Presiden Joko Widodo dan Setyanovanto.[IST]
TRANSINDONESIA.CO, JAKARTA – Politisi Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia Tanjung, mengatakan, setidaknya dua kali Ketua Dewan Pembina DPP Golkar Aburizal Bakrie (ARB) membantah bahwa Golkar berkeinginan mencalonkan Setyanovanto sebagai cawapresnya Joko Widodo untuk Pemilu 2019,
“Maka dengan pernyataan ARB di dalam Rapimnas kemarin, keinginan tersebut mendapatkan angin segar kembali,” kata Doli dalam siaran persnya, Kamis 25 Mei 2017.
Dimana sebelumnya dua kali pencalonan Setyanovanto sebagai cawapres oleh AMPG yang Ketua Umumnya Fahd Arafiq adalah orang dekatnya Setyanovanto, terkesan “malu-malu” karena setelah itu selalu dibantah.
Namun pasca Rapimnas kemarin, akhirnya keinginan itu tidak terbantahkan dan tidak bisa ditutup-tutupi lagi.

Dengan tiba-tiba mendahului pencalonan Jokowi sebagai Capres 2019 saja lanjut Doli, telah membuat PDIP, Nasdem, PKB, dan Hanura gerah, apalagi kemudian ada keinginan dipaketkan pula sekaligus juga dengan Cawapresnya yang berasal dari Golkar.
“Bagi Partai Golkar, seperti yang disampaikan beberapa kali sebelumnya, hal ini merupakan strategi untuk meningkatkan elektabilitas, “mendompleng” popularitas dan elektabilitas pak Jokowi,” terangnya.
Secara politik kata Doli, hal itu sah-sah saja, apalagi saat ini Golkar sedang ditimpa banyak masalah terkait isu korupsi.
“Terkait soal siapa cawapresnya, saya berpendapat bila Setyanovanto berhasil “lolos lagi” dari jeratan isu korupsi e-KTP kali ini, maka yang paling tepat untuk mendampingi pak Jokowi sebagai pasangan Capres-Cawapres di 2019 adalah Setyanovanto,” katanya.
Alasannya kata Doli, pertama, Setyanovanto adalah pasti masih Ketua Umum yang merupakan jabatan tertinggi di Partai Golkar.
Kedua, dengan lolosnya Setyanovanto berkali-kali dari jeratan hukum, menunjukkan bahwa dia adalah orang yang sangat kuat, dan bisa lolos karena mampu membangun komunikasi politik yang sangat baik dan kedekatan yang sangat erat dengan pak Jokowi.
Artinya ada chemistry yang nyambung dan kuat antara pak Jokowi dan Setyanovanto.”Tentu chemistry yang kuat sangat diperlukan bagi sebuah pasangan capres-cawapres. Namun tentu itu semua kembali terpulang kepada pak Jokowi sebagai Calon Presiden 2019,” ujarnya.[DOD]







