
“Dari yang baik ingin dianggap orang baik, supaya orang membalas budi”
TRANSINDONESIA.CO – Kalau kita tidak dengki, dan mau memaafkan orang orang yang menyakiti kita, maka hati kita pun menjadi bening dan nyaman. Termasuk saat menulis, karena tulisan itu penuh dengan rasa.
Seperti status-status di media sosial. Meski singkat dan hanya huruf, misalnya, “Maceeeeeeeet,” tapi “e”-nya yang panjang mencerminkan ketidaksabaran. Atau, “Jemuran nggak ada yang cari ig”. Yang begini ekspresi hati yang luar biasa. Untuk apa berbicara begitu di sana? Apa mungkin para pembacanya dianggap pengering?
Nah, saudaraku. Maksudnya begini. Kalau orang yang hati dan pikirannya baik, maka Allah juga pasti amat mencintainya. “Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Baqarah [2]: 195). Tentu saja baiknya merupakan buah dari kebaikan yang asli, lillaahita’ala. Bukan baik dalam tanda kutip.
Sebab, sudah sering dijelaskan bahwa baik dalam tanda kutip itu ada bermacam-macam. Dari yang baik ingin dianggap orang baik, supaya orang membalas budi, sampai berbuat baik untuk menjerat orang lain atau baik yang tidak baik. Misalnya, ada yang suka memberi buah buahan, tas atau ponsel kepada seseorang, agar orang yang diberi itu terjerat dan tidak berkutik di depannya Ini berbuat baik yang buruk
Bagi kita yang mau baik asli, tujuannya harus cuma satu, Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalahuntuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya.” (QS. al-An’am (6): 162). Cukup. Kita berbuat baik karena Allah Yang Mahabaik mencintai kebaikan. Entah kebaikan kita diakui orang lain atau tidak, dihargai atau tidak, bukan urusan kita.
Allah mengetahui dan mengawasi isi hati kita. Ketika niat kita ikhlas, maka Allah memberikan sakinah dan kenyamanan di hati. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra’d [13]: 28). Dan, “Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan dalam hati orang-orang mukmin.” (QS. al-Fath (48): 4)
Nah, orang yang hatinya sudah nyaman, maka perkataannya juga nyaman didengar walaupun sederhana. Orang-orang yang ada di sekitarnya pun ikut nyaman Karena kenyamanan yang membuat orang ingat kepada Allah itu akan menyebar.
Sebagaimana Rasulullah saw, orang-orang yang berada di samping beliau selalu merasa nyaman. Sebab Rasul selalu ingat Allah dan kebaikan beliau asli. Hat beliau bening, beliau nyaman dengan diri beliau sendiri, orang-orang juga ikut merasakannya.
Tentunya, perkataan yang nyaman itu tidak hanya obrolan, tetapi juga tulisan. Kalau hati kita sudah bersih dan nyaman, lillaahita’ala, maka menulis pun akan nyaman. Tapi kalau emosi, tulisannya juga akan ngambek terus. Seperti, “Semuanya ke Neraka Jahannam!!” Dalil yang digunakan memang dalil yang sahih, tapi boleh jadi hatinya harus diperbaiki terlebih dulu.
Sumber : Buku Ikhtiar Meraih Ridha Allah #2 karya Aa Gym
KH. Abdullah Gymnastiar







