Para penyintas gempa M 7,7 Flores, yang tinggal sementara di pengungsian terpusat Gor Samador, Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, diberikan sosialisasi dan bantuan sembako sebelum kembali ke rumah masing-masing, Senin (24/8/2026). Transindonesia.co / BNPB
TRANSINDONESIA.co, JAKARTA – Korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi 91 jiwa. Di saat yang sama, proses pemulihan pascabencana mulai bergerak seiring kepulangan sebagian penyintas dari lokasi pengungsian menuju rumah masing-masing.
“Jumlah korban meninggal sebanyak 91 jiwa atau bertambah 4 jiwa dari hari sebelumnya,” ujar Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D., dalam konferensi pers daring melalui kanal YouTube BNPB, Ahad (23/8/2026).
Berdasarkan rincian data BNPB, korban meninggal tersebar di tujuh kabupaten/kota, yakni Kabupaten Manggarai sebanyak 32 jiwa, Manggarai Timur 31 jiwa, Nagekeo 14 jiwa, Sikka 6 jiwa, Ngada 5 jiwa, Ende 2 jiwa, dan Manggarai Barat 1 jiwa. Dari total korban jiwa tersebut, 40 orang berjenis kelamin laki-laki, 48 perempuan, serta 3 korban lainnya masih dalam tahap identifikasi.
“51 persen korban dinyatakan meninggal disebabkan dampak langsung dari gempa seperti tertimpa reruntuhan bangunan, sedangkan sisanya 49 persen meninggal disebabkan dampak tidak langsung,” sebut Berton merinci penyebab kematian warga.
Ditinjau dari kelompok usia, korban tewas mencakup 39 lansia, 35 orang dewasa, 12 anak-anak dan remaja, 1 balita, serta 4 batita. Selain korban jiwa, gempa hebat ber magnitudo (M) 7,7 tersebut juga mengakibatkan 1.286 orang mengalami luka-luka.
“Gempa susulan mencapai 5.688 kali dengan magnitudo terbesar 6,2 dan terkecil 1,1. Gempa susulan yang dirasakan warga hari ini sebanyak 130 kali. Rangkaian gempa susulan menunjukkan pola temporal yang belum sederhana dan diperkirakan berlangsung sekitar 3-4 minggu sejak gempa utama,” tuturnya.
Di tengah ribuan gempa susulan tersebut, angin segar berhembus dari posko pengungsian GOR Samador, Maumere, Kabupaten Sikka. Sebanyak 84 Kepala Keluarga (KK) atau 237 jiwa penyintas gempa mulai mengemas barang dan resmi dipulangkan ke rumah masing-masing sejak Senin (24/8/2026) sore.
“Kepulangan ini diprioritaskan bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan ringan dan berdasarkan hasil pemeriksaan masih memiliki kondisi struktur yang aman untuk ditempati,”* ungkap pihak BNPB terkait skema pemulangan bertahap tersebut.
Proses pemulangan warga dari GOR Samador difasilitasi penuh oleh tim gabungan BNPB, Pemkab Sikka, Dinas Sosial, TNI AL, Satpol PP, hingga Basarnas. Sebelum dipulangkan menggunakan armada khusus, para penyintas diverifikasi dan dibekali bantuan kebutuhan pokok untuk menunjang kehidupan awal mereka di rumah.
“Seluruh dukungan akan diberikan berdasarkan hasil pendataan, verifikasi, dan validasi tingkat kerusakan rumah yang dilakukan bersama pemerintah daerah. Proses ini penting untuk memastikan bantuan diterima oleh masyarakat yang berhak,” kata Berton menegaskan.
Sebagai langkah jangka panjang, BNPB dan pemda mempercepat pendataan kerusakan hunian. Pemerintah menyiapkan skema ganti rugi sebesar Rp15 juta untuk rumah rusak ringan, Rp30 juta untuk rusak sedang, dan pembangunan Hunian Tetap (Huntap) bagi rumah rusak berat.
“Bagi penyintas yang rumahnya rusak berat, pemerintah menyiapkan Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600 ribu per bulan untuk menyewa tempat tinggal sementara atau menempati hunian sementara (huntara) sampai pembangunan Huntap selesai,” lanjutnya.
Kepulangan 237 penyintas dari GOR Samador menyisakan 216 KK atau 1.053 jiwa yang masih bertahan di lokasi pengungsian dari total awal 1.290 jiwa. BNPB memastikan pendampingan dan pemenuhan kebutuhan dasar bagi penyintas yang masih tersisa di pengungsian akan terus dijamin hingga seluruh tahap pemulihan tuntas. [sda]




