Kenangan penulisan dengan Pak Djoko Pekik. [Transindonesia.co /cdl]
TRANSINDONESIA.co | Pelukis Djoko Pekik yang aku kenal karyanya sejak SD. Saya melihat dan merasakan totalitasnya dalam berkarya membuat model rakyat kebanyakan atau kritik sosial seringkali menjadi modelnya. Lagi lagi saya kalah dengan keroyokan teman teman SD saya yang mengatakan kalau hanya disukai teman temanya saja.
Pengalaman memahami karya seni atau sesuatu yang menjadi passion sang seniman dalam berkarya atau menciptakan karya tidaklah mudah apalagi lingkungan dan politik mengharamkannya.
Totalitas pak Djoko Pekik menurut saya mampu ditunjukan kepada publik dan dunia seni rupa melalui karyanya yang berjudul “Berburu Celeng”.
Serial Celeng dengan gamblang dijelaskan oleh Romo Sindhunata alam berbagai tulisannya salah satunya dalam buku : “tak enteni keplokmu : tanpa telegram dan bunga duka”.
Kalimat kalimat yang teratur bagaimana menjelaskan tentang percelengan karya Djoko Pekik dapat dipahami bagaimana sang pelukisnya mampu melebur atau manjing ajur ajer antara pikiran perasaan keinginan hingga kengerian menghadapi celeng.
Karya pak Djoko Pekik merefleksikan kekuatan pembelaannya kepada kaum yang termarjinalkan. Warna warna tanah tanpa beban dituangkannya dalam kanvas untuk melepas beban raga menjadi ungkapan jiwa.
Karya karya pak Djoko Pekik yang menancap di memori saya : Tuan tanah kawin muda, berburu celeng, susu raja celeng, tanpa telegram dan bunga duka, tak enteni keplokmu, penari penari ledek/ sintren, penjual janan, petruk mantu, sirkus demokrasi.
Walaupun pak Djoko Pekik sudah dalam usia senja namun tak sungkan bergaul dan berdialog degan seniman seniman muda. Bahkan tatkala menghadiri pameran pun di dapuk untuk menyanyi pun beliau berkenan tanpa rasa ragu atau merasa dibuli anak anak muda.
Kemampuan meleburkan antara jiwa raga pikiran dan mewujudkannya dalam suatu karya menginspirasi kita semua. Kekuatan seni pak Djoko Pekik teruji dalam konsistensi ketabahan kegigihan dan tahan banting yang bukan kaleng kaleng tidak karbitan atau produk pasar. Pak Djoko Pekik gigih dalam berkarya yang menganalogikan dirinya sebagai kuda balap yang akan rusak tatkala untuk menjadi kuda andong.
Pak Djoko pekik mampu menjadi ikon dan dijadikan panutan. Pelajaran hidup, menemui dan menghayati seni dalam berkesenian menjadi suatu kenyataan pahit getir sudah dijalani hingga mampu menemukan jati dirinya.
Pak Djoko Pekik bukan pengekor atau pemfotocopy melainkan dengan segenap jiwa raga memerdekakan diri menunjukan nyalinya berkesenian sebagai kuda balap.
Pak Djoko Pekik mewariskan nilai nilai dan karya bagi dunia seni rupa. Layak menjadi bintang karena tahan banting (cuilan puisi Joko Pinurbo dlm kamus kecil). Kegigihannya menemukan lakunya dlm berkesenian dan menunjukkan bahwa prinsip prinsipnya itu sarat makna dan menjadi simbol bagi suatu peradaban. Kehidupannya pun tragis demi membela passionnya di dalam berkarya.
Tan malaka mengatakan : teriakkan ku akan lebih lantang dari dalam kubur di bandingkan pada saat saya masih hidup. Semoga perjuangan pak Djoko Pekik terus hidup tumbuh dan berkembang. Semoga!
Chrysnanda Dwilaksana
Rip Pelukis Djoko Pekik 120823







