TRANSINDONESIA.CO – Wakil Menteri Pertanian, Rusman Heriawan menyatakan Indonesia masih mengandalkan bawang putih impor untuk memenuhi permintaan.
Produksi bawang putih terbatas yang menyebabkan importasi. “Ada beberapa yang tetap kita impor, kayak bawang putih, itu kan bukan kearifan kita,” kata Rusman saat di Nusa Tenggara Barat, kemaren.
Rusman mengatakan bawang putih importasinya mencapai 90% namun hortikultura hanya 10%. “Kan selama ini produk impornya kan 90% untuk bawang putih. Produk horti kita paling banyak 10%.”
“Tugas kita di pertanian, memang tidak mengejar swasembada. Itu kayaknya sangat tidak mungkin. Karena bawang putih itu jenis tanaman yang bisa didaerah sub tropis. Bahkan di tiongkok dimana-mana itu di tanam menjelang winter,” katanya.
Rusman mengatakan, biarpun bawang putih produksinya baru mencapai 10%, namun lebih pedas ketimbang asal impor. “Sepuluh persen yang dari produk lokal. Produk lokal kan cirinya siungnya kecil-kecil, tapi memang lebih pedas. Tapi memang bawang putih kita itu lebih banyak dipakai untuk jamu, karena singit. Kalau untuk masakan itu kebanyakan dari impor,” jelasnya.
Menurut data pemerintah, produksi bawang putih nasional rata-rata 14.200 ton per tahun. Sementara kebutuhan konsumsi dalam negeri sebesar 400.000 ton per tahun.(ini/lin)







