Indonesia Berdakwah

Nashar : Mengajar dengan Menyentuh Jiwa

TRANSINDONESIA.CO – Nashar mengajar dengan spirit kesanggaran. Ia juga dianggap pelukis otodidak. Tatkala melakukan perlawanan dengan konsep 3 non ia mulai diejek bahkan dianggap hal yang ngawur. Ia pernah mengundurkan diri berhenti mengajar karena konsep yang berbeda.

Apa yang dilakukan Nashar memang berbeda dengan lainnya. Nashar ingin menyentuh jiwa. Ia menyadarkan bukan sekedar mengajar melainkan ia menyengat untuk munculnya gairah menjadi pelukis bukan sekedar jiwa sarjana seni. Itu mesti muncul dari dalam diri sendiri bukan sekedar ikut-ikutan. Apa yang aku alami hari ini aku seperti diingatkan untuk membuat lukisan dialog dengan Nashar.

Baru niat saja rasa kantuk dan malesnya sudsh sangat besar. Sepertinya lier lier dan dinina bobokan. Aku berusaha melawannya dan aku mencoba mengambil 6 kanvas dan membuat sket wajah Nashar berdasar imajinasiku saja.

Saat melukisnya seperti melayang seakan tidak menyentuh tanah. Kekuatanku seakan hilang semua aku berusaha membangkitkan spirit jiwaku dan kurang lebih 20 menit aku bisa membuat sket sket dan mewarnai sebisaku. Setelah itu aku mandi membersihkan diri tidur lebih dari 3 jam. Rasa kantuk benar benar membuat aku seperti merasa lepas jiwa.

Aku merasa Nashar mengajarkan mengalahkan diri. Dia membiarkan aku memompa nyaliku memegang kuas menulis dan memikirkan kembali tentang Nashar. Nashar mengajar dengan menyentuh jiwa akan menjadikan pelukis kuat jiwa, tidak cengeng tidak gampang hanyut dalam berbagai kesulitan bahkan tetap idealis walau dalam kesulitan hidup.

Warna garis aliran cat menjadi aliran jiwa. Melukis bagi Nashar menorehkan tangkapan jiwa yang telah didialogkan dengan jiwanya. Menjelaskan dalam kata kata memang sulit karena ini pengalaman proses dan sekaligus perjuangan untuk menemukan. Kekuatan jiwa menjadi pilar bagi seniman menjalankan kesenimanannya.

Keberanian melepas raga dan menyentuh jiwa ini membebaskan dari banyak sekat dan belenggu belenggu yang membuat spirit memudar. Ini mungkin yang ingin Mashar sampaikan menangkap jiwa mendialogkan jiwa dan sekaligus menghembuskan jiwa pd karya.

Karya Nashar sendiri yang tanpa figur menunjukkan adanya garis garis dan warna jiwa yangbia torehkan. Nashar sendiri mengakui ia memberi judul karyanya sekenanya dimurip miripkan dengan modelnya. Ia tidak mau terjebak dlm rupa kata atau sesuatu yang bukan pada inti atau jiwa karya.

Jakarta Senja Hari
31 Januari 2021

Chrysnanda Dwilaksana adalah Pecinta Seni Budaya dan Pendiri Kampoeng Semar

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.