Selat Hormuz. (REUTERS/Stringer)
TRANSINDONESIA.co | JAKARTA – Belum tercapainya kesepakatan pembukaan Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak dunia turut menyeret nilai tukar rupiah melemah hingga ke level Rp18.004 per dolar Amerika Serikat dalam sepekan terakhir.
“Pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal, sejalan dengan kenaikan harga minyak hingga di atas 108 dolar AS per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz,” ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangan resmi kepada wartawan di Jakarta, Selasa (29/9/2027).
Dampak krisis energi tersebut diperparah oleh ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat yang mendorong yield US Treasury tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak 2007.
“Secara umum, pergerakan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan, dengan pelemahan terbatas secara quarter-to-date sebesar 0,67 persen, sementara cadangan devisa tercatat meningkat ke level 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026,” ungkap Erwin.
Tekanan terhadap mata uang domestik juga diperkuat oleh kebutuhan valuta asing importir menjelang akhir kuartal ketiga serta perpindahan arus dana keluar dari aset negara-negara berkembang.
“Intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder, sementara koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar terus dilakukan secara intensif,” jelas Erwin.
Menanggapi tekanan eksternal tersebut, Bank Indonesia menegaskan kesiapannya untuk terus mengamankan stabilitas rupiah melalui strategi operasi moneter pro-market serta pengelolaan likuiditas yang optimal. [sda]





