TRANSINDONESIA.CO – Berlanjut pada pilkada 2017 yang akan datang setiap parpol tentunya memiliki grand strategi politiknya dalam upaya memenangkan pasangan calonnya. Dalam meluncurkan strateginya setiap parpol tentunya selalu bekerjasama dengan lembaga survei yang dipilihnya guna mengetahui peta politik yang akan dianalisa untuk mencari titik-titik kekuatan dan kelemahan paslon dan lawan politiknya.
Keberadaan juru bicara, ketua tim kampanye dan ketua tim relawan juga memiliki peran yang sangat penting dalam timses terutama dalam mengenal sosok pribadi masing-masing apakah dikenal baik oleh masyarakat Jakarta umumnya dan kader parpol pada khususnya.
Dengan demikian, sosok para jubir, ketua tim kampanye dan pemenangan itulah masyarakat menilai bahwa sosok tersebut sangat mempengaruhi hubungan emosional antara timses dengan masyarakat pemilihnya.
![Pasangan calon Gubernur DKI, Ahok - Djarot, Agus – Sylviana, Anis Sandiaga.[IST]](https://transindonesia.co/wp-content/uploads/2016/09/Ahok-Djarot-Agus-–-Sylviana-Anis-Sandiaga.jpg)
Setiap paslon tentunya dipastikan memasang para jubirnya dari kalangan petinggi partai baik dari tingkat pusat maupun daerah bahkan sebagian dari mereka ada juga yang memasang para artis ternama guna meraih simpatik para pemilih.
Tetapi yang lebih formilnya adalah sosok-sosok siapa saja yang akan dijadikan ketua tim kampanye dan kemenangan bagi paslonnya.
Pada koalisi pasangan Agus-Silvi ketua tim kampanye pemenangan dipegang oleh kandidat calon wakil Gubernur pada pilkada tahun 2012 lalu yaitu Nahrowi Ramli (Bang Nara) yang saat ini menjabat sebagai ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta.
Pada pasangan petahana Ahok-Jarot ketua tim kampanye pemenangan dipegang oleh Prasetyo Edi (bang Pras) dari PDI Perjuangan yang saat ini menjabat sebagai ketua DPRD DKI Jakarta.
Bang Nara dan Bang Pras sangat dikenal baik oleh masyarakat Jakarta sehingga dapat dinilai sebagai timses yang kuat dalam menghadapi pertarungan pilkada Jakarta 2017 nanti. Begitupun dengan Bang Nara yang juga dikenal baik oleh masyarakat Jakarta khususnya pada kalangan masyarakat Betawi. Akan tetapi, timses Bang Nara dan timses Bang Pras mengalami gangguan secara internal pada partainya disebabkan banyak para kader dan simpatisan parpol menolak cagub petahana Ahok dengan berbagai alasannya terutama pada masalah prinsip keyakinan agama.
Sehingga, gangguan-gangguan internal itulah yang bisa menyebabkan tidak maksimalnya mesin partai yang dapat mempengaruhi grand strategi politiknya dalam memenangkan pilkada 2017 nanti. [Adang Taufik Hidayat – Pengamat Politik Fakta Institut]







