Lereng longsor.[DOK]
TRANSINDONESIA.CO – Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi, menyebutkan kerugian bencana yang terjadi sepanjang Januari hingga Oktober 2016 mencapai Rp7 miliar.
“Kerugian bencana paling besar akibat kebakaran kompleks Pasar Pelita yang menghanguskan lima kios dan 25 lapak pada 13 Mei lalu,” kata Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Sukabumi, Zulkarnain Barhami di Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu 29 Oktober 2016.
Menurut dia, sepanjang tahun ini sudah terjadi 134 kali bencana dengan rincian bencana akibat kebakaran sebanyak 14 kejadian, banjir genangan sebanyak 33 kasus, tanah longsor sebanyak 43 kejadian, angin topan 24 kejadian, gempa bumi tiga kali dan bencana lainnya sebanyak 17 kejadian.
![Korban longsor.[DOK]](https://transindonesia.co/wp-content/uploads/2014/02/jayapura-longsor.jpg)
Kepala BPBD Kota Sukabumi Asep Suhendrawan menambahkan, bencana memang tidak bisa diprediksi, namun pihaknya berupaya meminimalkan dampak dari bencana tersebut baik jiwa maupun harta.
Kondisi cuaca yang ekstrem ini dengan intensitas curah hujan sangat tinggi, berpotensi terjadinya bencana seperti banjir dan tanah longsor.
Tapi walaupun musim hujan kasus kebakaran juga cukup tinggi seperti beberapa hari lalu terjadi kebakaran yang menghanguskan satu unit rumah milik wanita lanjut usia di Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong.
“Kami tidak hanya mengimbau warga untuk siaga bencana tanah longsor dan banjir saja, tetapi kebakaran. Karena potensi terjadinya kebakaran cukup tinggi yang disebabkan oleh hubungan pendek arus listrik yang dikarenakan kelalaian manusia,” tambahnya.
Ia mengatakan, seluruh kecamatan di Kota Sukabumi rawan terjadi bencana. Untuk rawan bencana banjir dan longsor berada di wilayah Kecamatan Gunungpuyuh, Warudoyong, Baros, Lembursiti dan Cibeureum. Untuk kebakaran seluruh atau tujuh kecamatan berpotensi terjadinya bencana tersebut khususnya Kecamatan Citamiang dan Cikole yang merupakan daerah padat penduduk.[ANT]






