
TRANSINDONESIA.CO – Seni saya melihatnya sebagai dialog rasa dengan jiwa untuk memahami menyelami menikmati mengapresiasi memberikan kritik bahkan memberi suatu tafsir. Otoritas di sini dimaksudkan masing masing individu bisa bervariasi berbeda bahkan bertentangan dari satu dengan lainya atau juga dengan sang senimannya.
Kombinasi atas dasar dasar dari suatu seni melalui kata garis makna warna gerak cerita rupa memiliki efek datar hingga tingkat kedalaman. Kemampuan mengolahnya pun memerlukan suatu imajinasi yang berbeda. Cara padang atau pendekatan ini juga akan berpengaruh atas suatu karya.
Seringkali karya dikaitkan dengan selera terutama pada keindahan. Walau tidak selalu demikian. Ide gagasan kecerdasan dan terobosan akan menjadi sesuatu yang dapat dijadikan jembatan berkarya. Pada tataran yg masih dapat ditangkap indera secara nyata akan lebih mudah dipahami walaupun ada makna di baliknya. Seni sarat makna sarat simbol yang disampaikan berbasis dari pengetahuan pengalaman pemahaman dan kebudayaan dari sang seniman.
Keindahan keharmonian akan lebih dominan daripada hal lain. Apapun ceritanya realisme akan lebih dipilih bahkan di kalangan seniman sendiri. Tentu saja realismenya bukan sekedar memotret atau memindahkan ada yang di depan matanya melainkan bisa saja ditambah tambahkan adanya makna atau maksud dari realisme keindahan dan harmoninya.
Pilihan akan makna dari suatu karya menjadi sesuatu yang hakiki atas pemaknaan pemahaman dan apresiasi. Kekuatan akan seni kompleks dan saling terkait terutama pada politik dan tingkat peradaban. Konteks peradaban dalam hal ini dikaitkan dengan manusia dan kemanusiaannya termasuk keteraturan sosial serta penyelesaian konflik sosial yang terjadi. Seni dalam pendekatan dialog dapat menjadi bagian memerdekakan untuk memahami, menyelami kedalaman memberikan kritik hingga apresiasi.**
[Chryshnanda Dwilaksana]







