Tim gabungan berupaya memadamkan api yang membakar 10 hektare lahan di Desa Padang Baru, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (1/10/2026). Transindonesia.co / BPBD Kabupaten Bangka Tengah.
TRANSINDONESIA.co | JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum perkembangan situasi kebencanaan di Indonesia periode Jumat (2/10) hingga Sabtu (3/10) pukul 07.00 WIB. Memasuki awal Oktober, kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mendominasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sulawesi Selatan, dan Jawa Tengah, disamping laporan bencana banjir yang menerjang Provinsi Sumatera Utara.
“Berdasarkan pemutakhiran data hingga Sabtu (3/10) pagi pukul 07.00 WIB, kejadian karhutla masih mendominasi di tiga provinsi, yakni Kepulauan Bangka Belitung, Sulawesi Selatan, dan Jawa Tengah, di samping satu laporan banjir di Sumatera Utara,” ujar Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam keterangan resminya diterima redaksi, Sabtu (3/10/2026).
Di Sumatera Utara, banjir menerjang Desa Hilimbowo (Kecamatan O’o’u) dan Desa Ndraso Maniamolo (Kecamatan Maniamolo), Kabupaten Nias Selatan (Nisel) akibat curah hujan tinggi pada Jumat (2/10). Bencana ini berdampak pada 75 kepala keluarga dan merusak sekitar 60 unit rumah, satu fasilitas kesehatan, satu fasilitas pendidikan, serta satu balai desa. Meski banjir dilaporkan mulai surut, BPBD Nias Selatan bersama pihak terkait terus menyiapkan penanganan lanjutan berupa pembersihan lumpur, normalisasi sungai, dan perbaikan tembok penahan.
“BPBD Kabupaten Nias Selatan bersama pemerintah desa, kecamatan, dan dinas terkait telah melakukan kaji cepat dampak banjir. Penanganan lanjutan direncanakan melalui pembersihan material lumpur serta normalisasi sungai dan tembok penahan,” terang Berton.
Sementara itu, karhutla terluas dilaporkan terjadi di Kelurahan Bonto Lojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, pada Kamis (1/10) malam. Kebakaran yang melahap perkiraan 25 hektare lahan ini masih menyisakan titik api hingga Jumat (2/10) dini hari. TRC BPBD Bantaeng bersama aparat gabungan TNI, Polri, dan masyarakat terus berupaya melakukan pemantauan dan pengendalian di lapangan.
“Untuk karhutla di Kabupaten Bantaeng, kebakaran diperkirakan melanda lahan seluas 25 hektare dan penyebabnya masih dalam penyelidikan. Tim gabungan terus memantau dan melakukan penanganan di lokasi,” ungkapnya.
Di wilayah lain, karhutla menghanguskan sekitar 10 hektare lahan di kawasan Perbakin, Desa Padang Baru, Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung pada Kamis (1/10) sore. Pemadaman yang melibatkan TRC BPBD, Sat Samapta Polres, dan relawan sempat terkendala angin kencang sebelum akhirnya api berhasil dikuasai sepenuhnya. Adapun di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, kebakaran lahan tebu seluas 2,5 hektare terjadi di Desa Dawuhan pada Jumat (2/10) siang akibat cuaca panas dan daun kering, namun berhasil dipadamkan tanpa korban jiwa.
“Merespon maraknya kejadian karhutla, kami memohon masyarakat untuk tidak sekali-kali membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melapor jika menemukan titik api,” tegas Berton.
Menghadapi masa transisi atau pancaroba di awal Oktober ini, BNPB mengimbau seluruh pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem mendadak, seperti hujan lebat dan angin kencang. Langkah kesiapsiagaan mandiri dapat dilakukan dengan membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon yang rawan tumbang, serta memantau peringatan dini dari BMKG secara berkala.
“Masa transisi atau pancaroba sering diwarnai oleh cuaca ekstrem mendadak. Langkah kesiapsiagaan seperti membersihkan selokan, memotong dahan pohon yang terlalu rimbun, dan memantau prakiraan cuaca BMKG sangat penting untuk meminimalkan risiko bencana,” tutup Berton. [sda]




