TRANSINDONESIA.co, Jakarta : Wakil Ketua Komisi IV DPR, Herman Khaeron mengatakan penyebab produksi garam dalam negeri masih rendah karena pengelolaan garam nasional masih menggunakan cara tradisional dan tergantung pada alam.
“Kualitas garam produksi dalam negeri masih rendah. Itu karena pengaruh perubahan iklim, preferensi konsumen terhadap garam berkualitas dan impor yang meningkat,” ujar Herman di Jakarta, Rabu (12/3/2014).
Selain itu, lanjut Herman, rendahnya produksi garam karena kendala tata niaga dan indikasi praktik mafia garam. Lalu tingginya konversi lahan garam dan akses permodalan dan kelembagaan petani masih rendah.
Untuk meningkatkan produksi garam nasional, Komisi IV DPR memberi beberapa masukan kepada pemerintah. Seperti melakukan intensifikasi dan revitalisasi lahan produktif, peningkatan produksi dan kualiatas garam, dan pemberdayaan petambak garam.
Herman menambahkan perlu adanya inovasi teknologi produksi dan kualitas garam, ekstenfikasi usaha garam di luar jawa berskala industri, pembangunan fasilitas pemurnian garam, dan mengundang investor industri garam.
Herman menerangkan pihaknya mendorong peningkatan produksi garam rakyat di sejumlah lokasi potensial.
“Sentra pengembangan garam rakyat di 9 kabupaten/kota seluas 15.033 hektare yaitu Indramayu, Cirebon, Pati, Rembang, Sampang, Sumenep, Pamekasan, Tuban dan Nagakeo,” ujarnya.
Kemudian, sentra pelaksanaan pengembangan usaha garam rakyat di 31 kabupaten/kota seluas 7.476 hektare.(ivd/lin)








