Ilustrasi
TRANSINDONESIA.CO – Senang, sedih, bagus-jelek, tertawa-menangis, marah-gembira, kaya-miskin pun yang membedakan hanya rasa. Rasa merupakan sesuatu yang absurd namun perasa.
Tidak dapat melihat, mendengar namun bisa merasakan. Rasa sering dikatakan sebagai hati. Kelembutan, kekerasan, kekakuan hingga sesuatu yang kasar merefleksikan hati dikuasai rasa apa.
Tatkala rasa mengeluh,menuntut, iri dengki, dan terus merasa paling maka kecukupan padanya tidak akan pernah terpenuhi. Senantiasa kurang, kurang dan kurang dan tiada habisnya.

Sebaliknya tatkala bisa menemukan rasa cukup maka akan bisa menikmatinya. Ukuran-ukuran materi, duniawi bisa terlihat.
Tatkala rasa menemukan bahagia diwujudkan tanpa syarat ini itu, tanpa tetapi, tanpa keluhan dan tanpa tuntutan. Rasa bahagia tatkala bisa menikmati dan menyatu antara apa yang dikerjakan dengan hatinya.
Ada kenyamanan, ada sesuatu yang membuatnya damai, tenteram. Rasa bisa menyatu (ajur ajer) maka apa yang fisik/jasmani akan mampu menggerakkan dan menjadi bagian dari rohani (rasa).
Demikian halnya kemewahan itupun juga rasa. Gambar seorang tukang becak tertidur pulas di becaknya disandingkan dengan seorang kaya di mobil mewahnya yang terus memikirkan dan menghitung dengan kalkulatornya. Ia nampak tegak, tidak tenang penuh tuntutan mungkin juga ancaman.
Rasa dapat berdampak pada suasana, nyaman, atau penuh kecurigaanpun bisa dihasilkanya. Rasa yang memuaskan akan lebih harmonis.
Sebaliknya rasa yang menyesakkan akan berpotensi konflik. Harga diri yang memicu terjadinya konflik juga dampak dari rasa. Semakin terhanyut dalam rasa-rasa negatif maka konflik akan berkembang, bisa-bisa menjadi anarkis karena tanpa solusi.
Rasa yang positif akan memberikan solusi dan bisa memahami bahkan menikmati.semua memang hanya rasa. Tergantung kita ingin menikmatinya atau diperbudak olehnya.[CDL26092016]
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







