Personel Polsek Medan Satria mengevakuasi warga yang sakit dengan perahu karet saat banjir melanda di wilayah Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi, Ahad sore (18/01/2026). Transindonesia.co / Humas Polrestro Bekasi Kota.
TRANSINDONESIA.CO | JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis laporan perkembangan situasi kebencanaan di Indonesia berdasarkan hasil pemantauan Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) periode 19 hingga 20 Januari 2026. Hingga Selasa pagi, kejadian bencana di tanah air masih didominasi oleh fenomena hidrometeorologi basah seperti banjir, angin kencang, dan tanah longsor yang tersebar di beberapa titik di Pulau Jawa.
Di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, curah hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan Sungai Citarum dan Sungai Cibeet meluap sejak Minggu pagi. Dampaknya meluas hingga ke 27 desa di 12 kecamatan, dengan total warga terdampak mencapai 13.841 jiwa. Petugas di lapangan melaporkan bahwa sebanyak 2.413 warga terpaksa mengungsi ke beberapa titik seperti Kantor Kelurahan Tanjung Pura dan desa-desa sekitar. Hingga saat ini, tinggi muka air di wilayah Karawang terpantau masih bervariasi antara 10 hingga 200 sentimeter.
Situasi serupa juga melanda Kota Bekasi, di mana hujan deras dan angin kencang mengakibatkan pohon tumbang serta banjir di sejumlah pemukiman. Peristiwa ini memakan satu korban jiwa yang dilaporkan meninggal dunia akibat terseret arus banjir.
Namun, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D., menyatakan bahwa saat ini kondisi di Bekasi mulai membaik.
“Kondisi banjir di Kota Bekasi saat ini telah surut dan seluruh pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing. Petugas telah menyelesaikan asesmen dan pendistribusian air bersih serta logistik di titik-titik terdampak,” jelas Abdul Muhari.
Sementara itu dari Jawa Timur, hujan deras yang mengguyur Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, memicu longsor pada bahu jembatan di Desa Grogol. Meski tidak ada korban jiwa, kejadian ini menyebabkan jembatan putus sehingga 500 warga kini dalam kondisi terisolasi karena akses kendaraan sama sekali tidak dapat dilalui. Abdul Muhari memberikan peringatan khusus terkait stabilitas tanah di lokasi tersebut yang masih sangat berisiko.
“Kami mengimbau warga di sekitar lokasi longsor Ponorogo untuk tetap waspada. Kondisi tanah di sana masih sangat labil dan ditemukan retakan pada badan jembatan, sehingga potensi longsor susulan masih cukup tinggi,” tambahnya.
Di Jawa Tengah, luapan Sungai Jeratus Soluna juga merendam permukiman warga di Kabupaten Jepara, khususnya di Kecamatan Mlonggo dan Kedung. Sebanyak 1.177 jiwa terdampak oleh banjir ini, dan BPBD setempat telah merespons dengan mendirikan dapur umum guna menjamin ketersediaan pangan bagi warga yang bertahan di rumah masing-masing.
Menutup keterangannya, BNPB menekankan pentingnya kewaspadaan ekstra mengingat saat ini wilayah Indonesia sedang memasuki puncak musim hujan. Pemerintah daerah diminta melakukan langkah pencegahan dini untuk meminimalisir dampak risiko bencana.
“BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap waspada dalam mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi. Masyarakat diharapkan menyiapkan tas siaga bencana sebagai langkah kesiapsiagaan serta senantiasa memantau informasi dari sumber resmi dan terpercaya seperti BNPB, BPBD, dan BMKG,” pungkas Abdul Muhari. [man]
