TRANSINDONESIA.CO – Seperti ingin terus menjalankan apa yang sudah menjadi bukti keberhasilan Partai Demokrat, Jenny Rachman dalam orasi kampanye terbukanya mengusung visi dan misi mulia untuk ikut memajukan dan menyehatkan bangsa ini.
“Adalah merupakan bagian ibadah dalam hidupnya, jika ia bisa menjalankan apa yang selama ini menjadi program dan cita-citanya untuk rakyat Indonesia,” ujar artis top era 80 an, diatas pangung saat orasi kampanye di Jakarta baru-baru ini.
Pesta demokrasi di Indonesia memang tak lama lagi bakal berlangsung. Lewat pesta demokrasi inilah rakyat ikut menentukan nasib bangsa dan negara yang kita cintai ini. Oleh karenanya, para calon legislatif (caleg) yang siap maju, memaparkan program serta visi misinya kepada rakyat dalam kesempatan kampanye terbuka ini, agar rakyat faham dan mengenal siapa wakilnya yang kelak duduk di kursi dewan.
Tanpa mengenal secara baik apa yang diperjuangkan oleh caleg yang dipilih, rakyat akan menyesal di kemudian hari karena ibarat membeli kucing dalam karung, tukasnya.
Dan bukan hal baru jika saat ini banyak public figure seperti artis atau atris tempo dulu yang ikut melenggang sebagai caleg di pesta demokrasi mendatang. Adalah Jenny Rachman, artis senior yang masih tetap cantik diusianya yang semakin matang.
Artis yang dalam beberapa film lamanya ini kerap berpasangan dengan Roy Marten, Rano Karno dan sejumlah aktor tenar pada jamannya ini tercatat sebagai caleg DPR RI Partai Demokrat nomer 4 dengan dapil DKI Jakarta 2 (Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan luar negeri).
Jenny berkesempatan menyampaikan orasi politik kampanye terbukanya pada 22 Maret 2014 lalu di depan para pendukung dan partisipan partai berlambang bintang ini.
Pada kesempatan tersebut, ia menyampaikan salam hormat kepada Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta , Mayor Jenderal (Purn) H. Nachrowi Ramli, para koordinator Dapil di DKI Jakarta, juga jajaran sturuktur Partai Demokrat dari tingkat DPD, DPC, DPAC, DPRT, DPART serta relawan Sahabat Jenny Rachman. Dan tidak ketinggalan para caleg Partai Demokrat (DPR RI & DPRD) dan tamu undangan.
Dalam orasi politiknya, Jenny mengungkapkan jika keikutsertaannya terjun ke dunia politik bukan sekedar latah atau hanya ingin meramaikan peta politik di Indonesia. Namun jauh di lubuk hatinya, motivasinya terjun ke dunia politik merupakan panggilan jiwa dan sarana penyempurnaan amalan ibadah.
“ Insya Allah lewat program-program yang saya buat dan saya jalankan sepenuh hati ini, akan memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia,” tegas Jenny.
Program kesehatan dan pendidikan gratis
Seperti diketahui selama ini, kesehatan dan pendidikan merupakan salah satu perhatian utama Partai Demokrat di bawah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bukan isapan jempol jika partai nomor 7 ini terus mendorong agar pelayanan kedua bidang ini ditingkatkan.
“Boleh dilihat hasilnya, bahwa masyarakat kini sudah bisa menikmati layanan berobat dan sekolah gratis secara nasional,” ungkapnya sambil tersenyum.
Khusus untuk bidang kesehatan, Jenny akan menjalankan program berupa ASKESIN (Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin). Programa ini rencananya bakal disempurnakan dengan program JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan Masyarakat) dan JAMPERSAL (Jaminan Persalinan).
Kedepannya akan makin ditingkatkan lagi dengan program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Adalah menjadi catatan penting, bahwasannya inilah pertama kalinya pemerintah menggratiskan biaya kesehatan hingga rumah sakit kelas III.
Sebelumnya, pemerintah hanya menggratiskan layanan kesehatan sampai Puskesmas saja. Hal ini merupakan Komitmen SBY bersama Partai Demokrat dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Komitmen pemerintah pun tak main-main. Hal ini nyata tergambar dari anggaran pelayanan kesehatan terus mengalami peningkatan. Tengok saja, jika pada tahun 2005 jumlah anggaran masih berkisar Rp2,1 triliun, pada tahun 2013 melonjak drastis hingga menjadi Rp8,2 triliun, atau meningkat 400%.
Menurut Jenny, pemerintah terus membangun tersedianya fasilitas dan tenaga kesehatan. Terlihat dari makin meningkatnya jumlah rumah sakit rujukan dari 1.246 unit tahun 2004 menjadi 2.148 unit pada tahun 2014. Jumlah Puskesmas juga bertambah dari 7.550 unit tahun 2004 menjadi 9.599 tahun 2013.
“Bisa dibilang sarana kesehatan di desa atau kelurahan meningkat dengan pesat,” tukasnya.
Semua ini diimbangi juga dengan peningkatan jumlah tenaga kesehatan, dimana tahun 2004 hanya terdapat 35.375 orang (dokter), kini meningkat menjadi 94.407 orang pada tahun 2013.
Berbanding lurus dengan kenaikan jumlah dokter, jumlah perawat juga naik dari 101.897 orang tahun 2004 meningkat 296.126 tahun 2013.
Keadaan serupa terlihat nyata di bidang pendidikan. Menurut Jenny, Presiden SBY berhasil menerapkan sekolah gratis secara nasional. Terhitung sejak tahun 2005 dari SD sampai SMP pendidikan digratiskan.
Sejak tahun 2012-2013 pendidikan gratis ditingkatkan sampai ke SMA. Lewat program itu, SBY menjadi pionir penerapan sekolah gratis secara nasional. Sekolah gratis ini terlaksana setelah presiden SBY menerapkan pembebasan biaya sekolah melalui BOS (Bantuan Operasional Sekolah).
Jumlah anggaran BOS juga terus mengalami peningkatan, dari Rp5,14 triliun tahun 2005 menjadi Rp27 triliun pada tahun 2013.
Tidak hanya pendidikan gratis dasar dan menengah saja yang menjadi perhatian pemerintah SBY.
Pemerintah juga menyediakan Bantuan Siswa Miskin (BSM untuk jenjang SD – SMA serta memberikan Beasiswa Bidik Misi untuk mahasiswa. Tercatat 16 juta siswa yang menerima BSM di bawah anggaran Rp6 triliun.
Sementara, jumlah penerima Beasiswa Bidik Misi tahun 2009-2013 mencapai 91,412 mahasiswa dengan alokasi anggaran Rp914,12 miliar.
Presiden SBY juga membangun serta memfasilitasi pembangunan sekolah baru, juga perbaikan sekolah rusak. Fasilitas pendidikan ditingkatkan, baik secara kuantitas maupun kualitas.
Adanya peningkatan layanan di bidang pendidikan memberikan hasil yang signifikan dengan menurunnya angka putus sekolah di semua jenjang pendidikan.
Perhatikan, untuk tingkatan SD, jumlah angka putus sekolah pada tahun 2004 mencapai 25,95 % dan mengalami penurunan pada 2013 menjadi 0,65 %. Di tingkat SMP, tahun 2004 tercatat 2,5 % anak di jenjang ini mengalami putus sekolah.
“Jumlah ini menurun tajam hingga menjadi 1,20 % saja pada tahun 2013. Sementara untuk strata SMA tahun 2004 sebanyak 2,76% anak harus mengalami putus sekolah. Sembilan tahun kemudian, dibawah Pemerintahan SBY, jumlah ini menjadi 1,40% saja,” tandasnya.
Demi melihat bukti terhadap apa yang sudah dikerjakan, masihkan Anda ragu untuk berjalan bergandengan tangan bersama Jenny Rachman?.(amri siregar)








