Proses pemadaman api di Riau oleh petugas gabungan, Rabu (25/3/2026). Transindonesia.co / BPBD Kepulauan Riau
TRANSINDONESIA.co, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan enam kejadian bencana signifikan yang mendominasi wilayah Indonesia dalam kurun waktu 24 jam terakhir (25-26 Maret 2026). Bencana hidrometeorologi basah seperti banjir bandang di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Maluku, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau dan Kalimantan Tengah menjadi fokus utama penanganan darurat nasional.
“BNPB menghimpun kejadian bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia dalam periode Rabu (25/3) pukul 07.00 WIB hingga Kamis (26/3) pukul 07.00 WIB. Terdapat 6 kejadian menonjol yang didominasi bencana hidrometeorologi basah serta karhutla,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangannya, Jumat (27/3/2026).
Salah satu dampak paling parah terjadi di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, di mana banjir setinggi 100 cm merendam 568 rumah dan memutus akses menuju Desa Buara akibat jembatan yang ambrol. Sementara itu, di Maluku, banjir di Kabupaten Seram Bagian Barat merendam 177 rumah setelah tanggul darurat jebol dihantam pohon tumbang. Di Jawa Timur, banjir di Pasuruan tercatat berdampak pada 21.553 jiwa, meski saat ini air dilaporkan mulai berangsur surut.
“Peristiwa ini dipicu oleh hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang menyebabkan drainase tidak mampu menampung debit air serta luapan sungai yang berdampak ke permukiman dan akses jalan,” jelasnya mengenai pemicu banjir di berbagai titik.
Di sisi lain, ancaman karhutla terus meluas di Sumatera dan Kalimantan. Provinsi Riau mencatat luas lahan terbakar yang fantastis mencapai 2.713,26 hektare sejak awal tahun, dengan status Siaga Darurat yang telah ditetapkan hingga November 2026. Di Kalimantan Tengah, tim gabungan terus melakukan patroli darat untuk memadamkan titik api baru guna mencegah perluasan area yang saat ini sudah mencapai 321,21 hektare.
“Status siaga darurat telah ditetapkan sejak Kamis (13/2) hingga Minggu (30/11) 2026. Upaya penanganan terus dilakukan melalui pemadaman darat dan udara serta peningkatan patroli di wilayah rawan,” tambahnya terkait penanganan karhutla.
BNPB bersama BPBD daerah saat ini masih melakukan evakuasi warga yang terjebak banjir, penyedotan air di pemukiman, serta pemenuhan kebutuhan dasar bagi ratusan pengungsi di Mojokerto dan Brebes. Masyarakat diminta untuk tidak lengah mengingat cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di beberapa titik rawan bencana.
“BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, khususnya di wilayah dengan curah hujan tinggi, serta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan,” pungkas Abdul Muhari. [don/nag]







