
TRANSINDONESIA.co | Ini kabar dari tempat tinggi. Situs Skyview dari Deli. Satu gedung vertikal yang ada balkoni. Ijinkan saya menengadahkan wajah Literasi b’Joni. Masih tabah Imsak sepenoh hari.
Dari sana saya mencerna ayat-ayat Al A’raaf. Dan, ujaran Pak Butler teringat. Ingat tanpa lelehan keringat.
Hatta, pada malam lengang. Pun sewaktu penduduknya tertidur pulas. Pun sewaktu matahari naik sepenggalahan udaranya masih tak panas.
Penduduk negeri musti rajin-rajinlah naik ke “balkoni” cq. ke atas. Lihat utuh menyeluruh. Helicopter View visi kehidupan. Ya..sekalian mencerna ciri insan yang insaniawi: Khalifatul fild Ard. Tugas suci yang diberi Ilahi Rabbi. Dari Ya Malik Penguasa Alam semua sekali. Mari tak hanya tadarusi, dan berani melakoni. Brave to be Greatness of the Great Leadership.
Tengoklah, panorama indah yang itu ntu. Hasil olahan pandangan mata. Iklim udara bugar lingkungan sekitarnya, –walau itu sudah dicap panorama biasa. Macamnya tadak guna. Padahal ajaib, eksotik dan istimewa.
Akan tetapi, bagi amba, itu rizki amat luarrrrr biasa. Siapa yang sanggop jadi developernya? Pun, hadirnya awan cumulonimbus. Yang bercorak putih dan bertumpuk tebal. Yang turut laku “dijual”. Yang jika dieksplorasi dan zikiri, “laku” menjadi ladang amal.
Ada 3 anasir ekologis dari jepret foto-foto yang Greatnes itu: awan, perumahan, lahan persawahan.
Apa jadinya kota, perumahan dan lahan persawahan tanpa sekawanan awan? Kota bukan kotak kosong. Kota bukan kardus. Kita bukan manusia kardus di kota kardus. Kita berhak –dan bertanggungjawab– atas kota dan selanjutnya Negara. Menjadikannya Greatness of Indonesia.
Bagi yang berpikir Greatness, misalkan lelaku peniaga properti “negeri di awan”, ahaa.. baginya koefisien ketinggian ruang itu ada nilainya. Ada harganya. Bisa dijual! Tertera di brosur juragan realestat.
Buktinya? Beda lantai/ ketinggian, beda tarifnya. Beda view-panorama, beda harga jualnya. Padahal developer hanya membangun fisiknya, bukan molek panoramanya. Pelanggan pun tak protes ke negara. Tetap saja membeli ikhwal panorama mahal harganya. Pun hanya klaim label nama!
Label geografis —lokasi, lokasi, dan lokasi— yang melekat (dan yang sengaja dilekatkan), pun laku. Bernilai doku. Cuan. Bukan bualan.
Rupanya, yang dirizkikan –atau meminjam diksi Eamonn Butler: yang dikapitalisasi– bukan hanya obyek fasat properti-realestat yang bisa dipegang: tanggible thinks. Namun untanggibel thinks: pesona alam dan lahan yang elok. Walaupun cuma setengah berdandan. Menjadi lokus properti yang seakan mendongkrak tabiat congkak.
Mereka fasih mengapitalisasi hak penamaan (Naming Right) menjadi pendapatan alias rezeki. Citra dan reputasi adalah rizki. Semua ada angka nilainya. Padahal, comulonimbus dan panorama alami bagus, tak pernah seinci pun dibuatnya.
Walaupun begitu, Pak Butler lupa absolut. Panorama itu ada pemiliknya, fungsi publiknya, dan nilai amaliahnya, yang lebih bernilai Greatness, lagi. Ada public and social rights-nya.
So, mohon ijin saya mengusung diksi (sementara sebut saja) ‘publikisasi’, sebagai lawan dan falsifikasi dari ‘kapitalisasi” ala Butler, yang confirmed tengah mengerjakan proyek narasi post truth: kapitalisme baik hati. Yang hendak membangun kesan citra dan reputasi kapitalisme seakan budiman.
Interupsi sebentar. Islam, kata Arief Budiman, ialah agama keadilan! Keadilan tak bisa diberikan di masyarakat kapitalisme. Saat Nabi Muhammad dengan revolusioner menghancurkan berhala sekitar Ka’bah, hakikatnya ujar Arief, Rasul enyahkan simbol kapitalisme.
Saat Nabi lahir, Makah itu kota dagang cq. kapitalisme. Kini, hal itu beralasan diikuti, menjadi sunnah: anti ketidakadilan. Basis juridis formal guna melakukan dekonstruksi eksploitasi struktural, biang keladi kemiskinan struktural. Tak ada tempat bagi hutang turunan.
Sebagai aktivis hak anak, tesis saya: setiap anak adalah kaya dan sejahtera. Itu Bisa! Pun hanya dengan isi “perut” dan “kulit” pulau Sumatera saja, Indonesia kita bisa sejahtera.
Apa buktinya? VOC juncto Negara Belanda penjajah kolonial sudah lama membuktikan. Dan, negara bawah laut itu malah ketagihan kepada gugusan nusantara. VOC pun Belanda melakukan kapitalisasi, membuat jalan Anyer Panarukan, membangun kota modern seperti Batavia, Medan, Bandung, Surabaya, akan tetapi VOC-feat-Belanda tidak berniat membahagiakan rakyat nusantara.
Kapitalisasi membuat Belanda naik dari bawah laut, dari miskin sumbernya menjadi kaya, tetapi itu justru hutang kemanusiaan dan keadilan Belanda kepada kita.
Pak Butler, itu bukti sejarah bahwa kapitalisasi, dulu pun kini, laten bagi ketidakadilan. Kapitalisme yang berjodohkan Oligarki, adalah bagian luar dari agenda the Greatnes of Indonesia (GOI). Sungguh, Brave tobe GOI, Bisa! Belanda Membuktikannya.
Interupsi dicukupkan. Nanti dilanjutkan.
Tabik.
—Muhammad Joni, Kontributor the GOI.







