Muhammad Joni
TRANSINDONESIA.CO – Siang Sabtu, 1-10-2016 anak gadisku sempat membantu sang kakeknya, Abo, memesan transportasi taksi beraplikasi ‘Go Car’ dari Samsung J5 (“SJ5”) miliknya.
Sang Abo terkekeh kecil: ‘heehee’, dan melempar senyum sumringah pada cucunya yang berhasil menghadirkan taksi lewat kerja jemari.
Lepas Ashar jelang usai petang, dari SJ5 di genggaman, Adek memantau jadwal film yang tayang di Gading XXI sembari memeriksa pesan dan up load foto di akun instagram. Quality time pun dirancang.
Ini saatnya keluar rumah mengisi waktu luang. Dari petang sampai menemui Magrib, si bungsu gadisku tekun duduk di sofa resto pasta yang sajikan menu kuliner ala urban, sembari jemarinya lincah utak-atik sana-sini SJ5 yang serba terkoneksi berbagai aplikasi digital.
Aku dan anak gadisku, kami berdua saja. Koq? Mamanya tengah di Medan, menghadiri hajatan reuni alumni FH USU stambuk 89. Dengan atau tanpa helat reuni, kawan seangkatannya: Winda Syazki, Tengku Devi Azwar, Farida Hanum, Terrayani Kamin, Selfina Ina, bersepakat bulat bersahabat forever. Sulung Haikal Firzuni sejak menjelang tengah hari telah mengantongi ijin melalak dengan kawan kuliahnya menghadiri satu acara. Dia bersiap menjadi aktifis. Sungguh, waktu berjalan tanpa jeda interupsi.
Eureka. Waktu adalah timbangan yang adil, tersebab lintas edar matahari kepada bumi idemditto kepada planet lain, begitu absolut ikhwal ukuran akurasi dan presisi. Adil adalah satu sifat Allah Yang Maha Menguasai Alam Semesta. Demi masa adalah demi Yang Maha Adil. Adil tanpa interupsi.
Berjalannya waktu begitu melesat cepat dan crispy, perselancaran keharibaan aplikasi buku novel baru berhasil mengarahkan keputusan kami bergegas ambil jalan kepada rute berikut, melewati permulaan malam menuju lokus toko buku ternama yang pemiliknya barusan melampaui HUT ke-85.
![Muhammad Joni, advokat yang memimpin Law Office Joni & Tanamas saat rehat bersama putranya M Haikal Firzun dan putrinya Salma Nabila Justisia Firzuni.[Mj1]](https://transindonesia.co/wp-content/uploads/2016/02/Joni-dan-anak.jpg)
“Papa ke arah situ”, ujarku menunjuk jurusan rak buku hukum yang bersisian dengan rak buku ekonomi bisnis.
Tak sampai 30 menit, perburuan Salma Virzuni mencari novel gurih membuahkan seulas senyum kegembiraannya. Novel baru bertitel ‘Episode Hujan’ dan ‘Our Hope’ berikut pernak pernik alat tulis sudah terhimpun dalam tas belanja tatkala kami bertemu dan antri di depan kassa.
Dia mempertontonkan buku hasil buruannya kepadaku, seakan minta persetujuan yang tak pernah tertolak. Tanpa komentar, patik pun sempat menenggelamkan sejumlah buku: ‘Manajemen Kontrak Konstruksi’, ‘Panduan Praktis Hukum Properti’, ‘Hukum Dalam Kolom’, ‘Transformasi Perusahaan Negara Kelas Dunia’, dan ‘Pelepasan Hak, Pembebasan Hutang dan Merelakan Hak (Rechts Verwerking)’. Supaya terkemas rapi masuk tersuruk sempurna ke perut tas belanja warna hitam itu.
Seperti biasa, kartu member Gramedia dan kartu e-Money acapkali berjasa baik melancarkan transaksi perdagangan buku malam itu, pukul 20.59 WIB, tanggal 1-10-2016. Sang kasir tersenyum dan sempat lirih mengucapkan terimakasih pada kami di penghujung ritual SOP transaksi. Entahlah, senyum kasir itu merekah karena tulus ramah kepada konsumen, atau hanya ramah dan peduli yang ditujukan kepada kartu e-Money itu sahaja.
Ini sebuah renungan. Dari lelaku demi lekaku. Postulatnya: rencana, proses dan keputusan perjalanan era kini melulu ditentukan aplikasi-aplikasi yang dioperasikan dari jari-jari. Tak lagi melulu ditentukan manual usai membaca berita ataupun iklan di halaman koran yang terbit pagi. Kita terkoneksi dan dimudahkan dengan serba-serbi aplikasi.
Di tengah jalan pulang kami berbincang ringan ikhwal tahun baru Hijriah. “Mulainya sejak kapankah?”, tanyaku menyelelidik hendak tau apa respon dan lelakunya. Demi menambang data dan informasi valid sempurna, buah hati intan payungku Siti Salma Nabila Justisia Firzuni beranjak cepat menanyakan kepada google sembari meneriakkan sandi: “ok google”. Seakan hamparan alam maya angkasa menjadi guru setia yang tak pernah bodoh.
Begitulah cara sederhana dan trik masa kini memahami respon, geliat dan corak lelaku generasi Platinum. Apa pula generasi Platinum itu? Mengapa orangtua kudu mengerti karakter lelaku generasi Platinum?
FB-ers tak usah repot, cukup teriakkan “ok google” dan katakan “Generasi Platinum”, segera sederet link berita, foto dan video akan siap saji dilahap.
Namun, apapun lapisan generasinya, kita dianugetahi Tuhan tenaga ruhani dan cinta kasih agar kapabel menjalankan tugas kembar (twin duties) sebagai orangtua yang otentik: mengarahkan (direction) dan memandu (guidance).
Kedua jurus itu patik petik dari Handbook of Implementation of CRC (Convention on the Right of the Child) setakat Advance International Training on CRC diselenggarakan Barn Ombudsman, Stockholm, Sweden, 2000 yang beasiswanya disponsori SIDA (Swedish International Development Agency) melalui kantor Kementerian Sekretariat Negara.
Tak usah ragu beradaptasi melompati lapisan generasi, bahwasanya orangtua mesti tabah menyiapkan bekal diri mengimbangi generasi Platinum. Termasuk lelaku terkoneksi dan paham hal ikhwal IT yang serba aplikasi pada era generasi Platinum. Agar memahami lelaku dan bahasa zamannya.
Untuk apa? Demi tugas kembar orangtua menjadi pengarah dan pemandu kepada anak melewati era penting masa kanak-kanak (childhood), yang kua filosofis-alegoris, anak ditamsilkan penyair Kahlil Gibran sebagai sang busur yang melesat (melewari zaman). Sebagai putra-putri kehidupan.
Demi memuluskan lesatan sang anak melewati zaman, maka jadilah takdir sosial orangtua itu bertugas layaknya muballig (juru dakwah) bagi anak-anaknya. Seperti misi Ibrahim kepada Ismail. Seperti tabah teladan Hajar kepada Ismail.
Pemaknaan substantif seperti itu pernah patik sampaikan tatkala bincang di hadapan kalangan anggota IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) beberapa tahun lalu, sebagai pemateri dari anasir KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia).
Idemditto tema khutbah karibku Kyai Haji Dr.Asrorun Niam Sholeh, Ketua KPAI, pun-demikian pula Samsul Ridwan aktifis perlindungan anak dari Semarang, setakat Idul Adha 12 September 2016/10 Zulhijjah 1437 H lalu, yang foto-fotonya dishare ke WAG Indonesia Ramah Anak.
Kembali ke soal generasi Platinum. Terbuktilah bahwasanya twin duties of parent menghendaki kapabilitas ayah dan ibu yang diujudkan dalam lelaku praktik, tak terondok hanya dalam wacana ataupun diskusi kelas.
Tugas ganda itu makin kompleks dan mensyaratkan ketabahan, bahkan lebih dari itu, seni terampil melakonkan penyesuaian lelaku lintas generasi, yang bisa jadi sangat melelahkan. Perbedaan paham dan respon antar generasi ini acap menyisakan “friksi” yang mencengangkan.
Namun, sebagai orangtua, “se-jadul” apapun anda, jangan berkecil hati dan memelihara cemas. Sebab paragraf berikut ini adalah kabar gembira yang bersumber dari Hadist Nabi Muhammad SAW, yang lebih kurang maksudnya: “Barang siapa menderita karena menjaga (melindungi) anaknya, haram kulitnya api neraka”. Subhanallah.
Bergembira dan syukurilah kita diberi waktu dan peluang melakoni misi mengarahkan dan memandu generasi Platinum. Seperti misi Ibrahim kepada Ismail. Seperti teladan Hajar kepada Ismail. Alhamdulillah, agaknya pahala setara haji bisa dicatatkan setiap hari-hari anda menjaga anak dan merawat generasi.
Agaknya, untuk memahami respon, geliat, dan corak generasi Platinum, dengan maksud agar tetap konstan melakoni tugas ganda sebagai orangtua, kita perlu pula melesat bagai busur yang melintas zaman alias berubah.
Melewati residu budaya dari eksistensi masa yang ditakdirkan terus mengalir berubah (pantha rei). Melesat melintasi zaman itu idemditto hijrah. Seperti melewati Episode Hujan menghampiri hari cerah terang meniti Our Hope. Selamat Tahun Baru Hijriah 1438 H. [Muhammad Joni – Advokat/Managing Partner Law Office Joni & Tanamas, Tim Ahli Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)]







