Prof. Triyo dengan ibu kandungnya saat Lebaran. Foto: Istimewa
TRANSINDONESIA.co | Oleh: Triyo Supriyatno (Guru Besar UIN Maliki Malang)
Lebaran selalu menjadi perayaan yang penuh makna bagi banyak keluarga, termasuk bagi Bu Rahayu, seorang ibu yang sepanjang hidupnya merayakan Idul Fitri dengan suka cita meski waktu terus mengubah dinamika kehidupannya.
Baginya, Lebaran adalah tentang berkumpul, berbagi, dan mengenang setiap fase kehidupan yang telah ia lalui, dari masa muda hingga usia senja.
Lebaran di Masa Muda: Antara Kota dan Kampung
Sebagai anak pertama dari tujuh bersaudara, Bu Rahayu tumbuh dengan tradisi yang kuat. Setiap Lebaran, ia dan keluarganya di kampung akan menyambut saudara-saudara mereka yang merantau ke kota.
Rumah besar di desa selalu penuh dengan gelak tawa, aroma ketupat, opor ayam, dan suara anak-anak yang berlarian di halaman.
Ketika Bu Rahayu beranjak dewasa dan menikah, ia harus ikut suaminya pindah ke Jakarta. Ini menjadi titik awal perbedaan dalam cara ia merayakan Lebaran.
Awalnya, ia dan suami selalu pulang kampung setiap tahun. Namun, seiring bertambahnya usia dan anak-anak yang mulai bersekolah, tradisi mudik menjadi semakin sulit.
Ia harus menerima kenyataan bahwa tak setiap tahun bisa pulang dan merasakan hangatnya suasana desa.
Lebaran di Kota: Membangun Tradisi Sendiri
Di ibu kota, Bu Rahayu berusaha membangun tradisi Lebarannya sendiri. Ia memasak hidangan khas kampungnya agar tetap bisa merasakan kehangatan suasana desa.
Ia mengajari anak-anaknya untuk tetap menjaga silaturahmi, meski hanya lewat telepon atau surat.
Lebaran di Jakarta terasa berbeda—lebih sepi, lebih modern, tetapi tetap istimewa karena ia bersama keluarganya.
Tahun demi tahun berlalu, anak-anaknya tumbuh dewasa, berkeluarga, dan memiliki kehidupan masing-masing.
Kini, giliran mereka yang harus membagi waktu antara mertua dan orang tua.
Bu Rahayu mulai merasakan apa yang dulu dirasakan ibunya di kampung—kerinduan akan anak-anak yang tak selalu bisa pulang.
Hari Tua dan Lebaran yang Berbeda
Di usia senja, Bu Rahayu tinggal sendiri di rumah yang dulunya penuh canda tawa.
Setiap menjelang Lebaran, ia sibuk membersihkan rumah dan memasak seperti biasa, meskipun tahu tak semua anak-anaknya bisa hadir.
Teknologi sedikit mengobati rindunya—video call dengan cucu-cucu menjadi momen yang ia nantikan.
Namun, ada sesuatu yang tetap hilang: kehangatan fisik dari pelukan dan kebersamaan di meja makan.
Kadang-kadang, satu atau dua anaknya tetap datang, membawa oleh-oleh dan cerita dari kota yang berbeda aromanya.
Tapi ia tahu, tak ada yang bisa menggantikan suasana masa lalu. Teman-temannya di kampung pun satu per satu telah tiada, membuat kampung halamannya semakin terasa asing.
Namun, Bu Rahayu tetap menjalani Lebaran dengan hati lapang. Baginya, Idul Fitri bukan sekadar pertemuan fisik, tapi juga tentang doa dan cinta yang tetap mengalir, meski jarak memisahkan.
Ia percaya, setiap kali anak-anaknya berdoa untuknya, itulah bentuk silaturahmi yang tak akan pernah terputus.
Lebaran dan Makna Sejati
Di suatu Lebaran, saat ia duduk di beranda rumah sambil menyeruput teh hangat, seorang tetangga mendekatinya dan bertanya, “Bu Rahayu, apa yang paling Ibu rindukan dari Lebaran?”
Ia tersenyum lembut dan menjawab, “Rindu itu tak pernah usai. Tapi Lebaran mengajarkan kita untuk selalu bersyukur, meski keadaan berubah. Yang terpenting bukan siapa yang datang, tapi siapa yang selalu kita doakan.”
Setiap tahun, Lebaran Fitri atau Lebaran Qurban, seorang ibu selalu merindukan putra-putrinya untuk simpuh di hadapannya untuk mendapat seuntai doanya untuk membangun atau memperbaiki masa depannya.
Doa seorang ibu tak pernah luput dari catatan malaikat-Nya.
Kisah Bu Rahayu adalah kisah banyak orang tua di luar sana—mereka yang dulu menjadi pusat pertemuan keluarga, kini menjadi tempat kenangan.
Namun, seperti Bu Rahayu, mereka tetap menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana: pesan singkat dari anak, suara cucu di telepon, atau sekadar doa yang dipanjatkan dalam sunyi.
Karena pada akhirnya, Lebaran bukan hanya tentang berkumpul, tapi juga tentang merawat cinta yang tak lekang oleh waktu.*






