Ilustrasi
TRANSINDONESIA.CO – Pada masa pandemi Covid-19 yang sarat dengan keraguan, ketidakpastian hingga ketakutan ada sesuatu yang muncul di balik semua itu. Manusia sang pemikir sang imajiner sang penanya berupaya mencatat dan membuat sesuatu peristiwa itu ada maknanya.
Seni salah satu cara memaknai duka Covid-19. Makna di balik derita dalam gaya tawa canda pun ditorehkannya. Para pejuang kemanusiaan yang gugur tertular saat merawat pun menjadi suatu kenangan. Bagaimana korban infektan Covid-19 pun yang sepi dalam proses pengkafanan hingga pemakamannya pun seakan menjadi suatu hukuman.
Dalam duka dan hukuman ada kekuatan iman penghiburan “Manusia seringkali terjebak pada raga, rupa maupun hal hal yang bersifat dunia namun Tuhan sesungguhnya melihat jiwa”. Ini mungkin yang dapat dijadikan suatu acuan bagaimana seni dari manusia yang memiliki jiwa yang penuh imajinasi bukan sebatas pada rupa, raga atau yang kasat mata namun sebaliknya mampu mengajak menyelami makna di balik dari fenomena itu sendiri.
Memaknai sesuatu menjadi berharga menjadi mempunyai ceritera menjadi tanda bahwa manusia pernah ada hidup memgembara dlm perziarahan di dunia hingga ambang batas kematiannya.
Demikian halnya masa wabah Covid-19 melanda seluruh dunia seolah lumpuh dipadamkan keresahan serangan virus yang begitu cepat menyebar menulari. Manusia mahkluk sosial dibunuh dari dirinya sendiri hingga harus melakukan jarak sosial (social distancing). Era digital, era teknologi masih bisa menjembatani walaupun menjaga jarak bersosialisasi kehidupan sosial di balik layar masih ada.
Di sinilah hati, rasa pikiran dan jiwa manusia dihidupkan oleh manusia-manusia kreatif yang mampu menjaga peradabannya dalam menguatkan jiwa melalui seni. Nada suara kata rupa gerak dan ceritera dikemasnya dalam digital art semua itu menunjukkan manusia masih hidup walau dalam kondisi menjaga jarak. Seni memang bukan sebatas yang ada nampak kasat mata namun justru sebaliknya yang bisa dinikmati melalui peziarahan imajinasi. Di situlah rasa indera berperan untuk membawa budi menikmati menyentuh pada hati yang paling haliki.
S Sudjojono mengatakan: “Jiwa Ketok” jiwa yang nampak. Penampakan jiwa inilah yang ditorehkan menjadi penanda zaman menjadi ceritera sejarah perjuangan akan hidup dan kehidupan manusia. Manusia mahkluk Ilahi yang ahli untuk tetapi ada dan tumbuh berkembang dalam segala suasana. Memorinya akan sesuatu begitu kuat. Seni dijadikan jiwa yang nampak untuk suatu kenangan bagi peristiwa duka lara. Jiwa manusia ini yang menjadikan ikon atau citra atau gambaran bagaimana ada catatan kenangan untuk suatu keabadian.
Pandemi Covid-19 bukan sebatas wabah yang menjadi bencana bagi hidup dan kehidupan namun bisa saja tanda pra perang dunia ketiga. Dalam duka itu tidak semua bencana karena dalam perenungan manusia ada nilai nilai kemanusiaan yang kembali muncul. Seperti untuk tidak semata mata mengejar dunia yang serba terburu buru, silent dan metitation menjadi pikiran mendekat pada Sang Khalik, menjadikan home sweet home penghargaan atas hidup dan kehidupan, keluarga hingga mendaraskan doa dlm hati yang paling hakiki sekalipun dilakukan dengan penuh iman dan pengharapan.
Tata dunia baru akan dihasilkan recovery pasca pandemi Covid-19 ini memerlukan patriot-patriot peradaban yang sarat ide cemerlang yang no box mampu memdobrak tata lama. Memori akan pandemi Covid-19 akan terbangun dalam berbagai wujud dari model konvensional hingga digital. Seni memang apa saja kapan saja dimana saja dengan siapa saja bisa tergantung bagaimana memaknai mengemas dan mensebarkannya. Covid-19 memorial akan menjadi kenangan apresiasi bagi pejuang-pejuang kemanusiaan yang telah tiada maupun yang masih melanjutkan peziarahannya di dunia fana. ***
[Chryshnanda Dwilaksana]







