Banjir Bogor dan Mamuju Berangsur Surut

TRANSINDONESIA.co | Banjir sempat menggenangi sejumlah desa di tiga kecamatan pada Senin sore (20/12), pukul 16.36 WIB. Sehari kemudian genangan telah terpantau surut di wilayah terdampak. Warga pun kemudian membersihkan material sampah dan lumpur di rumah masing-masing.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menginformasikan kejadian ini terjadi setelah hujan dengan intenstias deras dan berdurasi lama mengguyur wilayah Kabupaten Bogor. Kondisi tersebut menyebabkan debit air Sungai Ci Lutung meluap. Kali ini merupakan anak Sungai Cidurian. Sedangkan empat desa terdampak tersebar di tiga kecamatan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Desa terdampak dengan tinggi muka air sekitar 20 – 40 cm yaitu Desa Kalong Sawah dan Jugala Jaya di Kecamatan Jasinga, Desa CIbatok di Cibungbulang dan Desa Cijayanti di Babakan Madang. Sebanyak 172 KK atau 350 jiwa terdampak kejadian ini. Namun demikian, BPBD setempat melaporkan tidak ada warga mengungsi, sedangkan rumah warga terendam sebanyak 167 unit masjid 1 unit,” kata Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D, dalam keterangan tertulisnya diterima redaksi, Rabu (22/12/2021).

Prakiraan cuaca di tiga kecamatan ini terpantau berawan-hujan ringan-sedang hingga hujan petir dalam dua hari ini. Warga diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan. Di samping itu, pemerintah daerah dan warga juga meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi puncak musim hujan.

Pada analisis inaRISK, sebanyak 37 kecamatan di Kabupaten Bogor memiliki potensi bahaya banjir dengan kategori sedang hingga tinggi, termasuk tiga kecamatan yang terdampak banjir pada Senin lalu itu.

Banjir Mamuju Surut

Muhari juga menjelaskan banjir yang melanda Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, pekan lalu merendam Desa Toabo, Kecamatan Papalang, setelah hujan berintensitas tinggi terjadi sudah surut pada Senin sore (20/12).

Sebanyak 327 KK atau 951 jiwa terdampak banjir ini. Pihak BPBD Kabupaten Mamuju masih melakukan pendataan pada Senin lalu dan belum ada pemutakhiran hingga pagi ini. Berdasarkan laporan BPBD, tidak ada warga mengungsi maupun korban jiwa akibat peristiwa tersebut.

“Saat banjir terjadi BPBD yang dibantu personel TNI, Polri, relawan dan masyarakat bersiaga apabila membutuhkan proses evakuasi warga. Selanjutnya BPBD berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan desa untuk upaya kesiapsiagaan di wilayahnya,” kata Muhari.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk waspada dan siap siaga dalam memasuki puncak musim hujan pada Januari 2021 hingga Februari 2022. Masyarakat dapat mengakses inaRISK untuk mengetahui potensi bahaya, khususnya bahaya hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor dan cuaca ekstrem di wilayah, mengakses info BMKG untuk melihat prakiraan cuaca hingga tingkat kecamatan atau kanal informasi resmi pemerintah lainnya.[ami]

Share
Leave a comment