Mantan Presiden BJ Habibie.(dok)
TRANSINDONESIA.CO, Jakarta – Di atas 60 tahun, umumnya orang Indonesia tidak lagi bugar, bahkan tidak sehat. Kemungkinan meninggal dunia lebih besar daripada di bawah 60 tahun. Karena itu, usia capres yang ideal berkisar 40-60 tahun.
“Saya tidak bermaksud mendukung atau mengarahkan opini ke figur tertentu. Tapi, sekadar statistik saja,” kata mantan Presiden BJ Habibie pada peluncuran buku Habibie: “Tak Boleh Lelah dan Kalah” di Gedung Bank Indonesia (BI) Jakarta, Selasa (1/4/2014).
Acara ini cukup spesial karena selain digelar di BI, juga dihadiri para pengusaha, Gubernur BI Agus DW Martowardojo, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Hadad, juga para mantan gubernur BI, seperti Rachmat Saleh, Arifin Siregar, Adrianus Mooy, Burhanuddin Abdullah, dan Darmin Nasution.
Pada acara diskusi yang dipandu Andy F Noya, Habibie menjelaskan, dirinya hanya menyampaikan data statistik bahwa usia bugar dan sehat bangsa Indonesia masih di bawah bangsa Eropa dan Amerika. Pada 10-20 tahun mendatang, tentu tingkat kesehatan bangsa ini akan lebih baik.
“Mungkin pada masa mendatang, usia 70 tahun masih oke. Tapi, tidak untuk lima tahun ke depan,” kata ahli pesawat terbang itu.
Untuk lima tahun akan datang, Indonesia membutuhkan pemimpin yang gesit, berpikir besar, tapi bertindak konkret dan cepat, serta memberikan perhatian pada pendidikan sumber daya manusia dan kemajuan industri. Agar ada akselerasi dalam pembangunan industri, penguasaan teknologi menjadi hal yang sangat penting.
Habibie prihatin melihat minimnya minat anak muda pada teknologi. “Generasi muda kehilangan semangat untuk menguasai teknologi canggih,” kata Habibie.
Hingga saat ini, kata Habibie, tak ada produk Indonesia yang membanggakan. Salah satu penyebabnya adalah ditutupnya perusahaan strategis tahun 1998 oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Perusahaan yang sedang memproduksi pesawat terbang, helikopter, kapal, kereta api, dan sebagainya ditutup.
“Direktur IMF waktu itu, Michel Camdessus, orang Prancis. Ya, saat dia punya kewenangan, dia minta industri strategis dibekukan dengan menghentikan bantuan dana pemerintah,” kenang Habibie.
SDM Indonesia di bawah PT Dirgantara Indonesia (DI) dan BUMN strategis sudah cukup bagus. Ketika ditutup, karyawan eks PT DI bekerja di Airbus, Boeing, dan sejumlah industri pesawat lainnya. Mereka bisa bekerja di luar negeri karena sudah sukses membuat N-250, pesawat canggih buatan Indonesia berkapasitas penumpang 70 orang.
“Tapi, saya tak pernah lelah dan merasa kalah. Indonesia tetap harus punya industri pesawat,” ujar mantan presiden yang lebih suka menjadi produsen pesawat daripada menjadi presiden. Di industri pesawat, semua rasional. Tidak ada pikiran yang tidak jujur dan tidak transparan. Karena jika ada manipulasi, pesawat terbang akan jatuh.
Lewat PT Regio Aviasi Industri, Habibie membantu PT DI memproduksi R-80. Direncanakan, pesawat baling-baling canggih ini akan terbang tahun 2017.Sejumlah bank BUMN –Bank Mandiri dan BRI– diajak untuk menghimpun investor guna membiayai pembuatan pesawat ini. Penghimpunan dana, berapa pun besarnya, asalkan tidak lebih dari 200 pihak, tak perlu initial public offering (IPO).
Kesejahteraan dan ketenteraman yang didambakan setiap bangsa, kata Habibie, itu panjang jalannya. Untuk menjadi bangsa berdaulat, mandiri, dan sejahtera membutuhkan perjuangan pantang menyerah. “Karena itu, kita tidak boleh lelah dan kalah,” tegas pria berusia 78 tahun ini.
Mendukung Independensi
Agus Martowardojo menjelaskan, BI sangat menghargai para negarawan yang sudah memberikan sumbangan kepada negara seperti Habibie. “Kami juga memiliki kedekatan intelektual dengan Habibie karena dia mendukung BI yang independen,” ungkap Gubernur BI.
Pada 1998, Habibie mengeluarkan Keppres bahwa gubernur BI tidak masuk dalam kabinet. BI harus menjalankan tugasnya secara independen. Pada pidato kenegaraan 1998, BI yang independen yang didukung UU BI disampaikan Presiden Habibie.
Setahun kemudian, 17 Mei 1999, UU BI disahkan. Hingga sekarang BI menjadi badan independen.
Saat membaca buku Habibie, kata Agus, pihaknya menghayati bahwa 50 gagasan Habibie adalah nilai hidup. BI juga punya nilai strategis yang selaras dengan Habibie. Kelima nilai B itu adalah kompetensi, integritas, transparansi, akuntabilitas, dan kebersamaan.(ivd/yan)





