
TRANSINDONESIA.co | Membangun keteraturan sosial dengan pendekatan peradaban, meminimalisir kegaduhan melalui colling system merupakan proactive dan problem solving policing.
Pola pemolisian dalam membangun dan memelihara keteraturan sosial apalagi di masa sulit ya g berpotensi terjadi konflik sosial dan berbagai hal yang kontra produktif coolling system menjadi bagian penting dan mendasar. Polisi dalam pemolisiannya untuk melayani dengan cara cara yan proaktif dan solutif setidaknya dapat melakukan langkah langkah :
1. Memberdayakan manajemen media yang ada terutama sosial media on line untuk memberi edukasi, motivasi, informasi, mengcounter hoax dan berbagai issue yang menyesatkan atau provokatif.
2. Memberdayakan para mitra dan para stake holder untuk membangun satuan tugas bersama mulai dari : patroli, penjagaan, sosialisasi hingga penanganan sesuatu yang bersifat emergency maupun contigency dengan mengedepan upaya upaya pencegahan.
3. Menerapkan smart manajemen dalam Electronic policing untuk bekerja dalam sistem terhubung atau on line untuk pekerjaan manajerial, memberikan literasi on line, coaching, monitoring media, big data system,intellegent media, one stop servive, quick response time, dsb.
4. Working group melalui media sosial, WA, IG, FB, Tweeter, Telegram, you tube, tiktok dan sistem online lainnya dll.
5. Sistem monitoring evaluasi melalui peta digital berbasis AI dan IoT seperti google map, waze dll
6. Mengaktifkan media policing untuk sistem pelayanan kepolisian
7. Membuat sistem pengamanan kota maupun sistem kegawat daruratan apabila terjadi konflik besar/ chaos
9. Menyiapkan perlengkapan bagi petugas lapangan yg sesuai standart
10. Membangun back up sysgem secara managerial, operational, para pakar, media, akademisi, para tenaga medis dsb
11. Membangun sistem pengaman dan pengawasan kegiatan sosial kemasyarakatan pada: pusat pemerintahan, pasar, tempat kegiatan berkumpulnya massa dsb. kemasyarakatan lainnya
12. Memonitoring dan mengawasi pemukiman dan kawasan lainnya agar tidak terjùadi gangguan lainnya seperti kebakaran, listrik mati, pencurian, berbagai provokasi dll
13. Membangun wadah solidaritas sosial dan gerakan moral melalui mitra seperti: tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, dsb
14. Membangun sistem implementasi Smart Policing
15. Membuat protokol data yang di sharingkan kepada publik maupun stake holder lainnya
16. Penguatan institusi terutama bagi petugas polisi terjamin tingkat kualitas kinerjanya
17. Membangun tim kreatif yammhh bermitra dengan para pakar maupun praktosi untuk membantu penemuan ide ide baru dan solusi yang efektif dan efisien
18. Mengaktifkan sistem sentra pelayanan publik sebagai posko/ operation roo sbg pemantau keadaan yg siap untuk menggerakkan k3i (komunikasi koordinasi komando dan pengendalian serta informasi)
19. Menyiapkan tim quik response sebagai back up tim baik untuk administrasi, operasional maupun IT apabila terjadi sesuatu yg bersifat kontijensi
20. Menyiapkan tempat darurat dan tim kesehatan yang dimiliki atau setidaknya standar tindakan pertama dapat dilakukan
Coolling system secara konsep point point di atas dapat diimplementasikan dg model asta siap :
1. Siap piranti lunak yang berupa panduan, protokol dsb
2. Siap untuk model skrnario kondisi terburuk sekalipun
3. Siap posko yang secara virtual maupun aktual mampu menjadi pusat k3i untuk memberikan pelayanan cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel, informarif dan mudah diakses.
4. Siap jejaring atau mitra di semua lini yang dapat menjadi kepanjangan tangan dalam menyelesaikan suatu masalah
5. Siap personil yang akan ditugaskan pada posko satgas ( satgas turjagwali, satgas darurat dan kontihensi, satgas it, satgas kesehatan dsb sesuai situasi dan kondisinya) maupun untuk kontijensi dan cadangan
6. Siap mitra atau stake holder yang siap mendukung pemolisian secara proaktif n problem solving
7. Siap sarana prasarana untuk perorangan, kelompok maupun kesatuan
8. Siap anggaran bujeter maupun yg non bujeter.
Coolling system dapat dibangun dalam rekayasa sosial (social engineering).
Kita dapat melihat model yang disiarkan NHK. Suasana teduh damai digambarkan dalam seni budaya, yang
dilakukan dan dipertontonkan serta diajarkan secara masif dan terus menerus. Hal lain yang dapat dijadikan model adalah tentang sikap pemain dan suporter sepak bola Jepang yang kalah bertanding. Mereka tetap menunjukan sikap yang santun, hormat ada rasa terimakasih sebaga tanda uang menunjukan sesuatu yang humanis dan beradab. Sebelum meninggalkan stadion mereka membersihkan sisa sisa kotoran dan menunjukan stadion bisa lebih bersih dari sebelum pertandingan.
Tata cara adat meminum teh ” cha no yu” betapa mereka sangat lembut dan menghormati dan menikmati atas nikmat rasa meminum teh. Bagaimana mengembangkan seni : Bonsai, Ikebana, suiseki, origami, taman zen, upacara tradisi matsuri dsb. Kebiasaan yang baik akan membawa kepada hati nurani yang baik. Kebiasaan baik, diajarkan dilatihkan terus menerus sehingga menjadi habitus dan semua dijalankan secara reflek. Bangsa berbudaya akan menghargai seni budaya dan mampu menata keteraturan sosial dan mengemas menjadi pariwisata.
Sumberdaya yang ada akan dibangun dalam kemanusiaan, keteraturan sosial dan peradaban. Kebiasaanpun akan menjadikan suatu keahlian. Kebiasaan sebagai sesuatu yang telah terpola, berulang dari waktu ke waktu untuk mengerjakan sesuatu yang terstruktur. Kebiasaan hampir-hampir mendekati insting (reflek), kalau dilatih terus menerus akan menjadi suatu kepekaan dan keahlian.
Sering kali kita melihat pemain-pemain akrobat, mereka sangat mahir melakukan berbagai atraksi yang tidak semua orang bisa/berani melakukan. Kebiasaan melakukan sesuatu yang baik memang harus dilatih dengan penuh ketekunan, apalagi kebiasaan yang memerlukan kompetensi. Tanpa pendidikan dan latihan sulit bagi seseorang mempunyai kebiasaan yang baik. Kebiasaan yang baik akan menjadikan seseorang memiliki hati nurani yang baik. Keahlian yang berguna/ bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia dimulai dari pendidikan dan latihan untuk membiasakan yang baik.
Dasar dari pendidikan dan latihan yang baik dimulai dari kesadaran dan tanggung jawab. Membangun kesadaran dan tanggung jawab melalui sistem/mekanisme untuk merubah mind set seseorang. Membangun mind set, dalam masyarakat diperlukan rekayasa sosial yang didukung dengan sistem, program dan teknologi. Kebiasaan yang baik perlu dijabarkan indicator-indikatornya, sehingga kebiasaan yang baik dapat dinilai kompetensinya.
Dalam suatu organisasi maupun institusi, kebiasaan yang baik dapat dikategorikan sebagai perilaku organisasi. Perilaku organisasi dapat dibuat acuan pada etika kerja yang berisi apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Etika kerja menjadi bagian dari SOP (standard operational procedure) yang terdiri dari, job description dan job analysis, standar keberhasilan tugas, sistem penilaian kinerja, dan sistem reward dan punishment.
Kebiasaan baik tidak akan muncul tatkala banyak peluang untuk menyimpang, kesadaran tanggung jawabpun akan ikut menghilang tatkala tidak ada sistem yang unggul. Tatkala kebiasaan yang baik tidak ada maka keahlianpun tidak didapatkan. Menjadi ahli karena terbiasa dan mempunyai kompetensi.tatkala disatukan pada komitmen dan keunggulan yang akan menjadi karakter.
Karakter dapat dipahami dari komitmen, integritas dan keunggulan. Itu semua dimulai dari sang pemimpin dan kepemimpinannya. Tatkala pemimpin mampu menunjukan sesuatu dengan penuh dengan cinta dan kasih sayang untuk melindungi, mendidik dan mampu menjadi ikon maka ini juga akan mampu bagi pembangunan karakter dan untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik.
Coolling system dapat dikembangkan melalui art policing ( pemolisian melalui pendekatan seni budaya dan pariwisata ). Art policing sebagai upaya merawat seteraturan sosial dalam pendekatan seni, budaya dan pariwisata. Di era post truth model pembenaran diolah sedemikian rupa sehingga pembenaran diyakini sebagai kebenaran dan mengobok obok opini publik. Senjata mereka adalah berita2 hoax yang membingungkan atau menngerus percayaan satu sama lainnya.
Amanat konstitusi, salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tatkala terjadi pembodohan membuat otak terbelenggu bahkan saling hantam antar sesama apa yang sebenarnya terjadi?
Penghancuran peradaban atau merusak seni budaya yang tidak lagi membuat harmoni atas keteraturan sosial. Aktor intelektual yang mendesain suatu rekayasa sosial secara terstruktur menggunakan pola adu domba, labeling, hembusan dengan ujaran kebencian maupun issue primordial. Atau mungkin dengan gaya preman dan mafia birokrasi yang sarat KKN yang menggerus sendi kehidupan sosial. Semua itu sangat mungkin terjadi tatkala dilakukan secara masif dan terus menerus, daya tahan suatu masyarakat akan sangat rendah rentan konflik dan dapat merambah ke issue lainnya terutama ekonomi dan politik.
Hal ini akan berdampak luas dan sulit diatasi. Gangguan keteraturan sosial atau perusakan peradaban ini sebatas cara,tujuan utamanya menggerus daya tahan, daya tangkal bahkan hingga kedaulatan bangsa.
Bagaimana memcerdaskan kehidupan bangsa? Bagaimana membuat sadar atas belenggu otak dan penumpulan daya nalar ? Membangun kesadaran dan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui edukasi, membangun sistem dan juga penegakkan hukum. Pendekatannya untuk meminimalisir kesempatan terjadinya penyimpangan.
Penyelenggaraan tugas polisi dalam ranah birokrasi maupun masyarakat (policing) untuk mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial dapat dilakukan melalui pendekatan seni budaya. Pemolisian yg berbasis seni budaya ( art policing), bukan sekedar seremonial atau sebatas kegiatan sesaat melainkan proses bagaimana proses kegiatan seni budaya muncul sebagai penyelaras atau pengharmonian kehidupan sosial kemasyarakatan.
Art policing sebagai program dapat diselenggarakan melalui berbagai kegiatan antara lain :
1. Memberikan ruang bagi tumbuh dan berkembangnya seni budaya
2. Membangkitkan ikon seni budaya tingkat komunitas agar mampu bergerak atau turut dalam proses hidup tumbuhkembangnya seni budaya
3. Menjalankan pemolisian dlm pendekatan religi seni dan tradisi dengan berbagai festival yang dikemas melalui edukasi maupun tradisi.
4. Gerak nada rupa dan suara menjadikan bagian dari kegiatan yang dapat dilihat pada penampilan fisik, kinerja maupun gaya dan modelnya
5. Tampilan seni dalam ruang publik atau pada tempat pelayanan kepolisian
6. Jurus pelipur lara agau penggeli hati untuk memecah kebuntuan atau kebosanan dalam kehidupan
7. Menggerakkan berbagai program masyarakat sadar wisata
8. Memberdayakan media teknologi dan informasi sebagai penyambung hati
9. Memberdayakan kegiatan sosial kemasyarakatan secara langsung maupun melalui media, dsb
Banyak lagi cara dpt dikemas dan diimplementasikan melalui seni budaya dan pariwisata. Krn seni budaya dan pariwisata, menunjukkan rasa atau jiwa kemanusiaan, keteraturan sosial dan peradaban. Art policing dapat menjadi model pemolisian yang humanis. Menggerakkan masyarakat sadar wisata untuk menjaga keseimbangan manusia dengan alam lingkungan maupun dengan sesamanya.
Di era revolusi industri 4.0 model E policing atau pemolisian elektronik dapat dibangun dalam sistem on line atau terhubung dengan adanya big data dan one gate service system. Art policing menjadi penyeimbang akan harkat martabat manusia dan peradabannya menuju society 5.0. Seni budaya sebagai ikon kemanusian keteraturan sosial dan peradaban. Agar kedaulatan bangsa tidak tergerus budaya asing maupun pesatnya perubahan dan kemajuan teknologi.
Seni ada dalam semua lini kehidupan. Seni sebagai jalan untuk menyeimbangkan atas hidup dan kehidupan. Seni itu solusi. Area publik area seni, ya semestinya begitu. Area publik adalah refleksi kualitas dari para pengelola sumber daya yang dipercaya masyarakat. Kebijakan para pejabat yang menjalankan amanah rakyat semestinya menampilkan area publik yang humanis dan asri. Di tempat publik warga secara mudah dan gratis dapat menikmati keasrian hidup. Atau setidaknya sebagai ruang solusi menghadapi penatnya hidup.
Area publik sebagai destinasi dan event pariwisata. Di sini perlu ada penataan bagi keteraturan sosial. Area publik ada pelayanan publik. Pelayanan keamanan, pelayanan keselamatan, pelayanan hukum, pelayanan admistrasi, pelayanan informasi dan pelayanan kemanusiaan. Pelayanan publik tersebut berkualitas prima. Dan ditata dengan cita rasa seni. Misalnya di negara nega maju : di dalam kotanya ada informasi karya karya para maestronya. Ada ruang untuk panggung terbuka, ada ruang pamer atas karya karya maestro dunia dsb. Area publik, area inspirasi, area edukasi dan transformasi. Keteraturan di area publik ini menjadi ikon peradaban.
Area publik area seni. Polisi melalui pemolisiannya memiliki ruang dalam pemolisiannya dengan pendekatan seni budaya dan pariwisata (art policing). Ini bukan sebatas polisi berkesenian atau melakukan aktivitas seni di area publik namun mampu menunjukan bahwa pemolisiannya yang bagi kemanusiaan, keteraturan sosial dan peradaban merupakan suatu seni dan budaya bahkan dapat menjadi ikon pariwisata.
Art policing dilakukan melalui dialog. Komunikasi menjadi kunci untuk mengimplementasikan pemolisian. Area publik dapat menjadi pilot project implementasi art policing. Polisi memang bukan dididik untuk menjadi seniman namun setidaknya mampu memahami dan mengapresiasi seni. Seni bagi polisi adalah bagian darigaya hidup. Polisi sebagai petugas, sebagai fungsi maupun institusi yang mampu mengimplementasikan art policing maka akan lebih soft dalam melakukan pemolisiannya.
Soft dalam konteks ini dalam menata keteraturan sosial dan membangun peradaban adalah pada humanisme dan ada cita rasa seni yang mampu menjadi coolling system. Komunikasi dalam berbagai cita rasa seni dari nada, suara, sastra, rupa, gerak tarian, pertunjukan, dsb.
Kembali pada area publik, polisi dalam pemolisiannya sejatinya pada area publik. Karena pada area publik merupakan area di mana semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Polisi memasuki area privat wajib ijin apalagi melakukan upaya paksa. Area publik refleksi peradaban? Kalau iya segala sesuatu kaitan dengan pelayanan publik seni budaya dan pariwisata menjadi pendekatan bahkan pilarnya yang dapat menjadi dialog dalam membangun coolling system. [Prof. Chrysnanda Dwilaksana]
Gerimis Tegal Parang 220223







