
TRANSINDOENSIA.CO – Raja Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono X merupakan seorang pemimpin masyarakat di Kota Gudeg Yogyakarta. Ayah lima putri yang juga menjabat sebagai Gubernur DI Yogyakarta itu sama seperti orang lain di muka bumi ini.
Sebagai manusia, Sultan tak mutlak selalu benar dalam setiap langkah dan tindakannya. Terkadang, salah berbuat merupakan hal manusiawi dalam hidup.
Demikian disampaikan tokoh masyarakat Yogyakarta, Sukri Fadholi. Menurutnya jika salah ada baiknya diingatkan supaya perbuatannya benar. Begitu juga dalam menyampaikan sabda raja maupun dawuh raja yang terlontar dari mulut Sultan.
“Pemimpin yang salah harus diingatkan, itu jihad,” kata Sukri Fadholi saat menjadi pembicara diskusi di serambi Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, Jumat (15/5/2015).
Mantan Wali Kota Yogyakarta itu mengkhawatirkan kelangsungan Keraton Yogyakarta terkait munculnya sabda raja. Sebab, dengan kemunculan sabda itu sudah merusak pondasi Keraton dalam tiga aspek, yakni agama, budaya, dan sosial.
“Nyuwun sewu (minta maaf), tidak punya anak laki-laki kemudian melakukan berbagai cara dengan merusak paugeran,” sindir Sukri dengan logat Jawa pada Sultan HB X.
Dia khawatir karena hawa nafsu kekuasaan, seorang pemimpin melakukan beragam cara meskipun menabrak aturan. Tak sepantasnya, seorang pemimpin mengumbar hawa nafsu untuk melanggengkan keturunannya agar berkuasa.
“Pemimpin tidak boleh menyetarakan hawa nafsu sebagai Tuhan. Jika demikian, maka hati pemimpin akan sesat selamanya, setan yang mendekati melalui bisikan-bisikan,” ujarnya.
Benih-benih kehancuran Kesultanan Mataram Islam Yogyakarta terlihat dengan keluarnya sabda raja dan konflik internal. Jika tidak segera diredam, Sukri menduga Keraton Yogyakarta akan hancur karena diperbudak hawa nafsu yang melekat.
“Kita tahu, 11 adik Sultan HB X tidak sependapat sehingga muncul konflik. Mereka (adik Sultan) sudah sepantasnya mengigatkan kekhilafan Sultan,” ujarnya.
Sebagai tokoh masyarakat, Sukri merasa terpanggil untuk mengingatkan Sultan. Bahkan, dengan lantang, dia berharap Sultan bertobat kepada Allah SWT karena mengeluarkan sabda raja maupun dawuh raja.
“Sebaiknya, hemat saya Ngarsodalem (Sultan) harus bertobat dengan kesalahan yang dilakukan. Sebagai pemimpin, tidak perlu malu karena sesuatu yang benar harus disampaikan dengan benar, begitu juga sebaliknya,” ujarnya.
Sukri juga menegaskan tidak sepantasnya masyarakat diam begitu saja jika melihat pemimpin melakukan kesalahan. Membimbing dan mengarahkan ke jalan yang benar harus dilakukan tanpa harus melihat status sosial.
“Kita jangan berdiam diri, tidak perlu ewoh pekewoh. Organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama harus segera menanggapi sabda raja, karena itu merupakan dakwah,” ujarnya.
Masalah suksesi menang mutlak di internal Keraton. Orang luar dari keluarga darah biru tak berhak mencampurinya. Namun, menurutnya, jika ada ketidakselarasan di masyarakat yang dilakukan raja, masyarakat harus berani menyampaikan kepada sang raja.(okz/ats)






