berdampak pada kehancuran.
Konteks rukun ini juga dapat dikaitkan dalam kesatuan dan persatuan yang merupakan soft power bagi pembangunan masyarakat bangsa dan negara.
Rukun : Soliditas Merawat Kebhibekaan
Rukun merupakan konsep penting di dalam merawat dan menumbuhkembangkan kebhinekaan di indonesia. RT sebagai wadah kerukunan antar tetangga. Yang dimulai dari keluarga. Komunitas antar keluarga yang menjadi tetangga hidup bersama dalam suatu lingkup yang kecil. RW ( rukun warga ) wadah yang lebih luas bagi komunitas RT.
Ketidakrukunan membuat kehancuran atau bubrah, dan tatkala terjadi rukun akan sejahtera atau santosa. Konsep rukun dicederai adanya konflik perebutan sumber daya atau perebutan pendistribusian sumber daya. Konflik komunal maupun konflik sosial memerlukan solidaritas dan legitimasi atas tindakannya. Untk mendapatkan legitimasi dan solidaritas yang cepat dan mudah adalah memanfaatkan isu isu yang berkaitan dengan primordial. Rukun akan terabaikan sebagai passion hidup bersama.
sekarang ini banyak orang menyebutkan RT / RW sebatas petunjuk alamat tempat tinggal atau tempat tertentu, namun tanpa sengaja melupakan atau konteks rukun tidak lagi menjadi keutamaan sebagai basis hidup bermasyarakat. Rukun sering kali dianggap kuno, angin lalu dan tidak lagi populer.
Rukun merupakan passion kebhinekaan yang menjadi suatu upaya merekatkan perbedaan, mengerem potensi konflik . Rukun juga merupakan filosofi merupakan kesadaran tanggung jawab dan disiplin atas kesepakatan yang telah dibuat bersama. Rukun mejadi implementasi penerimaan pengakuan dan penghargaan antar sesama dalam keberagaman.
kerukunan bisa saja karena kebagian. Diam tenang tatkala ada kepastian dalam pembagian sumber daya. Mendukung karena memperoleh bagian. Itu merupakan konteks preman yang bukan patriot. Ala pak ogah ” cepek dulu “. Atau gaya si lumba lumba : ” makan dulu”. Proses mendapatkan bagian ini semestinya dilihat dari produktifitas atau prestasi kerja. Tatkala ala premanisme memang sering di gebyah uyah/ pukul rata ala atau model karitas atau sedekah. Model preman menjadi parah lagi dengan pemaksaan/ pemerasan sebagai wujud ” buluh bekti glondong pangareng areng”/ memberi japrem ( jatah preman). Asu gede menang kerahe/ siapa yang kuat dia yang terbanyak bagiannya. Keadilan dilecehkan diganti dengan ketidakadilan. Pelecehan tas keadilan seringkali dijadikan issu untuk merusak kerukunan.
“Asu gedhe menang kerahe”. Akal dikalahkan okol/ otak dikalahkan dengkul. Siapa saja yang teriak paling keras dan diikuti kelompoknya dianggap sebagai kebenaran dan dianggap punya hak sebagai pemenang dalam perebutan sumber daya. Keroyokan akan menjadi pilihan untuk mengoyak kerukunan. Siapa saja yang mengingatkan atau mencegah niatnya akan berpikir dua kali setidaknya. Apakah berbuat atau memilih diam.
Kekerasan berdampak kejahatan? Pelaku kekerasan adalah penjahat ? orang baik lbh banyak dari orang jahat. Hanya saja para penjahat ini dominan dan mendominasi, kekuatan, berani “nggasruh” dari mengatasnamakan sampai menggeser kebenaran dengan pembenaran. Mayoritas orang baik seringkali memilih diam ini bukanlah kalah, bisa saja karena banyak pertimbangan atau enggan berurusan dengan kaum dengkul. Logika tidak akan dipakai sikap dan sifat nggasruh ini yang membuat silent majority. Namun tatkala ada solidaritas maka kaum orang baik yang dikatakan diam, bisa bangkit melawan melalui cara yang bisa dikategorikan sebagai civil disobidience atau pembangkangan sipil.
Rukun passion untuk merawat kebhinekaan yang semestinya menjadi acuan para aparatur penyelenggara negara yang diberi amanah rakyatnya. Sehingga para para aparat memberikan pelayanan perlindungan dan pengayoman bukan sebaliknya menjadi pemalak atau malah rebutan palakan dan saling gepuk gepukan sendiri diantara mereka. Perebutan sumber daya dan perebutan pendistribusian sumberdaya ala preman memang tidak fair, paling banyak dilakukan tak peduli merobek robek peradaban. Ini isu yang menstimuli konflik. Bagi yang berkonflik masa bodoh dengan hukum atau aturan, yang penting menang hati senang peduli setan semua rusak berantakan. Seakan king kong yang menepuk nepuk dadanya sambil teriak teriak mengamuk di sana sini.
Kita bisa belajar dari kisah Mahabarata dan perang Bharata Yuda, perang saudara yang saling hajar sesama anak bangsa karena ketamakan dan tidak rukun. Kisah Mahabarata sarat dengan keutamaan walaupun juga dikisahkan atas ketamakan dan keangkaramurkaan. Ketamakan Dewi Setyawati yang terus menginginkan garis keturunannya menguasai Hastina pura. Hingga tidak mempedulikan Dewabrata atau Bisma yang lebih memiliki hak atas Hastinapura. Namun Bisma dengan penuh
Kesadaran mampu menunjukkan kualitas terbaik dan tertinggi atas jiwa dan raganya sebagai manusia untuk berkorban merelakan haknya sebagai penguasa Hastinapura. Bisma mampu mengendalikan pikiran dan jiwanya sebagai orang yang memiliki keutamaan hidup.
Kisah Duryudana yang selalu ingin menang sendiri dengan berbagai dalih merasa paling benar dan terus mengumbar angkaramurkanya. Dampak keserakahannya menjadikan dirinya terus merasa ketakutan dan kekurangan segala cara ia lakukan demi memenuhi hasrat duniawinya yang tak terkendali. Berbeda dengan Yudistira dan adik adiknya ( Pandawa) yang selalu berupaya untuk menahan ketamakan, amarah dan angkara murka. Pamdawa berupaya menjadikan hidupnya sebagai implementasi atas suatu tanggungjawab bagi hidup dan kehidupan sosial.
Cinta buta dan kelekatan dunia menjerumuskan jiwa kedalam duka baka. Guru Durna yang begitu mencintai anak semata wayangnya ingin memberinya kemewahan, kehormatan, kekuasaan hingga lupa memberikan ajaran kebenaran. Aswatama mampu dalam banyak hal namun ia selalu saja melakukan ketidakbenaran dan menyalahgunakan kemampuan dan kesempatan yang ada. Hingga ia dikutuk Basudewa Krisna merana hidupnya dalam waktu yang sangat lama. Keinginan manusia untuk selalu dipahami sebenarnya merupakan akhir kehancuran dan awal penderitaan.
Kekuasaan dan kekuatan menjadi impian setiap insan, yang merupakan prasyarat untuk memenangkan pendominasian pemberdayaan maupun pendistribusian sumber daya. Apa yang juga dialami Karna sang Surya putra karena harus hidup sebagai anak kusir ia berjuang dan belajar demi menaikkan derajatnya dan agar tidak terhina. Hati manusia kadang sebesar butiran gandum, lemah dan mudah patah menghadapi kenyataan yang tak sesuai dengan harapan. Kadang hati yang lemah tadi berubah menjadi dendam yang tak berkesudahan.
Manusia selalu penuh dengan kekhawatiran akan masa depan melupakan masa kini. Kisah Sangkuni yang begitu mencintai adiknya Gandari yang menikah dengan Destrarata yang bua, ia ingin memberikan kebahagiaan dunia di masa depan yang sering kali di impi impikannya. Cara apa saja ia lakukan kepandaiannya dijadikan alat sebagai pemuas dendamnya. Kepuasan dendam sebenarnya hanyalah ilusi yang membutakan sehingga tiada rasa puas terus saja kekurangan dan hidupnya penuh ketakutan dan kekhawatiran
Ketamakan dari para tokoh dalam kisah Mahabarata merupakan gambaran sifat manusia yang ingin selalu menang sendiri dalam mendominasi dan dominannya dalam perebutan sumberdaya. Demikian halnya kisah kisah dari para tokoh yang berbudi luhur telah memberikan inspirasi atas keutamaan. Dalam hidup dan kehidupan sosial keutamaan merupakan suatu nyali berkorban sebagai manusia untuk menjalankan hidup dengan rasa syukur dan mengendalikan jiwa sehingga mampu untuk : memahami orang lain, .memberikan bantuan, keberadaanya membawa manfaat, membuat suasana aman nyaman damai dan tenteram, agar semakin manusiawinya manusia.
Kelekatan dan keterikatan akan duniawi membuat hidup jauh dari rasa bahagia. Dua membuat manusia jumawa. Merasa paling segalanya. Harga diri seringkali di tonjol tonjolkan dan diutamakan dan digunakan untuk memaksa sampai meminta belaskasihan.Tatkala tanpa keutamaan hidup maka pikiran perkataan perbuatan dan jiwanya akan dikuasai dan mudah dikalahkan. Nyalinya terbelenggu dengan hal hal yang duniawi. Keyakinan maupun nilai nilai yang dipujanya pun hal hal dunia saja. Sama sekali akan jauh dari yang Ilahi. Itulah yang membuatnya hidup selalu lepas kendali. Tuhan Maha Kuasa, ia hanya meminta kita percaya kepadaNya. Tatkala manusia ingat akan yang ilahi jiwanya memilki nyali mengobarkan keutamaan walaupun hati panas pikiran tetap dingin. Mampu mengalah dan mengendalikan amarah dan angkaramurkanya dalam sikap berdoa atau laku tapa. Mampu memilih jalan tengah yang bijaksana daripada berdebat atau melakukan hal hal yang memperuncing masalah. Terus melatih hati tetap tenang dan waras dalam menghadapi tantangan hidup dan kehidupan.
Akar masalah dari perang Baratayudha secara garis besar dapat dikategorikan sbb :
1.Keserakahan yang terus turun temurun. Dari dewi Setyawati, Destrarata, Gandari, Sangkuni hingga Duryudana dan para Kurawa.
2.Sikap iri hati terhadap prestasi Pandawa dan ingin merampas hak Pandawa sehingga ingin mencelakakan sampai ingin membunuhnya.
3.Kejumawaan Duryudana yang menimbulkan rasa dendam mendalam sejak usia kanak kanak.
4.Cinta buta dari Raja Destrarata dan Dewi Gandari serta Sangkuni yang memanjakan dan menghasut para Kurawa
5.Bisma yang Agung yang bersumpah membela dan menjaga tahta Hastinapura namun terbelenggu ketamakan Duryudana.
6.Guru Durna yang mengejar materi dan keduniawian bagi membahagiakan Aswatama anaknya sehingga terjebak pada hasutan Sangkuni dan Duryudana
7.Dendam Karna kepada para Pandawa terutama kepada Arjuna. Yang dimanfaatkan Duryudana sehingga terjebak pada sumpah dan janji persahabatan nya.
8.Pembakaran Pandawa dan ibu Kunti di istana Warnabrata hanya demi tahta Hastinapura
9.Kekalahan Pandawa dalam permainan dadu dengan kelicikan Sangkuni yang berdampak pelecehan terhadap Drupadi maupun para Pandawa yang berdampak pada pengasingan Pandawa selama 12 tahun dan penyamaran selama 1 tahun.
10.Sumpah Drupadi yang mengutuk dan dendam terhadap Kurawa menjadi amarah yang menyulut perang Bharata Yudha
11.Sumpah Bima untuk membalas dendam dan menumpas seluruh Kurawa
12.Penghinaan terhadap Basudewa Krisna yang menjadi duta perdamaian yang ditolak Kurawa
13.Karma atas kutukan dari para tokoh tokoh Kurawa dari Bisma yang Agung, Guru Dorna, Raja Angga Karna, Raja Salya, Jayadrata, Duryudana, Dursasana, para Kurawa
Masih banyak kisah yang menjadi pembelajaran untuk rukun dalam menjaga, merawat dan menumbuhkembangkan kebhinekaan. Tatkala peradaban diabaikan dan ala preman diunggulkan dan dibangga banggakan maka tinggal menunggu waktu bubrah. Karena tidak mampu lagi melakukan dialog, akal berganti okol, tindakan nggasruh dengan pokok e yang mendorong kerah atau crah atau saling gepuk gepukan sendiri.
Komunikasi Sosial bagi Kemanusiaan, Keteraturan Sosial dan Peradaban
Manusia sebagai mahkluk sosial, di dalam hidup dan kehidupannya ma memerlukan adanya sesuatu sebagai penyelaras atau harmoni melalui komunikasi. Penyelaras atau harmoni melalui komunikasi merupakan suatu jalan tengah atau jembatan untuk berkomunikasi atau mencari solusi untuk mereduksi maupun menyelesaikan suatu konflik sosial. Atau setidaknya sebagai pelepasan kepenatan atau mencegah terjadinya penyimpangan atas kesepakatan yang telah dibuat. Penyimpangan sosial yang terjadi tentu saja kontraproduktif, sehingga perlu adanya pencegahan atau menyelesaikan keteraturan sosial dalam rel kemanusiaan atau peradaban.
Pemahaman maupun kesadaran akan komunikasi sosial menjadi dasar terbangunnya kesepakatan sosial.
Komunikasi sosial menjadi jembatan mencerdaskan kehidupan sosial, dapat dilakukan melalui berbagai media. Mentransformasi melalui komunikasi sosial adalah seni. Seni bukan sesuatu hafalan, melainkan kemampuan untuk menyalurkan imajinasi dlm pemikiran hati atau jiwa dalam karya suara, nada, cerita, kata, gerak, rupa yan bervariasi. Seni merupakan refleksi peradaban. Semakin tinggi peradaban manusia nilai akan hidup dan kehidupan manusia ditransformasikan dengan berbagai cara yang bercita rasa seni.
Hidup tidak sebatas menjalani kehidupan dan menunggu kematian, melainkan ada sesuatu yang diperjuangkan, ditransformasikan bahkan diwariskan atau untuk ditradisikan sehingga lestari dari generasi ke generasi. Dalam kehidupan sosial proses transformasi melalui komunikasi sosial dapat dilakukan dari perorangan maupun kolektif yang menjadi budaya. Kebudayaan dengan seni saling kait mengkait berkaitan satu sama lain dalam mengeksploitasi sumber daya maupun pendistribusiannya yang dilakukan secara selektif prioritas. Melalui komunikasi sosial seni dapat menjadi ikon peradaban.
Implementasi atas pemenuhan kebutuhan hidup untuk bertahan bahkan tumbuh dan berkembang melalui komunikasi, seni dan budaya yang dibangun suatu rekayasa sosial. Di dalam rekayasa sosial inilah seni dalam komunikasi sosial menjadi suatu kebudayaan untuk ditumbuh kembangkan. Komunikasi sosial merupakan jembatan peradaban untuk mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial, sehingga aman, juga ada rasa aman, nyaman, asri bahkan ngangeni. Mewujudkan komunikasi sosial yang mencerdaskan dan mampu menjadi jembatan peradaban memerlukan adanya leadership yang kuat, yang mampu belajar dan memperbaiki kesalahan di masa lalu, siap di masa kini dan mampu menyiapkan bagi masa depan yang lebih baik.
Mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial melalui komunikasi sosial membangkitkan solidaritas sosial secara kolektif bersama sama membangun atas dasar kesadaran tanggung jawab dan disiplin untuk ditaati ditransformasikan dan ditradisikan. Seni dalam komunikasi sosial berbasis rasa dalam jiwa sarat imajinasi yang diimplementasikan dalam berbagai bagi hidup dan kehidupan. Dari pemenuhan kebutuhan jasmani kebutuhan rohani kebutuhan biologis dan kebutuhan adab semua diolah dan diekspresikan dengan cita rasa kemanusiaan yang menjadi tradisi bahkan kebudayaan.
Seni dalam komunikasi sosial menjadi refleksi peradaban menjadi harmonisasi kehidupan sosial. Dan ada jembatan indra dengan hati bagi semakin manusiawinya manusia. Hidup menjadi semakin hidup dalam keselarasan keteraturan sosial. Penyelesaian atas penyimpangan sosial maupun konflik sosial yang kontra produktif dapat diselesaikan secara beradab. (Chrysnanda Dwilaksana)
Whoosh 090924







