By: Irwanuddin H.I. Kulla (Tenaga Ahli Menteri ESDM RI Bid. Pengembangan Potensi Pemanfaatan Tenaga Nuklir/ Dekan FT UPDM (B) / Direktur PUSPINEBT ICMI).
TRANSINDONESIA.co, JAKARTA – Nuklir merupakan keunikan peradaban unik Iman dan Takwa (Imtak), serta ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang membahas perbandingan antara hukum alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, dan penemua sains manusis E = mc2.
Nuklir di mata Ilahi dan ilmuwan merupakan perspektif yang menyoroti atau menyingkap energi atom secara spiritualitas dan intelektualitas maupun amaliyah yang menuntut kebijaksanaan moral, agar energi tersebut digunakan untuk kesejahteraan dan kemakmuran peradaban ummat manusia.
Keajaiban atom dalam bidang ketenaganukliran, memberikan hikmah peradaban bagi manusia dalam memahami revolusioner energi secara makroskopis dan mikroskopis untuk menyingkap fisika kuantum dan energi nuklir di alam semesta yang mengalami _Medan Sentrifugal dan Sentripital_ dalam siklus harmonis langit dan bumi.
Selain itu, memberikan kejutan bahwa manusia tidak mampu menciptakan materi dari ketiadaan, melainkan berkreasi dengan nikmat yang telah disediakan Sang Pencipta, Rabb/Khalik Semesta Alam. Sehingga kita diingatkan dengan kalimat Nikmat Manalagi Yang Kamu Dustakan?.
Keteratiran Ilahi dari perspektif teologis dan filosofis, nuklir merupakan bukti keteraturan alam semesta. Hukum E = mc2 adalah hukum yang telah ditetapkan Allah SWT, yang baru bisa dipahami oleh kecerdasan manusia setelah ribuan tahun.
Disisi lain, mengajarkan manusia tentang keseimbangan nilai alam semesta yang diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa, melalui _Nilai Kemaslahatan, Inovasi dan Lingkungan maupun Peradaban Teknologi_. Semua ini dijelaskan dengan kalimat _Segalanya Tidak Diciptakan Tuhan Dengan Sia Sia_.
Nuklir sebagai sumber energi bersih, dalam kaca mata ilmuwan merupakan solusi masa depan untuk mengatasi krisis energi karena efisiensinya yang tinggi dan jejak karbon yang rendah serta memberikan manfaat dalam berbagai sektor kehidupan.
Disisi etika ilmu pengetahuan, nuklir merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang bersifat netral sehingga dalam pengembangan dan pemanfaatannya, tanggungjawab moral sepenuhnya berada di tangan manusia (ilmuwan dan pemegang kebijakan) mengenai implementasi/aplikasinya dalam berbagai bidang.
Pejelasan tersebut diungkapkan dalam kalimat _Sesungguhnya Langit dan Bumi serta Segala Sesuatu Yang Diciptakan Tuhan Yang Maha Esa Sebagai Tanda-Tanda Bagi Para Kaum Intelektual Yang Berfikir dan Meneliti_
Salam Peradaban Bangsa.





