WHO menegaskan 'kaitan antara infeksi virus Zika dengan kehamilan dan microcephaly masih belum dipastikan'.(Afp)
TRANSINDONESIA.CO – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kornelis Kodi Mete memastikan provinsi berbasis kepulauan itu belum terserang virus zika yang diidentifikasi mulai masuk ke Indonesia dari sejumlah negara tropis dunia.
“Hingga saat ini kita pastikan virus itu belum masuk ke wilayah NTT. Namun demikian antisipasi penyakit yang gejalahnya sama seperti demam berdarah dengue itu terus dilakukan pemerintah,” katanya kepada Antara di Kupang, kemaren.
Dia mengatakan hal itu menjawab antisipasi Pemerintah Nusa Tenggara Timur menghadapi kemungkinan masuknya virus yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan gejalanya mirip demam berdarah itu.
Menurut dia, secara kelembagaan dinas kesehatan di seluruh daerah provinsi seribu pulau itu telah diinstruksikan untuk terus melakukan sosialiasi dan aksi antisipasi dengan pola hidup sehat melalui pola 3m yaitu menutup, menguras dan menutup setiap tempat air dan sampah serta pengasapan jika dibutuhkan.
“Pola pencegahannya sama seperti demam berdarah dengue, dan karena itu sudah kita instruksikan ke daerah lakukan hal itu,” katanya.

Menurut dia, karena gejala virus zika itu sama dengan demam berdarah, maka diingatkan kepada seluruh warga masyarakat untuk segera melakukan pemeriksaan intensif ke puskesmas atau rumah sakit yang ada untuk proses penyembuhan.
“Jika ditemukan gejalanya, langsung ke tempat layanan kesehatan untuk diperiksa intensif agar tidak membawa dampak lebih buruk,” katanya.
Virus Zika dipastikan telah ditemukan di Indonesia pada 2015. Penyebaran virus itu melalui nyamuk Aedes Aegypti dan gejalanya mirip demam berdarah, yang membuat keberadaannya tidak dikenali secara spesifik. Virus itu bisa meluas, terutama di daerah-daerah endemis demam berdarah.
Terhadap kemungkinan akan diperiksanya setiap warga negara Indonesia yang baru kembali dari luar negeri ke Nusa Tenggara Timur, mantan Bupati Sumba Barat Daya itu mengatakan akan dilakukan.
“Kita akan koordinasi dengan pihak imigrasi di setiap bandara dan pintu masuk luar negeri seperti perbatasan RI-Timor Leste,” katanya.
Namun demikian, lanjut dia, tidak semua pendatang akan diperiksa. Pemeriksaan hanya akan dilakukan kepada pendatang dari sejumlah negara yang diduga merupakan basis endemik virus tersebut. “Kita akan segera koordinasi dengan pihak imigrasi.
Lembaga Biologi Molekuler Eijkman pertama kali menemukan ada virus Zika di Indonesia.
“Awalnya ada wabah dengue (demam berdarah) di Jambi pada Desember 2014-April 2015. Kami diminta memeriksa 103 sampel darah pasien yang diduga kena dengue itu,” kata Deputi Direktur Eijkman Herawati Sudoyo di Jakarta.
“Ada satu sampel yang setelah diteliti tak ada indikasi dengue. Setelah dikaji lebih jauh, ditemukan virus Zika dalam sampel pasien itu,” ujarnya.
Pihak WHO mengatakan, virus zika itu menyebar cepat dan bisa menginfeksi sampai 4 juta orang di Benua Amerika.[Ant/Sun]






