
TRANSINDONESIA.CO – Sebanyak 50 dari 345 desa/kelurahan di Kabupaten Lebak, Banten, dipetakan masuk kategori rawan bencana alam karena wilayahnya perbukitan dan pegunungan serta daerah aliran sungai.
“Kami minta warga mewaspadai bencana alam menyusul tibanya masa pancaroba dari musim hujan ke musim kemarau,” kata Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Kaprawi di Lebak, Minggu (24/5/2015).
Kaprawi menjelaskan, ke-50 desa itu berpotensi bencana banjir, longsor, dan angin kencang. Sebab lokasinya berada di perbukitan, pegunungan dan daerah aliran sungai.
Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana alam itu jika curah hujan meningkatkan kewaspadaan banjir dan longsoran.
Bahkan, BPBD Lebak mengeluarkan peringatan waspada terhadap bencana alam agar masyarakat tidak menimbulkan korban jiwa.
“Kami menginstruksikan aparat camat, desa dan relawan meningkatkan kewaspadaan bencana alam itu,” ujarnya.
Menurut dia, pihaknya saat ini selama 24 jam siaga dengan memberlakukan piket untuk menghadapi masa pancaroba tersebut.
Umumnya masa pancaroba itu, kata dia, berpotensi bencana banjir, longsor, sambaran petir, kebakaran dan angin kencang.
Selama dua pekan terakhir ini, ujar dia, beberapa rumah rusak akibat angin kencang, sambaran petir, banjir bandang, dan sambaran petir.
Namun, bencana itu tidak menimbulkan korban jiwa, tetapi diperkirakan kerugian material bangunan rumah mencapai puluhan juta rupiah.
Saat ini, BPBD siap menghadapi masa pancaroba itu dengan menyiagakan peralatan evakuasi untuk bertindak cepat menyelamatkan korban bencana alam.
Selain itu juga menyiapkan logistik berupa obat-obatan dan kebutuhan bahan pokok dasar. Peralatan evakuasi itu antara lain motor tempel, pelampung, perahu karet, kendaraan, tenda dan tambang. Begitu juga beras, mi cepat saji, minuman kemasan dan obat-obatan.
“Kami bergerak cepat ke lokasi untuk mengevakuasi korban bencana agar tidak menimbulkan korban jiwa,” katanya.
Ia menyebutkan, sekitar 350 relawan dari berbagai elemen masyarakat, Perguruan Tinggi, Dinas Kesehatan, PMI, Polri dan TNI berkoordinasi menghadapi cuaca ekstrem tersebut. Dari 350 relawan itu, ujar dia, tercatat 80 relawan kategori relawan inti.
“Kami akan mendirikan posko bencana alam jika kondisi hujan terus menerus,” katanya.
Sementara itu, sejumlah relawan Kabupaten Lebak mengatakan pihaknya kini mempersiapkan peralatan evakuasi, seperti perahu karet, perahu motor tempel dan pakaian pelampung.
Peralatan evakuasi ini untuk memberikan pertolongan penyelamatan di desa-desa rawan bencana alam itu.
“Kami tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat bila terkena musibah bencana alam untuk menyelamatkan nyawa mereka,” kata Koordinator relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Lebak Aan Belek.(ant/her)






