Ilustrasi
TRANSINDONESIA.CO – Trik dan intrik sebagai hembusan isu kebencian, fitnah, menjadi aroma khas politik dan perpolitikan, perebutan kekuasaan maupun kursi jabatan.
Pemanfaatan media sosial, cetak maupun elektronik menjadi sarana ampuh kaum licik dan lihai di bidang jegal menjegal.
Kaum-kaum ini memang otak, otot dan hatinya dikerahkankan untuk memperkeruh dan mengadu domba. Menabur benih-benih kebencian, memprovokasi dan memanfaatkan kesusahan banyak orang demi diri dan krooni-kroninya.
Susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah, itulah moto dan prinsip hidupnya.

Kaum ini selalu rumongso biso, merasa sebagai pahlawan walau kesiangan penuh kemunafikan serta kesesatan yang diperjuangkan. Jabatan dan kekuasaan memang sebagai power roh dan jiwanya karena demi mengais atau menguasai sumber daya dan penguasaan pendistribusian sumber daya.
Gaya Kolonial, gaya-gaya dewa uang yang bertabur harta serta kemewahan dari kesusahan dan penderitaan banyak orang.
Tatkala berkuasa maka bagaikan dewa yang merajai dengan uang. Kaum ini hiang akan kepekaan dan kepeduliannya terhadap manusia, kemanusiaan, hidup dan kehidupan.
Bagai Raja Midas yang gila emas, bagai Don Kisot yang penuh dengan khayalan dan ketakutan kehiangan jabatan dan berbagai previlagenya.
Kaum ini mendeklarasikan sebagai sang penjaga dan sang penyelamat walau semua itu hanya tipuan belaka dan semua dikemas melalui apa saja yang bisa dibelinya.
Tatkala tidak menjabat dirinya bagai orang yang setengah gilla. Bagai orang yang tak lagi punya daya. Hilang jiwa dan jadilah ia seorang yang gila. Kewarasanya karena kekuasaan dan penguasaanya.
Dirinya hilang kendali tatkala powernya hilang. Bagai lampu yang tidak lagi nyala ketika dicabut dari stop kontaknya. Kaum ini gila akan hormat, dan rakus akan kekuasaan.
Jiwa raganya diperbudak oleh kelekatan duniawi saja. Bahkan keyakinan-keyakinannyapun digadaikan dan sebagai selubung kabut atas uang dan kekuasaan. Semua penuh dengan tipu daya dan kepura-puraan bagai musang berbulu domba. Jalan gelap yang dicarinya, kebanggaan semu yang dipujanya.[CDL08082016]
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







