
TRANSINDONESIA.co | Oleh: Drs. Muhammad Bardansyah Ch,Cht. (Pengamat Ekonomi)
When we hear of a major disaster occurring in a country, we should pray for them, even if it’s a country we dislike.
The devastation of one nation will have repercussions not only for the country experiencing the disaster, but the consequences will also negatively impact other nations as a domino effect.
So, let us show sympathy, offer help if possible, or at the very least, pray for the disaster to come to an end so that we can halt the impending domino effect. –Bardansyah-
Ketika kita mendengar terjadi satu musibah besar pada sebuah negara, maka doakanlah, walau itu adalah negara yang kita benci.
Karena kehancuran besar pada sebuah negara akan menimbulkan dampak yang tidak hanya pada negara yang mengalami musibah, akan tetapi akibat yang timbul dari musibah tersebut juga akan berakibat buruk pada negara-nagara yang lain sebagai efek domino;
“jadi bersimpati lah, bantu jika mungkin atau setidaknya doakan agar musibah segera berakhir sehingga menghentikan efek domino yang akan terjadi” -Bardansyah-
Kebakaran hutan yang saat ini sedang melanda Amerika serikat tentu mengkhawatirkan banyak fihak, bagaimana tidak, sejauh ini kerugian yang terbentuk akibat bencana Nasional Amerika Serikat ini sudah menuju ke 4000 trilyun, bahkan bisa lebih, mengingat api belum bisa di padamkan secara tuntas oleh pemerintah Amerika Serikat.
Angka ini tentu mengkhawatirkan dunia karena di samping biaya yang timbul akibat kebakaran hutan yang sedang terjadi, sudah menjadi rahasia umum bahwa Amerika juga mengeluarkan ongkos yang sangat besar sebagai biaya akibat kebijakan politiknya.
Lantas apa yang di takutkan dunia? Amerika bakal bangkrut!
Amerika Serikat, sebagai salah satu kekuatan ekonomi utama dunia, saat ini menghadapi tantangan yang semakin besar terkait dengan keuangan nasionalnya.
Dengan kondisi defisit yang terus berlanjut—di mana pengeluaran negara jauh lebih besar daripada pemasukan—situasi ini menciptakan kekhawatiran akan kemungkinan kebangkrutan yang bisa terjadi di masa depan.
Salah satu indikator yang mencolok adalah pendapatan yang diperoleh dari pajak, pendapatan ekspor maupun lainnya, yang tidak mampu menutupi pengeluaran untuk berbagai program penting.
Biaya untuk program seperti Social Security, food stamps, medicaid, dan military paychecks dan lain-lain terus meningkat, sementara pendapatan yang masuk tidak sebanding.
Ini menyebabkan defisit anggaran yang semakin melebar, dan utang nasional Amerika Serikat kini telah mencapai angka yang mencengangkan, yakni sekitar 38 triliun dollar (kalau di rupiahkan berapa ya jumlah nolnya?)
Kondisi ini berpotensi membawa konsekuensi serius, di mana negara tidak dapat memenuhi kewajiban utangnya, dan ini bisa berujung pada skenario kebangkrutan.
Jika hal ini terjadi, pasar saham kemungkinan akan mengalami kejatuhan drastis, diikuti oleh hilangnya jutaan pekerjaan di berbagai sektor. Bank-bank akan menghadapi krisis likuiditas, yang dapat memperburuk kondisi ekonomi domestik.
Lebih jauh lagi, kontribusi Amerika terhadap Produk Domestik Bruto (GDP) dunia, yang mencapai 30%, menjadikannya sebagai pendorong utama di pasar global. Kebangkrutan Amerika Serikat tidak hanya akan berdampak pada ekonomi domestiknya, tetapi juga akan melahirkan gelombang dampak yang luas ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Apa dampak yang kemungkinan terjadi akibat bangkrutnya salah satu negara superpower ini.
Dampak Global
1. Krisis Ekonomi Global
Amerika Serikat memiliki ekonomi terbesar di dunia dan berkontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (GDP) global (sekitar 30%).
Kebangkrutan AS dapat menyebabkan ketidakpastian di pasar global, memicu resesi di banyak negara lain, dan meningkatkan risiko kebangkrutan di negara-negara yang bergantung pada perdagangan dan investasi dengan AS.
2. Kejatuhan Pasar Saham
Kebangkrutan dapat menyebabkan kejatuhan terburuk di pasar saham, menciptakan panik di kalangan investor. Ini dapat menciptakan efek domino yang mempengaruhi pasar keuangan di seluruh dunia.
3. Krisis Likuiditas
Dengan kebangkrutan, AS mungkin tidak dapat memenuhi kewajiban utangnya, yang dapat mengganggu sistem keuangan global dan menciptakan krisis likuiditas. Bank-bank dan lembaga keuangan di seluruh dunia yang memiliki paparan terhadap utang AS akan terpengaruh.
4. Penguatan Mata Uang Lain
Ketidakpastian mengenai dolar AS dapat menyebabkan investor mencari aset yang lebih aman, seperti emas atau mata uang lain, mengubah dinamika kekuatan mata uang di tingkat global.
5. Perubahan Dalam Ketahanan Global
Kebangkrutan AS dapat memperkuat posisi negara-negara seperti Tiongkok dan Uni Eropa sebagai kekuatan ekonomi utama, yang mungkin akan mendorong pembentukan blok ekonomi baru dan mengubah lanskap geopolitik.
Dampak Terhadap Indonesia
1. Penurunan Ekspor
Indonesia mungkin mengalami penurunan signifikan dalam ekspor ke Amerika Serikat, yang dapat mempengaruhi sektor-sektor utama seperti komoditas, tekstil, dan produk-produk konsumen. Ini bisa berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
2. Hilangnya Investasi Asing
Kebangkrutan AS dapat membuat investor asing, termasuk perusahaan-perusahaan AS, menjadi lebih berhati-hati dalam berinvestasi di luar negeri. Hal ini bisa memperlambat arus investasi asing langsung ke Indonesia.
3. Peningkatan Pengangguran
Dengan penurunan ekspor dan investasi, perusahaan-perusahaan di Indonesia mungkin terpaksa mengurangi tenaga kerja, meningkatkan angka pengangguran di Indonesia.
4. Krisis Keuangan Local
Jika bank-bank di Indonesia memiliki eksposur signifikan terhadap utang AS atau memiliki hubungan yang erat dengan lawan dagang di AS, mereka bisa mengalami krisis likuiditas yang berdampak pada perekonomian lokal.
5. Inflasi dan Kenaikan Harga Pangan
Kebangkitan inflasi global akibat resesi dapat mempengaruhi harga pangan dan barang-barang kebutuhan sehari-hari, yang berdampak pada daya beli masyarakat Indonesia.
Sebagai catatan, bagi Indonesia, dampak dari kebangkrutan ini bisa sangat signifikan. Ekspor Indonesia ke Amerika mungkin akan menurun drastis, yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, aliran investasi asing dapat melambat, menyebabkan stagnasi dalam proyek-proyek pembangunan yang sedang berjalan.
Untuk menghadapi potensi krisis ini, perlu ada solusi jangka panjang. Langkah-langkah seperti reformasi fiskal, pengurangan pengeluaran yang tidak mendesak, serta peningkatan pendapatan melalui tarif pajak yang lebih progresif dapat membantu memperbaiki kondisi keuangan negara.
Selain itu, diversifikasi ekonomi dan peningkatan kerjasama internasional juga menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada pasar Amerika.
Dalam menghadapi situasi ini, penting bagi Indonesia dan negara-negara lain untuk bersiap dan mengadaptasi strategi guna meminimalkan dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh krisis yang melanda Amerika Serikat.
Dengan langkah yang tepat, Indonesia dapat mengurangi kerentanan ekonominya dan memastikan pertumbuhan berkelanjutan di masa depan.
Apakah masuknya Indonesia ke BRICS dapat merupakan antisipasi Indonesia secara dini setelah melihat potensi kebangkrutan Amerika?
Masuknya Indonesia ke BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) dapat dianggap sebagai langkah strategis yang berpotensi menjadi salah satu solusi jika terjadi krisis dunia akibat kebangkrutan Amerika Serikat.
Berikut adalah beberapa alasan mengapa keanggotaan Indonesia di BRICS dapat menjadi harapan solusi di tengah krisis global:
1. Diversifikasi Ekonomi
Dengan bergabung dalam BRICS, Indonesia dapat memperluas akses ke pasar baru dan mengurangi ketergantungan pada ekonomi Amerika Serikat. Ini dapat membantu menstabilkan perekonomian Indonesia jika terjadi resesi global.
2. Kerjasama Multilateral
BRICS menyediakan platform untuk negara-negara anggota untuk berkolaborasi dalam isu-isu ekonomi, perdagangan, dan investasi. Kerjasama ini dapat menciptakan peluang baru untuk pertumbuhan, perdagangan, dan aliansi strategis yang lebih kuat.
3. Akses ke Sumber Daya dan Teknologi
Negara-negara BRICS memiliki potensi ekonomi yang besar dan beragam sumber daya. Kolaborasi dalam bidang teknologi dan sumber daya alam dapat membantu Indonesia mengembangkan industri dan meningkatkan daya saingnya.
4. Alternatif dalam Pembiayaan
BRICS juga telah mendirikan bank pembangunan seperti New Development Bank (NDB), yang dapat menyediakan pembiayaan alternatif untuk proyek infrastruktur dan pembangunan. Ini dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada lembaga keuangan Barat dan meningkatkan kemandirian.
5. Stabilitas Geopolitik
Sebagai anggota BRICS, Indonesia bisa lebih terlibat dalam percakapan geopolitik yang lebih luas, yang dapat mempengaruhi kebijakan global dan menciptakan stabilitas yang diperlukan di tengah ketegangan internasional yang mungkin muncul akibat krisis di Amerika.
6. Resiliensi Ekonomi
Keanggotaan dalam kelompok negara yang relatif lebih beragam dapat meningkatkan ketahanan Indonesia terhadap guncangan ekonomi global. Ini dapat menyediakan dukungan strategis dan solidaritas di saat-saat sulit.
Dengan semua peluang yang ditawarkan, keanggotaan Indonesia di BRICS dapat menjadi harapan bagi solusi ketika menghadapi kemungkinan krisis global akibat kebangkrutan Amerika Serikat.
Namun, penting juga bagi Indonesia untuk terus memperkuat fondasi ekonomi domestiknya, mengedepankan reformasi, dan beradaptasi dengan dinamika global guna mengoptimalkan manfaat dari keanggotaan tersebut.
Referensi Buku
1. “Debt and Unemployment in the U.S.: A New Approach to Monetary Policy” oleh Richard Koo
– Penerbit: Wiley, tahun 2018.
2. “The Last Great American House: The Story of America’s Most Popular Home” oleh William R. Nester
– Penerbit: Routledge, tahun 2016.
3. “The New Economic Diplomacy: Smart Power in Action” oleh Bridget L. Coggins dan Michael D. Intriligator
– Penerbit: Palgrave Macmillan, tahun 2014.
Jurnal
1. “U.S. Fiscal Policy and Its Effects on Economic Growth”* dalam The Journal of Economic Perspectives
– Vol. 36, No. 2, April 2022.
2. “The Impact of Government Debt on Economic Growth” dalam The Journal of International Money and Finance
– Vol. 62, Agustus 2016.
3. “BRICS and the Global Economy: Implications for Emerging Markets” dalam Emerging Markets Review
– Vol. 25, Februari 2015.
Artikel
1. “The U.S. National Debt: A Primer” oleh Center on Budget and Policy Priorities
– Terbit: April 2021.
– Tautan: [CBPP](https://www.cbpp.org/research/federal-budget/the-u-s-national-debt-a-primer)
2. “The Economic Consequences of the U.S. National Debt” dalam Harvard Business Review
– Terbit: Mei 2019.
– Tautan: [HBR](https://hbr.org/2019/05/the-economic-consequences-of-the-u-s-national-debt)
3. “Indonesia Joins BRICS: What Does It Mean?” dalam The Diplomat
– Terbit: September 2023.
– Tautan: [The Diplomat] (https://thediplomat.com/2023/09/indonesia-joins-brics-what-does-it-mean/)
Laporan dan Sumber Resmi
1. Laporan dari Congressional Budget Office (CBO):
– Laporan Anggaran dan Proyeksi Ekonomi, terbit: Juli 2023.
– Tautan: [CBO](https://www.cbo.gov)
2. Laporan dari Office of Management and Budget (OMB):
– Laporan Anggaran Presiden, terbit: Maret 2023.
– Tautan: [OMB](https://www.whitehouse.gov/omb/). **






