Penampakan tempat pengungsian warga di Kongo. (Foto: Istimewa)
TRANSINDONESIA.co | Serangan bom di dua tempat pengungsian di Kongo, membuat 12 orang tewas di antaranya yang meninggal adalah anak-anak. Dampak dari serangan bom itu, juga membuat 20 orang lainnya mengalami luka-luka.
Juru bicara PBB, Jean Jonas Yaovi Tossa mengatakan, kejadian nahas itu terjadi di Lac Vert dan Mugunga. Kedua tempat pengungsian itu dekat kota Goma.
“Serangan tersebut merupakan pelanggaran mencolok terhadap hak asasi manusia dan hukum kemanusiaan internasional, serta merupakan kejahatan perang,” kata Jean dalam pernyataan resmi PBB seperti dikutip laman The Guardian, Minggu (5/5/2024).
Sementara, juru bicara militer Kongo, Letkol Ndjike Kaiko menyalahkan pemboman tersebut pada kelompok pemberontak M23. Kelompok pemberontak itu, diduga terkait dengan negara tetangganya, Rwanda.
Di satu sisi, kelompok M23 membantah tudingan militer Kongo. Kelompok M23 menegaskan, tidak terlibat dalam serangan tersebut dan justru menyalahkan pasukan Kongo.
Kemudian, Presiden Kongo, Felix Tshisekedi mendadak memilih pulang, ketika melakukan perjalanan di Eropa. Presiden Kongo juga meyakini, Rwanda mengganggu stabilitas Kongo dengan mendukung pemberontak M23.
Seperti diketahui, konflik yang berlangsung puluhan tahun di Kongo bagian timur telah menghasilkan salah satu krisis kemanusiaan terburuk dunia. Dengan lebih dari 100 kelompok bersenjata bertempur di wilayah tersebut.
Sebagian besar dari mereka berusaha memperebutkan tanah dan menguasai tambang yang mengandung mineral berharga. Sementara beberapa orang lainnya berjuang untuk mencoba melindungi komunitas mereka. [rri/sda]





